Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Sadar lu


__ADS_3

Rina melihat kakak iparnya sedang mengintai di balik jendela. Ia pun penasaran apa yang sedang dilihat oleh kakak iparnya itu hingga Ia pun ikut menjulurkan kepalanya untuk melihat ke dalam.


Betapa terkejutnya Rina saat melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana. Septi sedang menggenggam jemari Lukman. Wajahnya condong ke depan dengan gerakan slow motion ia terlihat mendekatkan wajahnya pada Lukman yang kini malah memejamkan mata dengan erat.


"BRAKKKKKK!!!"


Rina membuka pintu dan membantingnya dengan keras.


"Apa yang kalian lakukan?!!!" Sorot mata Rina menyambar-nyambar penuh kebencian.


"M mmm ma-ma-madam...!" Septi langsung berdiri tegak dan melepaskan tangan Lukman.


"L-l-l-l-l-ll. ......la!!!!" Lukman berusaha sekuat tenaga memanggil istrinya yang kini berdiri di ambang pintu. Terlihat ragu apakah ia akan masuk atau hanya menjadi penonton saja. Tak bisa disangkal hatinya seperti diobrak-abrik angin ****** beliung yang sangat kencang saat melihat sang suami malah memejamkan mata saat Septi mendekatkan wajahnya. Ia berasumsi kalau suaminya tidak menolak apa yang dilakukan wanita saingannya itu.


"L-l-l-l-l-ll lllaaaaa!!!!" Lukman kembali mengeluarkan energinya dengan susah payah. Kali ini otot-ototnya di rahangnya nampak mengeras karena ia berusaha agar suara yang bisa keluar dari pita sebuah teriakan.

__ADS_1


Laila hanya memandang Lukman karena ia cemburu dengan apa yang tadi dilihatnya. Tak disangka Lukman bisa mengangkat tangannya dengan mata terpaku pada wajah cantik sang istri yang tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya itu.


Laila bergegas mendekati suaminya dan melihat tangan yang tadi diangkatnya. Meski tidak begitu tinggi dan cuma sebentar saja semua orang bisa melihat kalau Lukman bisa menggerakkan tangannya.


"Alhamdulillaaahh...angkat lagi bang!" Kata Laila excited. Menguap sudah rasa cemburu dan marahnya karena melihat suaminya menunjukkan kemajuan pesat.


Lukman tak merespon ucapan Laila tapi sorot matanya menatap tajam pada istrinya.


"Keluar.,!!!" Bentak Rina pada Septi.


"A-abang...!" Laila memandang Lukman tanpa rasa takut meski ia tahu kalau suaminya saat ini sedang marah tapi ia bersyukur tangan milik sudah bisa digerakkan.


"Mmmmmmmmannnnnndiiiiiiiii....!!!!" Lukman terengah-engah setelah berhasil mengeluarkan suaranya dengan bibir yang miring ke sisi kanan seperti orang yang terkena stroke ringan.


"Mandi? Sekarang?" Laila menautkan kedua alisnya merasa heran dengan permintaan suaminya.

__ADS_1


Lukman memejamkan matanya untuk memberi isyarat 'iya'.


"Lllllllllaaaaaa.......!" Kini suaranya terdengar manja sampai Rina mengerjap dengan ujung bibir yang tertarik sebelah.


"Diseka saja ya...?" Laila mencoba menawar karena keadaannya yang belum memungkinkan.


"Mandiiiiiiiiiiii....!!!!!!!!! Ia berteriak lebih keras lagi sampai nafasnya ngos-ngosan seperti habis lomba lari.


" Iya iya iya.... ayo kita mandi!!" Laila seperti sedang menghadapi Labib yang sedang merajuk, harus dibujuk agar tidak semakin menjadi.


Melalui ujung matanya Rina mengisyaratkan pada Septi agar segera keluar dari ruangan itu.


"Eh.... ada ya, orang yang nggak bisa apa-apa tapi masih bisa marah-marah pada istrinya. Pake acara ngambek segala. Belum minta maaf sudah bikin ulah... Sekarang malah nyiksa kak Lala kayak gini. Istighfar loo!!" Karina benar-benar diluar kendali.


"Rina!!!" Laila masih saja tak terima kalau adik iparnya itu tidak sopan pada suaminya padahal konteksnya Rina sedang membelanya.

__ADS_1


"Ambilkan kursi roda!!" Laila memberi perintah pada istri pemilik rumah sakit itu tanpa rasa takut. Dia tidak tahu kalau di rumah sakit itu tak ada yang berani pada sosok istri direktur utama. Bahkan pamor Ibrahim pun kalah dari istri kecilnya itu.


__ADS_2