Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Maaf


__ADS_3

Lukman memeluk Laila seusai meleburkan diri, menyatu dengan sang istri. Kali ini terasa lebih istimewa karena rasa capek dan pegal-pegal hilang semua. Semua masalah rasanya tak ada yang mengganjal di hatinya. Saat ini dia merasakan ketenangan yang luar biasa dan rasa kantuk tak lagi bisa ditahannya.


Laila memandang wajah letih Lukman dengan perasaan sayang. Ia tersenyum sambil mengusap garis wajah sang suami yang kini nampak lebih matang. Tapi sekejap kemudian rasa jengkel juga takut menutupi relung kalbunya. Tak pernah menyangka diantara mereka akan ada yang memiliki rahasia.


Ponsel Lukman yang biasanya tergeletak dimana saja kini tak kelihatan ada di mana. Laila menggigit bibirnya menahan rasa ingin tahu yang luar biasa tapi akalnya masih menyuruhnya untuk tetap bermain cantik. Membiarkan semua berjalan seperti biasa sampai suaminya sendiri yang akan berterus terang dan menceritakan semuanya.


Itu bukan perkara mudah, mungkin itu hal tersulit yang harus ia lakukan dalam kehidupannya hingga hari ini. Dia sudah pernah hidup susah. Makan seadanya, bahkan pernah ia makan sayuran yang tumbuh di alam liar tanpa memasaknya karena makanan yang ada hanya cukup untuk Doni saja. Tapi dia melakukannya dengan ikhlas untuk adik tercinta. Berbeda dengan sekarang, ia harus menahan diri agar tak mencari tahu kehidupan suaminya di luar padahal dia sangat-sangat ingin tahu tapi ia harus menahan dirinya sendiri.


Ia segera bergegas mandi, meninggalkan sang suami yang tengah tertidur dengan nyenyak. Malu pada mertuanya karena belum duhur sudah ngamar saja.


"Mana Lukman?" Tanya pak Dirman saat Laila sudah berada di ruang makan.


"Tidur yah. Semalam kayaknya nggak bisa tidur"


"Memang semalam dia kemana kok nggak pulang ke rumah?."


"Iya, ada masalah di sawah yah!" Kata Laila kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Dia kehabisan energi dan butuh asupan gizi.


Terdengar pak Dirman menarik nafas dengan kasar karena kesal pada putranya. Sebagai seorang ayah beliau merasa ada sesuatu yang salah yang sedang terjadi pada keluarga kecil Lukman.


Saat dhuhur barulah Lukman bangun, pergi solat berjamaah dan ketika sampai di rumah ia mendapati si kecil sudah terlelap setelah tadi ikut bepergian dengan bang Alif. Lukman mendekati Labib yang tidur di atas lantai yang dialasi kasur tebal.


"Tadi Labib bilang mau ketemu ayahnya" Pak Dirman duduk di atas sofa di ruang tengah tak jauh dari posisi Labib dan Lukman.


"Kemana saja kamu semalam sampai tak pulang ke rumah? Apa kau punya urusan yang lebih penting dari istri dan anak-anakmu?"


Lukman menelan ludah menyadari kesalahannya, seharusnya tadi malam ia yang menjemput ayah di stasiun tapi ia benar-benar lupa.


"Ada urusan yang mendesak yah" Katanya sambil menelan ludah.

__ADS_1


"Labib dan Latif butuh sosok ayah. Apa urusanmu lebih penting daripada mereka? Apa urusanmu itu tidak bisa diwakilkan pada orang lain? Semalam kau kemana? Kalau kau ada di sawah kenapa Pak Supri dan yang lainnya menelpon kemari subuh tadi? Mereka mengatakan sejak semalam kau tidak terlihat ada disana? Kemana kau sebenarnya?"


"Maaf yah, lumbung padi habis dilahap tikus. Aku harus segera kembali kesana untuk mengurusnya"


"Hentikan semua yang membuatmu melalaikan tugasmu sebagai seorang suami. Apa teguran dari Alloh itu belum cukup untuk mu? Apa kau ingin mendapatkan peringatan yang lebih bear lagi?"


