
Laila masih dalam mode cemberut karena kali ini Lukman terlihat tak peka sama sekali. Biasanya suami Laila itu tak bisa melihat istrinya ngambek. Segala jurus rayuan dan gombalan mautnya dia keluarkan untuk membuat sang istri tersenyum kembali tapi tidak kali ini. Lukman betul-betul cuek seperti tak menyadari jika istrinya sedang merajuk dan minta dibujuk. Pria itu kini malah bermuka datar tanpa ekspresi .
Pagi itu seperti biasa, Lukman yang bertugas untuk memandikan kedua buah hatinya melaksanakan tugasnya seperti biasanya. Setelah anak pertamanya Latif sudah selesai ia mandikan maka ia menyerahkannya pada istrinya agar di didandani oleh istrinya. Setelah itu Lukman membangunkan si kecil dan memandikannya.
Peraturan itu dia yang membuatnya, jika anak laki-laki ayahnya yang memandikan, jika perempuan maka itu menjadi tugas sang ibu untuk memandikan.
Setelah tugasnya sudah selesai ganti dirinya yang membasuh diri. Begitu setiap hari. Urusan memasak Laila dibantu oleh ibu tiri suaminya, bu Jannah sehingga dia tidak terlalu kerepotan.
Bukan tak bisa menggaji pembantu tapi Laila merasa masih sanggup menjalankan semuanya dengan baik karena itu ia merasa belum terlalu butuh tenaga pegawai untuk bantu-bantu di rumah suaminya.
Sarapan sudah siap semua di meja makan. Bukan makanan mewah hanya masakan rumahan ala kadarnya karena kebetulan seluruh penghuni rumah itu satu haluan soal makanan. Makanan ala rakyat jelata pada umumnya. Pagi ini hanya tersedia lele, dadar jagung, sambal dengan sayur bening dan susu untuk kedua jagoan di rumah itu, Latif dan Labib.
Pak Dirman, bu Jannah, Latif dan Labib sudah duduk di meja makan siap untuk sarapan. Mereka hanya menunggu satu personil lagi.
Laila kemudian menuju kamarnya untuk memanggil sang suami meskipun ia enggan sekali karena masih ingin mempertahankan egonya. Ia masih mau ngambek sampai sang suami membujuk dan merayunya seperti biasa.
"Di tunggu sama ayah... Semua sudah di meja makan..." Katanya sambil pura-pura mengambil handuk dan membenarkan barang-barang yang berserakan.
"Suruh ayah sarapan dulu saja. Aku makan di luar" Jawab Lukman datar sambil berdiri di depan cermin mematut dirinya sendiri.
Ujung mata sang istri mencoba melihat apa yang sedang di kerjakan sang suami.
"Bilang saja sendiri " Laila berbicara dengan ketus berharap agar suaminya peka dan tahu kalau dia sedang marah.
Laila akhirnya tak tahan dan menatap suaminya dengan tatapan sengitnya. Laila mengamati dandanan suaminya hari ini yang sangat formal dan rapi. Memakai kemeja yang di masukkan dalam celana bahan juga dasi dan ikat pinggang sebagai aksesori. Ingin mulutnya bertanya memang mau ada acara apa tapi tertahan oleh egonya membuat bibirnya terkatup rapat tak bisa berucap.
Lukman segera keluar dari kamar tanpa menoleh pada Laila yang membuat istrinya itu makin sebal.
Didepan orang tuanya pasangan suami istri itu bersikap biasa dan sewajarnya. Tak ada yang tahu kalau keduanya sedang bertengkar dan berselisih paham.
__ADS_1
Setelah acara sarapan selesai Lukman memakai tas selempangnya kemudian berpamitan pada ayahnya yang diikuti oleh si sulung yang ikut mencium tangan sang kakek juga nenek tirinya.
"Adik jalan dulu ya, biar bajunya ayah nggak kusut" Kata Lukman sambil menggandeng si kecil ke depan yang biasanya minta gendong saat dia akan berangkat kerja.
"Dendong...!!" Labib menghentikan langkah kaki kecilnya dan mengarahkan tangannya pada sang ayah.
Lukman mengangkat tubuh kecil putranya dan menerbangkannya seperti pesawat terbang.
"Ahhahaha..... teyus ayah....! Telbang tinggi ..... yang tinggi lagi....!" Seru si kecil bahagia sedang abangnya hanya diam memandang adiknya dengan pandangan jengah. Seolah dia adalah pria dewasa jelmaan sang ayah sebelum bertemu dengan bundanya.
Seorang gadis kecil yang memakai kerudung kemudian berlari ke dalam rumah dan sebentar kemudian ia sudah keluar.
