Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Jangan di sirri


__ADS_3

"Lama banget sih bang...?" Lukman bertanya sedikit kesal pada abangnya yang baru sampai. Hampir satu jam menunggu abangnya tak juga datang-datang padahal perjalanan dari rumahnya ke rumah Doni bisa ditempuh sekitar dua puluh menit saja.


"Kan keramas dulu... Masak mau jadi saksi pernikahan dalam keadaan junub. Jangan merengut gitu! Habis ini kan kamu bisa merasakannya!" bisik bang Alif ditelinga Lukman.


Lukman hanya menyeringai mendengar kata-kata bang Alif. Ia mengangkat karpet dari bagasi mobil yang tadi dimintanya dari Karina karena di rumah calon istrinya itu tidak ada karpet.


Ia masuk kedalam ruang tamu sambil bermonolog,


Bikin kepalaku traveling saja lihat rambut kamu setengah basah gitu bang. Seenak apa ya ....Jakun Lukman terlihat naik turun menelan ludah karena pikirannya ke mana-mana.


Doni yang ikut mengangkat karpet yang dibawa bang alif penasaran melihat rambut bang Alif yang setengah basah.


"Dingin-dingin kayak gini abang habis keramas bang?" tanya Doni penasaran karena malam ini udara terasa lebih dingin dari biasanya.


"Iya, tadi di rumah panas. Habis olahraga soalnya" Jawab bang Alif.


"Malam-malam olahraga bang?" tanya Doni penasaran.


"Iya. Ayo ini ditaruh dimana karpetnya?" tanya bang Alif mengalihkan rasa penasaran cowok remaja yang beberapa bulan ini dekat dengan keluarga nya agar berhenti bertanya.


Zainal dan pak Dirman mengangkat kursi yang hanya beberapa biji itu ke luar, ke halaman rumah tetangga. kemudian menggantinya dengan karpet yang sudah dibawa oleh bang Alif sekeluarga.


Mereka datang sekitar jam 10 malam dan ternyata belum ada warga yang hadir disitu karena menurut keterangan Doni yang dia dengar dari Bu RT kalau para remaja di daerah situ sedang mengikuti pertandingan futsal dengan beberapa daerah di kota yang sama dan semua sepakat untuk hadir sebagai bentuk dukungan bagi para pemuda di daerah mereka yang mengikuti pertandingan. Pantas saja tidak ada pria yang kelihatan batang hidungnya saat perkelahian terjadi tadi.


Ani dan Zainal tadi datang dengan membawa kue-kue dan nasi tiga puluh kotak. Ani juga mengambil uang satu setengah juta dari ATM Lukman yang tadi memintanya untuk menarik uang dari ATM nya. Ani kemudian menata kue-kue yang dibawanya tadi dalam piring-piring.


Sedangkan Mia sedang berada di dalam kamar dengan Laila. Meski usia Mia lebih muda dari Laila, Karina dan Ani tapi ia lebih dewasa dari mereka bertiga. Mungkin karena menjadi istri bang Alif yang seorang ustadz sehingga ia bisa membawa diri seperti apa yang diajarkan oleh suaminya. Ia bahkan sudah seperti ibu dan kakak untuk Ani dan Karina. Sedang Laila menganggapnya seperti seorang ustadzah.


"Kamu yakin mau menerima Lukman sebagai suamimu?" tanya Mia dengan hati-hati pada Laila.

__ADS_1


Laila yang sedari tadi menundukkan kepalanya karena segan pada istri bang Alif itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


"Ketika ijab Qabul sudah sah diucapkan maka kamu adalah milik suamimu. Kamu wajib menghormatinya, mentaati semua perintahnya selagi itu bukan maksiat pada Alloh. Aku juga baru wacana saja, prakteknya juga belum bisa." Kata Mia sambil mengelus perut buncitnya.


Laila mendengarkannya saja sambil meresapinya.


"Mari niatkan pernikahan ini sebagai bentuk rasa takut kita kepada Alloh agar tak terjerumus kedalam sesuatu yang melanggar perintahNya dan sebagai bentuk ittiba' pada Nabi, mengikuti Sunnah rosul. Semoga setelah menikah nanti kita menjadi manusia yang lebih baik lagi"


Laila hanya menganggukkan kepalanya saja lalu mencium tangan Mia.


"Hei ngapain cium tangan aku? Aku ini hanya mengingatkan karena kita akan menjadi saudara. Jangan berlebihan seperti itu!" Mia melepaskan tangannya dari Laila kemudian memeluk Laila dan mengusap punggungnya. Mia kemudian berkata lagi ," Ayo kita lomba untuk berbenah diri !"


Pak RT datang tergopoh-gopoh setelah bang Alif memberi wejangan pada Lukman tentang tanggung jawab sebagai seorang suami dan menyakinkan Lukman bahwa tindakannya kali benar-benar dari hati bukan menuruti emosi sesaat saja.


