
"Aaarrrgggghhh.........!!!!!" Lukman berteriak sangat kencang sampai Laila bergidik ketakutan sambil menutup telinganya. Ia tak berani protes lagi.
Lukman sebenarnya pernah bertanya pada Doni dimana rumahnya tapi pikirannya jadi oleng saat ada Laila yang duduk dibelakangnya. Ia benar-benar lupa. Dadanya berdegup kencang memaksa untuk keluar jadi saat di jalan dia mencoba berdzikir agar lupa dengan posisi keduanya yang cukup dekat.
Laila menoleh ke kiri dan ke kanan dan baru menyadari ternyata mereka sudah cukup jauh dari kota . Dia juga sama olengnya karena Lukman tiba-tiba menjelma menjadi sosok tampan rupawan, macho seksi. Laila berkali-kali menahan nafasnya saking berbunga-bunga hatinya.
Jalanan itu tampak sepi, dikiri kanan jalan tampak sawah yang membentang dan hanya ada beberapa rumah penduduk yang terlihat, itu pun sangat jarang. Untungnya saat itu tidak banyak kendaraan yang lalu lalang sehingga tidak ada orang yang menegur atau bahkan memaki-maki Lukman karena berteriak seperti orang gila.
Tanpa berkata apa-apa lagi dia kemudian menjalankan motornya kembali dan berbalik arah. Laila pun mencengkeram ransel Lukman, dia takut karena Lukman diam tak mengatakan apa-apa lagi. Wajah dinginnya terlihat lebih menyeramkan karena kemarahannya padahal Laila hanya bisa melihatnya lewat kaca spion yang memperlihatkan sedikit wajah Lukman karena tertutup helm full teropong.
Baru beberapa meter mereka berjalan tiba-tiba motor yang mereka kendarai ngadat tersendat-sendat membuat dua orang yang duduk diatasnya panik.
" Ya Alloh ya Robbiiii......!!!!!" Lukman berteriak lagi sambil kedua tangannya mengepal erat sedangkan tubuh dan mukanya mengarah ke langit. Ia ingin marah tapi kepada siapa?
Untung saja saat itu dia mengendarai kendaraannya pelan-pelan sehingga motornya tidak sampai terjatuh.
Laila turun terlebih dahulu kemudian dia bertanya dengan rasa takut ,"ke-kenapa?"
"Bensinnya habis". Kata Lukman ketus sambil mengurangi posisi gigi sepeda motornya kemudian turun dari sepedanya. Matanya sekilas melihat rok Laila yang pendek.
Lukman menurunkan standar samping sepeda motornya kemudian mulai melepaskan kancing kemejanya. Laila melihatnya tapi ia sama sekali tak punya prasangka buruk pada Lukman. Ia justru memperhatikan tubuh atletis Lukman yang kini berbalut kaos agak ketat. saat mata mereka bertabrakan Laila pun segera mengalihkan pandangan matanya malu karena ketahuan sedang memperhatikan lelaki itu.
"Pakai ini!" kata Lukman sambil menyodorkan kemejanya pada Laila tanpa melihat orang yang diajaknya berbicara.
" Untuk apa?" Laila bertanya karena ia merasa sudah memakai jaketnya Lukman lalu kemeja ini buat apa, begitu pikirnya.
__ADS_1
" Buat kakimu. Apa kau tidak dingin?" kata Lukman dengan penuh penekanan sambil mencari pengalihan untuk matanya agar tak melihat sosok Laila.
" Tidak usah marah!" akhirnya Laila pun terpancing dan ikut emosi. Ia pun menutupi kaki bagian belakangnya dengan kemeja Lukman dengan cara menautkan lengan kemeja di perutnya.
"Apa yang kau tutupi? heggh...." Lukman masih saja emosi dan Laila memandangnya dengan marah tapi kemudian dia melepaskan ikatan kemeja yang ada di perutnya. Ia kemudian menutupi bagian depan kakinya dan mengarahkan lengan kemeja itu ke belakang. Lukman langsung membantunya dengan membuat simpul dari lengan kemeja miliknya di belakang badan Laila.
Laila menahan nafasnya menikmati desiran halus yang menyapu wajahnya. Ia salah tingkah tapi juga bahagia.
Setelah itu Lukman berjalan menuntun sepeda motornya tanpa bicara dan Laila mau tak mau kemudian berjalan dibelakang Lukman, mengikutinya tanpa banyak bicara. Tak lama kemudian Laila sedikit berlari untuk mensejajarkan kakinya dan berjalan di samping Lukman.