"Kenapa gak manggil-manggil si Tif ?" Katanya sambil mencium tangan Laila.
"Maryam....!" Kak Mia yang ada di rumah sebelah memanggil putrinya agar tidak marah-marah.
"Ighhh.... namaku bukan ayam Labib...!!" Maryam keponakan Lukman berkacak pinggang menghadap pada pada Labib yang ada di gendongan ayahnya.
"Kak Mar. Adik panggilnya kak Mar aja ya ..." Kata si ibu tak ingin putranya dan keponakan suaminya bertengkar.
" Maaf kak Mal..." Kata si kecil yang masih cadel.
"Namanya kakak itu ya harus sabar menghadapi adik- adiknya. Labib bukan sedang ngatain kamu lo Mar..." Kini kak Mia sudah berada di antara mereka.
"Ayah berangkat dulu ya..!" Lukman menyerahkan si kecil pada istrinya yang masih saja mengerucutkan bibirnya. Ia kemudian mencium kening Labib sambil berkata, "sayaaang adik ".
"Cayang bunda juga yah!" Si kecil seolah mengingatkan ayahnya akan kebiasaan sang ayah yang mencium kening bundanya setelah menciumnya.
"Aku berangkat " Kata Lukman sambil mencium puncak kerudung sang istri kemudian si sulung yang sudah di gandeng ayahnya mencium tangan bundanya juga pada budenya dan mengucap salam pada mereka
__ADS_1
"Berangkat ya kak..." kata Lukman berpamitan pada kakak iparnya.
"Hati-hati!" Ucap kak Mia
"Ayo !" Lukman menggandeng tangan anak pertamanya juga tangan Maryam untuk mengantarkan mereka ke sekolah.
" Hari ini kita pakai si putih ya, ayah mau ada acara " Katanya sambil menuju mobil x pander nya. Dengan kemampuan ekonominya seperti sekarang sebenarnya dia bisa saja membeli pajero atau mobil-mobil kelas atas lainnya hanya saja itu bukan dirinya yang suka bermewah-mewah. Menurutnya fungsi mobil adalah untuk mengantarkannya sampai ke tempat tujuan bukan untuk bergaya-gaya.
"Hore....!!!" Maryam berjingkat-jingkat senang sedang sepupunya si Latif hanya melengos melihat tingkah absurd si gadis kecil.
Sementara itu Laila yang menatap suaminya naik kendaraan bersama putra dan keponakannya merasa kalut. Ia mulai merunut peristiwa kemarin-kemarin. Apa mungkin ia melakukan kesalahan sehingga suaminya menjadi marah dan tak mau menegurnya seperti biasa.
"Sini.. adik sama nenek. Biar bunda mandi dulu!" Bu Jannah istri pak Dirman yang berarti ibu tiri Lukman meminta si kecil agar mau bermain dengannya yang langsung menengadahkan tangannya pada si nenek.
"Adik jalan saja ya. Kasihan nenek..." Kata Laila sambil menurunkan putranya.
"Kenapa?" Tanya kak Mia yang masih berada di situ.
"Enggak papa kok kak.." Katanya berbohong karena tak ingin mengumbar keburukan tentang rumah tangganya.
"Pekerjaan kamu hari ini gimana?" Tanya Kak Mia pada Laila yang kini menekuni dunia jahit menjahit baju.
Awalnya dulu setelah melahirkan Latif ia merasa bosan berada di rumah terus-terusan. Ia kemudian mencoba memakai mesin jahit kak Mia dan anehnya ia cepat bisa. Bahkan ia dengan mudah menguasai teknik-teknik menjahit beraneka macam pakaian. Dari busana pria maupun gaun untuk wanita. Ia juga mulai mengorak-arik buku dengan sketsa pakaian yang ada dalam imajinasinya dan mewujudkannya dalam pakaian yang dikenakan oleh Maryam dan putra-putranya sebagai uji coba.
Dan sekarang usahanya sudah lumayan berkembang. Ia sudah punya sekitar 20 orang binaan dari warga sekitar yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja yang baru lulus sekolah dan belum mendapatkan pekerjaan ataupun para gadis dan bujang yang tidak bisa menamatkan sekolahnya.
Pesanan berdatangan dari sekolahan maupun perusahaan untuk seragam siswa, seragam kerja para karyawan juga lembaga-lembaga sosial maupun pemerintahan ikut memesan padanya.
Laila punya tukang potong yang setiap hari datang ke rumah kak Mia.Tugasnya hanya memotong pakaian dan selanjutnya akan diambil oleh tukang jahitnya dan dibawa pulang untuk di jahit di rumah masing-masing.
__ADS_1