
Menjelang subuh tempat tinggal Laila sudah terlihat ada ruhnya. Lukman masuk ke kamar Laila dan membuka lemari , ia sedang mencari handuk dan baju ganti. Laila yang baru saja terlelap terbangun karena merasakan ada orang lain di dalam kamar nya. Ia pun menoleh dan mendapati Lukman sedang mengamati pakaiannya yang ada di lemari.
"Cari apa ?" kata Layla dengan suara serak khas bangun tidur. Ia mengatakannya dengan mengumpulkan kesadarannya.
Lukman menoleh sebentar, ia melihat Laila sedang memicingkan matanya nya.
, "Handuk sama baju ganti. Aku lupa tidak minta Karina untuk membawakannya"
Tumben ngomongnya lebih dari tiga kata, Laila mengumpulkan nyawanya untuk bangun dan mengambilkan handuk dan kaos pendek miliknya.
Ia mengangsurkannya pada Lukman dengan ragu, muat nggak ya? Ia menatap wajah suaminya itu sekilas wajahnya tidak seperti orang yang baru bangun tidur. Apa semalaman dia tidak tidur? Lukman melenggang begitu saja meninggalkan Laila yang masih ingin diajak berbicara.
Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kalau sebelum menikah dia diperlakukan seperti itu oleh Lukman ia merasa biasa saja tapi sekarang rasanya kesal memenuhi rongga dadanya. Seperti seorang istri yang tak dianggap keberadaannya.
Lukman kemudian keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di bagian bawah tubuhnya. Laila baru saja membuka pintu kamarku dan melihat pemandangan yang membuatnya menelan ludah.
Lalu minta baju tadi untuk apa? Laila menatap Lukman dengan penuh pertanyaan tapi Lukman seolah tak melihat Laila. Pria itu berjalan ke dalam kamar istrinya dan mengambil pakaian dari tas ranselnya. Ia memakai kemeja dan sarung serta kopyah.
Laila terus memperhatikannya tanpa berkata-kata. Lukman menyadari hal itu tapi ia mencoba bersikap datar. Sebenarnya ia ingin sekali mengajak istrinya itu berbicara tapi lidahnya masih kelu.
"Don..... subuh Don....!" Lukman mengetuk pintu adik iparnya
"Ayo ke musolla!"
"Iya bang....bentar...." suara Doni sangat serak pagi ini.
Lukman benar-benar mendiamkan istrinya yang masih berdiam disitu, di depan pintu kamarnya. Laila memperhatikan Lukman dengan seksama.
Benar-benar ya, atau jangan-jangan dia suka doni? Penyuka sesama jenis. Laila tiba-tiba punya pikiran jelek terhadap suaminya sendiri.
Iya benar, dia selalu menyentil kening Doni, kadang malah mengusap rambut di keningnya Doni dulu baru menyentil. Kalau dia tidak tertarik denganku lalu aku harus bagaimana, padahal aku sudah jadi istrinya?
"Nggak nggak........ nggak itu nggak mungkin" Laila menggelengkan kepalanya berkali-kali mencoba tidak mempercayai pikiran buruknya.
"Kamu kenapa kak? ho....am Doni menguap kemudian menggerakkan pinggang nya ke kiri dan kanan
"Nggak papa, ati-ati kamu....!"
"Maksudnya?" Doni berhenti bergerak kemudian menatap kakaknya dengan penasaran.
__ADS_1
"Eh nggak papa..." jawab laila bingung masak nuduh suami sendiri yang bukan-bukan.
"Apa sih.... heran. Baru bangun juga. Kakak jangan tidur lagi habis ini, solat subuh!"
"Iya. bawel!" Laila dan Doni sejak kenal Lukman sudah sering solat meski kadang masih bolong-bolong.
Paginya Doni dan Laila sarapan nasi kotak sisa tadi malam sedangkan Lukman hanya minum kopi kemudian membersihkan dan mengutak atik motornya di halaman.
"Wah kemanten baru sudah sibuk aja...."
"Tadi malam nggak bisa tidur pasti"
Ibu-ibu tetangga itu menggoda Lukman tapi hanya ditanggapi dengan sedikit senyuman saja. Membuat mereka keder sendiri
Doni sudah berangkat ke sekolah dan tinggal Laila dan lukman didalam rumah. Lukman di ruang tamu menikmati kopinya sedang kan Laila sedang mencuci baju mereka.
Setelah selesai mencuci dan mandi Laila memakai seragamnya kemudian berjalan ke ruang tamu. Ia melihat Lukman sedang duduk sambil menatap hapenya.
Lukman merasakan kehadiran istrinya, ia melirik sebentar kemudian berdiri dan memberikan helm pada Laila yang sudah siap untuk berangkat kerja.
Laila memperhatikan pria didepannya dengan tampilan yang berbeda dengan kesehariannya. Hari ini dia memakai kaosnya dan terlihat sangat ketat ditubuh Lukman yang kekar. Rambut yang biasanya terbungkus minyak kini berhamburan dan terlihat lebih manly. Ia bahkan terlihat lebih muda dari usianya.
Saat keduanya sudah duduk diatas motor Lukman menarik kedua tangan Laila agar memeluk perutnya
"Wah pengantin baru..... manisnya.....!" ibu-ibu yang sedang mencari kutu duduk berbaris dari depan ke belakang ada empat orang melihat interaksi keduanya.
