Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Nyonya Zainal


__ADS_3

Zainal melihat jam tangannya saat mereka sampai di parkiran.


"Nda, kalau mau ada meeting aku pergi sendiri aja naik mobil online" Kata Ani melihat wajah suaminya yang sedikit gusar.


Zainal membukakan pintu untuk istrinya dan menjaganya agar kepala Ani tidak terantuk bagian atas pintu mobil.


"Aku antar dulu tapi langsung kutinggal ya Din..... Nggak papa kan?"


"Iya nggak papa"


"Nanti sore aku jemput"


"Hehem" Jawab Ani sambil membelai pipi Zul dengan jari telunjuknya.


"Sebenarnya rapat internal mau membahas event tahun baru nanti tapi nggak enak kalau terus-terusan ditunda karena masalah pribadi. Kayak pimpinannya nggak konsisten dan nggak punya pendirian" Suara maskulin Zainal memenuhi seisi mobil.


"Iya" Ani memandang suaminya yang duduk di belakang kemudi lewat spion tengah.


Laila yang melihat interaksi keduanya selalu merasa kalau Ani dan mantan bos nya itu selalu rukun dan harmonis. Belum pernah sekalipun ia melihat keduanya berselisih paham apalagi bertengkar seperti dirinya dengan Lukman.


"Nda, tadi mama harusnya ikut ya biar nggak sendirian di rumah. Tapi kalau kita pulang dulu nanti kanda telat meetingnya"


"Mama tadi katanya mau ada acara sama ibu-ibu pengajian"


"Oh iya yah. Kemarin mama juga bilang sama aku kalau mau ada acara. Tapi kalau nanti aku pulang malam mama kesepian dong di rumah sendirian" Ani merasa tak enak meninggalkan mertuanya sendirian.


"Banyak orang di rumah. Mama kalau habis ada acara biasanya juga tidur kan. Nggak papa lah sekali-kali ninggalin mama sebentar. Mamanya Zul kan butuh healing juga"


"Makasih nda...... " Ani


tersenyum merekah menadapat curahan kasih sayang dari suaminya.

__ADS_1


Laila yang sedari tadi hanya sebagai pendengar saja kini merasa kehadirannya seperti menjadi obat nyamuk diantara pasangan halal yang sedang dimabuk cinta.


"Kak kalau kita ke toko dulu gimana? Biar kakandaku bisa on time meetingnya nanti kita biar diantar mang Tejo ke rumah lama. Gimana kak?" Ani memandang Laila meminta pendapat.


"Aku ikut saja" Kata Laila


"Biar Zul juga kenal dengan tempat kerja papanya. Sekalian kita belanja biar dibayar sama bos nya. Hihihi..." Ani menutup mulutnya sambil melirik ke spion ingin tahu reaksi suaminya.


" Waaahhh Mo dus nih..." Kata Zainal yang sedang fokus mengemudi.


"Tahuuu.... aja kakandaku sayang alaika ini." Kata Ani. "Boleh kan nda? Aku udah lama lho nggak shoping nda. Kangen juga rasanya"


"Boleeh. Kalau belum puas belanja nanti mau sama tokonya sekalian juga aku bisa belikan"


"Yee.... nggak usah beli swalannya kali nda. Makasih. Papa lebay ya dek?" Ani mencium tangan Zul yang menggenggam jari telunjuknya.


"Beneran nih nggak mau?"


"Nggak"


"Maksudnya?"


"Beli swalayan gratis yang punya. Hitam manis gitu orangnya. Baik, sabar, pengertian juga. Namanya Zainal. Mau nggak?"


"Hemm.... Iya deh mau. Kalau bonusnya yang namanya Zainal itu aku mau deh"


"Ini ceritanya mau sama orangnya tapi nggak mau sama swalannya"


"Kanda nggak jelas deh" Sungut Ani sambil mencibir.


Mereka saling bertukar kata lupa kalau ada Laila diantara mereka. Ya Laila sering merasa iri dengan hubungan antara Ani dan Zainal. Selalu romantis menurutnya.

__ADS_1


Saat sudah tiba di dalam swalayan semua orang menyapa Zainal dengan menganggukkan kepala. Dari jauh mereka memperhatikan kehadiran bos besar mereka yang berjalan bersisian dengan sang istri yang sedang menggendong bayi. Sangat serasi. Awesome.


Zainal kemudian meminta istrinya untuk menaruh putranya di dalam stroller yang dibawanya. Bayi lucu itu tampak tak terusik dengan keadaan yang berisik. Ia hanya bergerak sedikit kemudian meringkuk dan tidur kembali.


Zainal kemudian menundukkan badannya dan mencium pipi si kecil yang halus dan harum.


"Mamanya mau dicium juga nggak?"


"Nggak!" Kata Ani sambil membuangnya muka karena wajahnya merona.


"Hati-hati ya Din!" Zainal mengusap puncak kepala Ani yang tertutup kerudung.


"Kanda juga ya. Matanya jangan jelalatan! Oh ya salam buat pak Zainal yang manisnya kayak madu itu"


"Siip. Nanti aku sampaikan."


" Duluan kak" Zainal nerpamitan pada Laila yang mencoba menatap ke segala arah karena sejak tadi ia merasa kikuk dengan perbincangan pasangan suami istri itu.


"Ternyata kamu bawel juga ya..." Kata Laila.


"Maksudnya kak? Perasaan biasanya juga kayak gini" Kata Ani.


"Biasanya nggak serame ini kalau kita kumpul"


"Pak Zainal dulu juga rame banget tapi sekarang kayak cool gitu. Beda banget sama yang dulu"


"Masa? Udah ah it's shopping time..."


"Ambil apa aja yang kakak mau, bukan yang dibutuhkan aja ya tapi yang kakak pingini apa langsung sikat. Mumpung aku lagi dapat promo dari yang punya swalayan ini. Hihihi...."


Laila mengitarkan pandangannya mencoba menggali masa lalu dirinya yang banyak terjadi di swalayan ini. Termasuk juga tempat suaminya dulu punya usaha untuk pertama kalinya.

__ADS_1


...****************...


Maap ya, aku lagi kangen sama dokter Ani dan Pak Zainal nih,


__ADS_2