"Astaghfirullahaladzim..." Laila dan Bu Jannah yang sedari tadi diam saja berkata dengan serempak.


"Hati-hati bicaranya pak!" Kata istrinya.


"Yah...!" Laila merasa keberatan dengan ucapan ayah mertuanya meskipun dia juga sakit hati tapi ia tak mau terjadi apa-apa pada suaminya.


Lukman bergegas masuk ke dalam kamarnya setelah mencium kening putranya. Tak ingin berdebat dengan sang ayah karena dia tahu dia salah tapi dia juga belum bisa meninggalkan Septi begitu saja.


Setelah berganti baju Lukman bergegas berpamitan pada istrinya untuk segera kembali bekerja. Laila mengantarkan suaminya dengan berat hati. Sebenarnya tak rela tapi ia tak ingin membebani sang suami.


"Barusan masuk kamar. Nanti aku yang pamitin. Mas tenang saja!" Katanya sambil mengusap lengan Lukman. Ingin rasanya mencegah sang suami agar jangan pergi tapi ia sudah memantapkan hati akan menjadi istri yang menyenangkan dan itulah yang sekarang sedang ia lakukan. Menahan diri dari apa yang ingin dia lakukan.


"Kamu tidak ingin bertanya sesuatu?" Tanya Lukman sedikit takut.


"Tanya apa?" Laila balas bertanya sedang hatinya bergolak sedang berusaha menyiapkan diri jika sang suami berterus terang saat ini. Seburuk apapun yang akan dikatakan ia akan mencoba bersikap tenang.


Tapi Lukman hanya diam saja sambil memeluk istrinya dari belakang. Tak berani memandang mata Laila.


"Maafkan aku..." Bisik nya sangat pelan di atas kepala Laila yang tertutup kerudung.


"Mas nanti aku izin nanti mau keluar. Mau jalan-jalan. Bolehkan?" Tanya Laila mengalihkan pembicaraan.


"Sama siapa?" Tanya Lukman.

__ADS_1


"Belum tahu" Jawab Laila manja.


"Hati-hati ya!" Lukman mencium Laila kemudian memeluknya lama. Laila merasakan keharuan yang luar biasa. Rasanya bahagia bisa berlama-lama dengan suaminya. Berpelukan dan selalu bersama.


"Kamu juga hati-hati sayang....!" Kata Laila sambil melepaskan pelukan. Laila mengusap baju Lukman seperti ada kotoran yang menempel disana padahal tidak ada.


Jaga hatimu dan tindak tandukmu mas! Ingat aku dan anak-anak mu saat hatimu mulai goyah. Batinnya dalam hati dengan memaksakan senyum dari ujung ke ujung.


"Cepat berangkat! Aku menunggumu pulang!" Katanya sambil menatap wajah tampan suaminya yang kini berubah murung.


Lukman pun akhirnya berjalan menuju mobilnya dan saat akan membuka pintu ia melihat ada bang Alif yang sedang berdiri di atas rumahnya dengan menumpukan kedua tangan untuk berpegangan pada pagar teras.


Bang Alif memandang nya dengan tajam seolah ingin mencabik-cabik tubuhnya. Lukman yang tak pernah melihat hal seperti itu dari abangnya menjadi takut sendiri.


Buru-buru ia masuk kedalam mobil agar segera terbebas dari pandangan menakutkan si abang.


Begitu Lukman keluar dari halaman Laila masuk ke dalam kamar ingin menuntaskan tangisan sebelum ia beraktifitas kembali. Menyusun strategi dan menjalankan misi.


"Kita lihat seberapa pintarnya diriku untuk memenangkan pertandingan ini!" Katanya menyemangati diri sendiri.


Ia hendak keluar sendirian menitipkan Labib pada ibu mertua dan melihat hasil kerja para tukang juga pergi ke rumah sakit untuk menengok anaknya bu Siti sekaligus untuk memeriksakan dirinya. Apakah ia benar hamil atau tidak.


.


.


********


Nanti kalau tidak ada aral melintang ada satu bab tambahan lagi di malam hari. Nggak janji tapi.

__ADS_1


__ADS_2