"Hati-hati. Pegangan yang kenceng biar nggak jatuh!"
"Jadi pingin balik muda lagi deh,.."
Lukman tersadar dari lamunannya, kemudian mulai menyalakan mesin motornya.
"Mari Bu ibu....!" kata Laila melewati mereka
"Iya hati-hati!"
Di kepala Lukman sudah tecatat agendanya hari ini. Ia mengingatnya lagi. Setelah mengantar Laila dan melihat toko sebentar kemudian pulang ke rumah ayahnya untuk mengambil buku tabungan dan surat-surat yang diperlukan. Untuk mengambil uang cash di bank juga mengambil beberapa pakaian. Ke bank, terus membayar hutang pada rentenir preman kemudian ke sawah lalu menjemput Laila.
Sepanjang jalan Lukman mencoba mengalihkan ingatannya akan wanita yang sedang memeluknya dengan mesra. Bukannya tak suka mendapat perlakuan seperti itu tapi dia ingin menunggu pernikahan resminya baru menjalankan malam pertama.
__ADS_1
Sesampainya di swalayan tempatnya bekerja Laila menunggu suaminya yang sedang memarkirkan motornya di pintu depan.
Saat Lukman datang dan berjalan ke arahnya Laila diam karena terpukau pesona pria galaknya. Kaos yang melekat ditubuhnya yang tegap, celana jins yang membalut kakinya yang panjang sehingga membuat langkah kakinya lebar-lebar. Rambutnya indah bergerak-gerak mengikuti langkah kakinya dan wajahnya terlihat tegas sedikit galak, rahangnya keras dan tatapan matanya tajam seperti elang. Bibir nya gelap dan tebal, alisnya tebal dan hitam. Membuat Laila seakan melihat orang yang berbeda dari Lukman yang biasanya memarahinya. Cowok Melayu yang wow.
Seakan tak sadar Laila berjalan dengan tak sabar ke arah suaminya dan menautkan tangannya di lengan Lukman. Ia tak ingin ada wanita lain yang melihat keindahan ciptaan Tuhan disampingnya. Ia hanya untuk ku seorang, batin Laila.
Lukman menengadahkan tangannya dan Laila menyambutnya dengan memberikan tangan kirinya.
"hape" kata Lukman bermaksud meminta hape istrinya
"ooh...."Laila menarik tangannya sedikit malu karena sudah salah menebak. Ia pun memberikan hapenya pada Lukman.
Lukman kemudian mengetik nomernya dan memencet tombol dial. Keningnya berkerut dan bibirnya berkedut. Ia ingin sekali tersenyum tapi gengsi. Nomernya ternyata sudah ada di hape Laila dengan nama mas L. Ia mengembalikan hape Laila dengan raut muka yang biasa, datar saja tapi hatinya berbunga-bunga
"Telpon kalau sudah mau pulang!" kata Lukman saat Laila sudah mau masuk ke area khusus karyawan.
"Pacar baru ya? cakep bener....?"
"eh iya loh.... manly banget cuy...."
"Duh .,.... dari belakang aja ganteng...."
"Pacar kamu keren la..,"
Laila senyum-senyum saja mendengar tanggapan teman-temannya. Ia belum berani mengatakan bahwa pria itu adalah suaminya. Bagaimana kalau dituduh yang bukan-bukan, misalnya dikira sudah hamil duluan. Toh sebentar lagi kan nikah secara resmi lalu resepsi jadi mereka akan tahu sendiri
.
Sampai didepan cafe Lukman melihat mobil Jeep milik para preman kemarin dan disebelahnya ada mobil Pajero. salah seorang dari anggota geng itu mengarahkan Lukman untuk masuk ke dalam mobil Pajero dan Lukman pun mengikutinya. Ternyata mereka membawa lebih banyak orang daripada yang Lukman kira. Meski ia bisa beladiri tetapi hatinya ketar ketir juga jika jumlahnya sedemikian banyaknya. mulutnya terkatup rapat tetapi hatinya terus berdo'a dan membaca sholawat.
Didalam mobil itu ada si ketua dan dua orang anak buahnya. Ia sedang menghisap rokok dan menghembuskan nafasnya yang penuh asap ke muka Lukman saat ia akan duduk
"uhuk uhuk" Lukman mengipaskan tangannya di depan mukanya. Kemudian dia duduk dengan tenang meski hatinya sedikit tegang. Di luar mobil tampak anak buah si ketua dengan tampang sangar-sangar dan Lukman mencoba menenangkan hatinya.
Lukman mengeluarkan sebungkus rokok yang sudah berkurang isinya dan korek berwarna abu-abu di dashboard. Si ketua mengerutkan keningnya heran kemudian menatap Lukman.
Lukman yang melihat tatapan yang mengandung pertanyaan itu kemudian berkata, "Aku minta maaf karena kemarin hatiku sangat galau lalu aku menghisap rokok milikmu tanpa sadar. Tolong dimaafkan dan diikhlaskan"
Lukman kemudian mengambil rokok dengan merk yang sama tapi masih dalam keadaan tersegel dan ditaruh nya disamping rokok yang pertama," Tolong dimaafkan agar hal ini tak membebaniku di akhirat kelak!"
__ADS_1
Si ketua nampak bengong mendengarkan penjelasan Lukman