Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
End


__ADS_3

Laila tampak gugup saat para modelnya sudah siap untuk berjalan dan mempertontonkan beberapa baju hasil rancangannya. Ia menunggu seseorang yang selalu bisa membuatnya lebih tenang tapi sepertinya dia belum datang.


Kini raut mukanya tampak cemberut dengan garis bibir yang ditekuk. Perasaannya kini bercampur antara gugup dan kesal pada sang suami yang tak kunjung datang padahal dia sudah berjanji akan melihatnya memasuki panggung di akhir acara bersama para model dan perancang busana lainnya.


Ia merasa tidak percaya diri bersanding dengan para designer kelas kakap yang sudah malang melintang di dunia fashion dalam jangka waktu yang lama. Apalagi ia tidak pernah belajar menggambar dan membuat design secara formal. Hanya berbekal hobi dan paksaan dari kak Mia ia bisa memulai semuanya. Melihat pakaian indah hasil karya para designer ternama di kota ini Laila jadi berkecil hati karena baju-baju yang ia rancang terlihat sangat sederhana dan tidak sebanding jika ditampilkan di atas panggung.


"Ayahnya Latif kemana kak?" Tanya Laila pada kak Mia.


"Nanti dia pasti datang. Dia sudah janji kan. Mungkin ban motornya bocor atau apa di jalan. Sudah.... kamu jangan nervous begitu...!"


"Lihatlah baju-baju mereka kak.... Indah-indah semua. Apa punya kita nggak usah ikutan aja ya kali ini? Kapan-kapan aja gimana kak?"


"Kesempatan ini tidak datang dua kali La.... Kamu harus bersyukur.... Meskipun kita belum setahun menggeluti bidang ini tapi kita sudah dapat apresiasi luar biasa seperti ini. Karya kamu bisa sepanggung dengan para designer papan atas. Apapun hasilnya kita akan terima. Diterima masyarakat dengan baik Alhamdulillah. Reaksi masyarakat biasa aja ya kita nggak perlu terlalu sedih. Toh ini pertama kalinya untuk kita mengikuti even macam ini. Kita kan sudah berusaha maksimal, sudah berdo'a juga. Sekarang waktunya kita pasrah. Ikhlas menerima apa yang akan terjadi dan yakin kalau itu takdir terbaik untuk kita...."


Laila duduk tertunduk setelah kepergian kak Mia. Tadi dia sempat mengintai dari dalam dan melihat keluarga besar suaminya datang semuanya. Latif dan Labib juga sudah duduk tenang di samping kakek neneknya. Ada Doni juga disana. Justru sang suami yang sampai saat ini belum kelihatan batang hidungnya.


Laila mengamati ponselnya, berharap ada notif wa atau panggilan dari suaminya. Tapi nihil. Ia pun mencoba menelpon lebih dulu. Perasaannya jadi tidak enak. Jangan-jangan terjadi sesuatu


pada suaminya. Hatinya yang semula gugup dan kesal kini dilingkupi ketakutan. Ia pun mencoba menghubungi Lukman dan tak ada jawaban dari sana. Begitu pun ketika ia mencoba menghubungi kembali untuk yang kedua dan ketiga kalinya. Tak ada tanda-tanda kalau Lukman sedang online.


Menarik nafasnya dalam-dalam kemudian merafalkan doa, meminta pada yang kuasa semoga belahan hatinya tak mengalami suatu apa. Semoga hanya sesuatu yang tidak berbahaya yang mencegahnya untuk bisa segera sampai di tempatnya kini.


Laila melangkahkan kakinya hendak menuju panggung setelah di beritahu panitia sebentar lagi waktunya untuk keluar bersama para modelnya. Ia berjalan dengan lemah, langkahnya gontai tak bersemangat. Hilang sudah rasa gugup yang semula mendera. Yang ada kini hanya ingin segera pulang dan bertemu suaminya.


Tepuk tangan menggema memenuhi seisi gedung. Puncak acara akhirnya tiba. Satu persatu para designer muncul bersama para model mereka dan Laila mendapatkan giliran paling akhir.


Kini waktunya ia keluar bersama para model di samping kiri kanannya. Rona bahagia terpancar dari orang-orang yang menyayanginya. Mereka bertepuk tangan dengan bersemangat saat melihat kemunculannya.