Mereka pun berjalan berdampingan menyusuri jalan tanpa obrolan. Laila sebenarnya ingin mengajaknya berbicara tapi ia takut kalau Lukman akan semakin marah karena ia menyadari semua ini terjadi karena kesalahannya. Kalau saja tadi dia mau mengatakan rumahnya ada dimana pasti tidak akan ada kejadian seperti ini, begitu menurutnya. Padahal Lukman juga sebenarnya tahu di mana alamatnya.
Sampai akhirnya mereka sampai di pom bensin setelah rasa capek yang luar biasa dirasakan oleh Laila karena berjalan dalam waktu yang lama dengan memakai sepatu hak tinggi dengan langkah yang lebar-lebar karena berusaha mengimbangi langkah Lukman. Sebenarnya ia ingin melepas sepatunya tadi, tapi urung dilakukannya setelah melihat muka Lukman yang diam seperti menyimpan emosi.
Lukman mengisi bensin full pada tanki motornya kemudian segera membayar dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Ia berhenti sebentar ketika sampai di apotek dan berhenti lagi saat ada orang yang berjualan martabak manis.
"Kau di mana An?" Zainal menelpon seseorang dengan nada yang lemah lembut membuat Laila merasa kesal karena lukman selalu kasar dan marah-marah saat bicara dengannya. Berbeda sekali perlakuannya.
'Aku tidak cemburu kan? Dia ini pria kasar lho!' batinnya memperingati dirinya sendiri.
" Sama Zainal, kok bisa?" Kata Lukman sambil mengerutkan keningnya.
" Iyaa ini masih di jalan soalnya tadi kehabisan bensin" katanya lagi.
" Tolong bilang sama ayah, jangan nungguin aku, aku bawa kunci rumah !"
__ADS_1
" Ya sudah buruan tidur abis ini!"
"Hem m.."
"Waalaikumsalam warohmatulloh!"
Laila mendengarkan Lukman dengan seksama meskipun matanya sedang melihat hp nya sendiri yang tidak ada notifikasi apa-apa.
Akhirnya Laila memandu Lukman yang mengendarai si motor dengan hati-hati sampai akhirnya mereka tiba di kontrakan Laila. Rumahnya tampak gelap karena belum ada lampu yang dinyalakan. Itu artinya Doni belum sampai di rumah.
Lukman melepas helm nya kemudian mengacak rambutnya yang kini berhamburan. Aksinya itu justru membuat Laila terpaku. Lukman bahkan berkali-kali lipat lebih tampan dari pada aktor Evan Marvino di anak jalanan saat turun dari motornya.
Dengan kakinya yang panjang ia segera turun dari motornya dan berjalan menuju ke meteran listrik sambil bertanya pada Laila " kau sudah bayar listrik?"
" Itu pakai token, harusnya masih ada" kata Laila sambil memasukkan kunci ke dalam lubangnya. Hatinya kini dag dig dug tak dapat dia kendalikan lajunya.Ia masuk ke dalam rumahnya yang terlihat sepi kemudian menyalakan saklar di tiap ruangan. ia juga masuk ke kamar Doni untuk memastikan lagi apakah adiknya sudah pulang atau belum.
Lukman menaruh martabak manisnya di kursi yang berada di teras rumah itu dan duduk di kursi yang satunya lagi. Ia memandang ke depan mencoba menganalisa tempat itu.
Dari gang yang dilewatinya tadi ada bapak-bapak dan beberapa anak muda yang sedang nongkrong di pos kamling kemudian saat melihat dirinya membonceng Laila mereka mengatakan padanya agar segera pulang biar tidak menimbulkan prasangka buruk pada warga. Semakin masuk ke dalam semakin sepi dan hampir semua rumah pintunya sudah tertutup. Meski lingkungan rumahnya padat tapi sepertinya aman, itu kesimpulan sementara Lukman.
"Doni belum pulang..." kata Laila cemas.
Lukman mencoba menghubungi Doni, tapi tak ada jawaban sama sekali.
"Aku sudah menghubunginya dari tadi tapi dia tak menjawabnya sama sekali," Laila berdiri bersandar di bibir pintu.
__ADS_1
Lukman memberikan bungkusan yang berisi martabak manis tadi pada Laila.