Pak RT di persilahkan masuk ke ruang tamu yang sudah dialasi karpet. Ia menjabat tangan semua orang yang ada disitu kemudian mulai mengutarakan maksud hatinya . Intinya ia tidak setuju dengan pernikahan Sirri dan berharap yang bersangkutan membatalkannya.


Semua yang hadir langsung tegang dan bertanya-tanya bagaimana selanjutnya. Lukman kemudian menjelaskan maksudnya kenapa bersikukuh menikahi Laila malam ini juga.


" Dulu ada wanita yang ngontrak di daerah sini yang bekerja sebagai pembantu. Kemudian di nikah Sirri oleh seorang pria yang mengaku bujangan dan berasal dari kota tetangga. Ia juga kerap datang dengan membawa mobil mewahnya. Tapi saat wanita itu hamil pria itu tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya. Hal itu menjadi gosip yang tak habis-habis yang harus ditelan oleh wanita yang tak lagi punya pemasukan karena tidak ada yang mau mempekerjakan seorang wanita hamil. Ia hanya hidup dari belas kasihan para tetangga sampai ia melahirkan bayinya di rumah . Seorang bayi laki-laki yang berat badannya saja hanya sekitar dua kilogram. Bayi itu langsung meninggal hari itu juga dan si ayah bayi itu tetap tak mau datang meski sudah ditelpon oleh istri sirrinya itu. Kabarnya dia ternyata sudah punya istri pertama yang sah secara negara." pak RT berhenti sebentar membiarkan semua orang untuk memahami ceritanya.


"Jadi maksud saya , jika memang mas Lukman ini berniat menikahi Laila tolong langsung disahkan secara negara saja kasihan Laila jika ada apa-apa. Mohon maaf ya mas Lukman..... bukannya saya nggak percaya tapi saya harus bertanggung jawab pada semua warga saya" Pak RT merasa tidak enak karena Lukman sudah sering keluar masuk kawasan itu untuk membantu atau mengurusi Laila dan doni. Dalam hati kecilnya ia juga merasa kalau Lukman adalah pria yang baik.


"Saya masih bujang kok pak!" kata Lukman sambil mengeluarkan KTP dari dalam dompetnya dan mengangsurkannya pada pak RT.


Pak RT melihat dan membaca dengan seksama.


"Atau begini saja pak, saya dan keluarga saya akan meninggalkan KTP kami disini sambil menunggu Lukman mengurus keperluan pernikahan yang sah secara negara, " kata bang Alif menyela.


"Saya akan meninggalkan mobil saya yang berwarna hitam itu disini pak sebagai jaminan kalau bang Lukman akan segera melegalkan pernikahan nya sesuai ketentuan negara." Zainal ikut meyakinkan pak RT.

__ADS_1


Pak RT tadi sempat melihat mobil Mercedes yang berwarna hitam dan dia tahu bahwa itu mobil orang kalangan atas.


Kalau memang mereka berniat jahat tidak mungkin keluarganya mau menjaminnya seperti ini, pikir pak RT. Ia pun memohon izin keluar sebentar dan mendiskusikannya dengan beberapa warga yang duduk lesehan di teras.


Pak RT kembali ke ruang tamu dan mengizinkan Lukman untuk menikah dengan Laila dan mewanti-wanti nya agar segera mengurusnya sesuai ketentuan negara dan Lukman menyanggupinya.


Bang Alif kemudian bertanya pada Doni yang akan menjadi wali dari mempelai wanita, "kamu sudah siap Don?"


"Eh.... "Doni jadi merasa canggung karena semua mata sedang menatapnya.


"Tunggu-tunggu....apa yang akan menjadi walinya Doni mas?" tanya pak RT pada bang Alif .


"Iya benar, Doni adalah walinya Laila jadi dia yang akan menikahkannya"


"Tapi dia kan masih kecil?" ungkap pak RT ragu.


"Dia sudah hampir 17 tahun pak dia itu sudah termasuk baligh."


"m?emangnya sah ya ?"


"Sah pak , karena dia sudah baligh yang berarti dewasa menurut pandangan agama."


"Ooh...." pak RT manggut-manggut mendengar penjelasan bang Alif yang sudah memakai kopyah hitamnya. Terasa sekali kharismanya.


"Sdah hafal lafadznya Don?"tanya Bang Alif


"Aku wakilkan ke bang Alif saja ya bang?" tanya Doni sambil cengengesan.


"Kamu yakin?"

__ADS_1


"Iya bang, tolong nikahkan kakak ku dengan bang Lukman." katanya dengan mimik serius


"Baiklah kalau begitu aku akan mewakili mu untuk menikahkan kakakmu. Hadirin sekalian mohon perhatiannya sebentar mari kita membaca syahadat bersama-sama kemudian mari kita saksikan kan perjanjian pernikahan ini semoga keberkahan senantiasa dicurahkan kepada kita semua,"


__ADS_2