Berbeda dengan dirinya yang memaksakan senyum terukir di bibirnya sambil menyusuri wajah-wajah baru yang duduk di kursi di sepanjang panggung catwalk.


Deg


Hatinya tiba-tiba berdebar saat pandangan matanya menangkap wajah yang sangat ingin dilihatnya. Lukman berdiri di depan pintu besar tempat para tamu keluar masuk. Ia tampak berbeda dari biasanya. Lelaki yang selama beberapa bulan terakhir ini selalu berada di atas kursi roda kini berjalan dengan gagahnya memasuki ruangan tempat acara di gelar.

__ADS_1


Laila terdiam terpaku di tempatnya. Ia tahu kalau suaminya memang sudah sembuh tapi ini kejutan besar untuknya. Pria yang sudah menjadi suaminya selama lebih dari tujuh tahun itu kelihatan sangat tampan di matanya.


Lukman yang kini membiarkan bulu-bulu kasar menghiasi wajahnya semakin menambah aura garang sekaligus menghanyutkan. Memakai kaos berwarna putih yang membungkus raga indahnya dan jas hitam yang tidak dikancingkan membuat semua orang ikut terpana kala mereka mengikuti pandangan Laila yang terhenyak di tempatnya. Wajah khas Indonesia yang berwarna sedikit gelap tapi menyejukkan pandangan ditambah postur tinggi tegap bak super star.


Kini semua orang terhanyut pada keduanya. Seolah terhipnotis dengan aura yang terpancar dari kedua sejoli yang kini mendominasi keadaan.


Lukman berjalan semakin mendekat ke arah panggung catwalk dengan satu tangan di belakang punggungnya. Pandangan matanya tak lepas dari wajah cantik Laila yang masih terdiam di tempatnya. Hati yang semula tak bernyawa kini menjadi bahagia karena kedatangan sang pujaan hati yang sejak tadi sudah di nanti.


Rasanya ingin menangis dan menghambur di pelukan suaminya yang tampan tapi garang itu tapi kakinya seolah terpaku di tempatnya berdiri. Hanya mampu melihat gerak langkah Lukman yang semakin mendekat.


Dengan gerakan yang indah Lukman meloncat ke atas panggung dan dalam sekejap sudah berdiri di depan sang istri. Ia mengangsurkan setangkai bunga mawar pada Laila yang nampak mengerjap bahagia karena tak mengira suaminya bisa berlaku romantis seperti di adegan film yang pernah dilihatnya.


Perlahan-lahan tangannya menerima bunga berwarna merah pertanda cinta dan menciumnya. Harum. Ia menatap suaminya sambil tersenyum manis masih tak percaya ini terjadi di dunia nyata.


Lukman kemudian menekuk satu kakinya dan membuka kotak beludru berisi cincin di dalamnya.


"Maukah menghabiskan sisa waktu yang ada bersamaku?" Suaranya yang maskulin dan berat terdengar dengan jelas karena kini suasana gedung sangat hening. Mereka yang ada disana terpaku dan penasaran dengan adegan romantis yang sedang berlangsung. Tidak ada lagi hingar bingar suara manusia, suara musik pun sudah berhenti sejak Lukman masuk tadi. Semuanya bak tersihir pada adegan live Lukman dan Laila.


Lukman kemudian berdiri dan memasangkan cincin di jari manis Laila yang sebelah kanan karena jari manis sebelah kirinya sudah tersemat cincin pernikahan pemberian ibunya.


Ia mengecup kening Laila sejenak kemudian menggandeng tangan istrinya untuk turun dari panggung. Saat kaki keduanya sudah sama-sama berada di lantai yang sejajar dengan para hadirin yang lain Lukman sedikit menarik tangan Laila untuk berlari meninggalkan gedung.


Laila yang sedang menggunakan gaun harus menariknya ke atas sedikit kemudian ikut berlari mengikuti suaminya. Meninggalkan semua orang yang kini baru sadar dan bertepuk tangan gegap gempita.


Latif dan Labib yang tadinya ikut terpana kini segera berlari menyusul ayah bundanya. Ingin melihat apa yang sedang dilakukan kedua orang tuanya. Doni pun segera berlari mengejar kedua keponakannya. Membujuk dua lelaki kecil kesayangannya itu agar memberi waktu pada ayah bundanya untuk berduaan sementara waktu karena ada urusan yang harus diselesaikan.


"Ayah sama bunda perlu berduaan dulu. Abang sama adek sama om dulu ya... Kita jalan-jalan abis ini sama kak Maryam dan si kembar...." Begitu bujuk Doni pada keponakannya.


Sementara itu Lukman sedang memakaikan helm di kepala Laila dan memintanya segera naik ke atas motor. Begitu Lukman naik Laila langsung meMereka berdua bersepeda di sepanjang jalan dengan senyum yang tak lepas dari bibir keduanya.


"Laila.....!!!!!! I Love you....!!!!!!" Teriak Lukman di sepanjang jalan membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian. Laila tersipu malu karena para pengguna jalan melihat mereka dengan pandangan heran.


Ia mencubit pinggang Lukman dengan gemas tapi tak meminta sang suami untuk berhenti berteriak dan menghentikan kegilaannya. Ia malu tapi suka dan menikmati kegilaan bersama.

__ADS_1


Selama hampir satu jam setengah berkendara dan beristirahat sejenak di masjid untuk solat kini keduanya tiba di pantai saat menjelang senja. Berjalan berdua sambil bergandengan tangan dan sesekali bertatapan kemudian bertukar senyuman.


Lukman menarik pinggang Laila sehingga keduanya kini berhadapan dengan tubuh yang saling menempel satu sama lain. Di bawah pancaran matahari yang hampir tenggelam dan bersiap menuju peraduan, siluet pasangan suami istri itu bak lukisan indah di bibir pantai dengan deburan ombak yang sesekali mengeani kaki keduanya serupa mengajak mereka untuk berenang ke tengah lautan.


"Terima kasih sudah bersedia menemaniku selama ini..." Kata Lukman sambil mengeratkan rengkuhan. Telapak tangannya yang besar mencakup kedua sisi wajah Laila yang kini memakai topi pantai besar di kepalanya.


"Terima kasih sudah bersedia menikahiku yang tak punya apa-apa ini...." Jawab Laila dengan suara serak karena air matanya seolah berdesakan ingin keluar.


"Shuttt,....." Lukman menempelkan jari telunjuk di bibir yang di poles lipstik berwarna merah menyala milik Laila.


"Apa kau bahagia sayang?" Tanya Lukman lagi. Saling memandang mencoba meresapi sorot mata yang memancarkan cinta dan kebahagiaan.


"Iya aku bahagia sekali. Aku tak pernah menyangka abang bisa seromantis ini..." Kata Laila dengan tangan yang menempel di dada bidang Lukman.


"Rasanya aku belum pernah melamarmu dengan benar....." Lukman berkata jujur dengan apa yang dirasakannya selama ini.


"Maafkan aku atas semua yang pernah terjadi di antara kita. Ke depan.... jika aku melakukan kesalahan lagi tolong ingat hari ini, Aku mohon jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidupku." Ibu jarinya mengusap pipi Laila yang bersemu kemerahan.


Laila mengangguk sepenuh hati kemudian menaruh kepalanya di pundak Lukman. Memasrahkan diri sepenuhnya pada sang pria yang menjadi tambatan hati dan selalu dia puja.


Sang pria menarik kepala wanitanya kemudian menempelkan kedua bibir mereka. Berpagutan dalam waktu yang lama. Menguak rasa, menaburkan cerita cinta dengan orang yang sama tapi berbeda rasa.


"Mari kita mulai lagi semuanya...." Kata Lukman Setelah mengakhiri ciuman di tengah indahnya alam. Tak perduli dengan tatapan manusia lain seolah dunia hanya milik mereka berdua.


**********


Akhirnya selesai sudah perjalanan kisah double L sampai disini. Semoga ada sedikit pelajaran yang bisa diambil dan mohon maaf untuk semua kekurangan di sana sini.


Special thanks for bung@ter@t@i and Erni Hidayat yang sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Love you so much.


Aku mau menyelesaikan berebut hati dulu baru setelah itu kita lanjut pada cerita Doni.


Thank you very much,

__ADS_1


__ADS_2