
"Mi,.... "
"Apa pi?.."
"Kak Lala hamil lagi ya mi?"
Rina yang sedang asyik membersihkan muka di depan meja rias langsung menghentikan aktifitasnya.
"Kak Lala periksa kehamilan di rumah sakit?"
"Enggak, Ronald bilang kalau dia ngelihat abang nganter wanita hamil ke rumah sakitnya"
"Emang Ronald kenal bang Lukman?"
"Kan yang ngirim sayuran organik ke rumah sakit dia kan abang. Pas cerita-cerita aku baru tahu kalau mereka sudah menjalin kerja sama. Aku bilang lah kalau dia abang iparku"
"Tadi dia bilang kalau ketemu abang lagi nemenin istrinya periksa di poli kandungan. Tumben kak Lala nggak cerita-cerita. Biasanya rame banget kalau lagi hamil. kayak dapat jackpot gitu. Kenapa juga nggak periksa di rumah sakit kita?" Ibrahim bersandar di tempat tidur sambil membaca jurnal ilmiah tentang komposisi tulang manula.
Rina menyelesaikan ritual malamnya sampai selesai. Ia yang semasa muda tidak mau dan cenderung acuh pada masalah make up sekarang itu menjadi makanan sehari-hari nya. Menjadi istri seorang direktur membuatnya harus tampil perfect di segala suasana.
Kalau semasa bujang ia pakai lipstik saja tidak suka sekarang begitu keluar rumah bibirnya pasti sudah dikasih warna. Entah pink, merah, jingga, coklat. Suaminya suka mengejek saat ia berpenampilan seperti itu. Aneh katanya. Seperti punya dua orang istri.
Di awal pernikahan ia hanya tunduk patuh pada sang suami yang punya otoritas tingkat dewa. Tak berani membantah apalagi memberontak. Meski dia terkenal ceria dan cerewet tapi di depan Ibrahim dia akan mati gaya. Hanya terkadang sifatnya muncul tiba-tiba saat merasa berada di ujung tanduk. Seperti saat Ibrahim menggodanya dengan menyudutkan posisinya hingga menempel di dinding, dia yang punya sabuk hitam akan langsung menghentakkan kakinya dengan kuat di atas sepatu Ibrahim kemudian dengan lututnya ia meninju perut pria besar di depannya.
Ibrahim yang awalnya mengincar Ani kemudian lebih suka menggodanya. Ia selalu mencari kesempatan agar bisa bermain-main dengan Karina yang selalu kikuk di depannya dan kadang tiba-tiba berubah jadi singa yang menakutkan. Menurutnya itu sungguh menggemaskan.
"Papi minum lagi sama si Ronald?"
"Enggak.... kita minum kopi di cafe" Ibrahim mengalihkan pandangan matanya dari tatapan sengit Rina. Takut kalau ketahuan boongnya.
Rina menarik nafas panjang, mencoba mempercayai suaminya. Pergaulan sang suami dengan para konglomerat saat ada perjamuan maupun meeting biasanya tak jauh dari minuman beralkohol. Terkadang itu membuatnya takut.
__ADS_1
Rina menguncir rambut di samping kiri di bawah telinga kemudian menarik sedikit rambut di depan telinga. Memakai celak arab yang sudah dihaluskan dan dimasukkan ke dalam botol kemudian memoles bibirnya menggunakan madu.
Tak lama setelah itu Rina keluar dari kamar mandi menggunakan sarung gluyur dari katun murni. Membuat dada dan kakinya yang eksotis nampak menggiurkan.
"Ada apa nih?" Ibrahim sudah tahu ada yang mau minta sesuatu dan ia harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Tampilan Karina sekarang seperti gadis desa di zaman purbakala yang mau pergi mandi hanya menggunakan jarik saja
"Eleh-eleh si papi mah paling tau isi hatiku. Di acc nggak nih?" Rina masih berdiri agak jauh dari Ibrahim. Menggigit kuku ibu jarinya sambil menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri.
"As you wish!" Ibrahim menutup jurnal ilmiahnya dan melepas kacamatanya. Ia menelan ludahnya sendiri sebelum mendapat adegan live dari istrinya. Mulutnya menganga kemudian menggigit bibirnya saat Rina perlahan-lahan melepas kain yang menutupi tubuhnya yang sudah tidak memakai apa-apa.
"I am yours" Bisik Rina yang sudah duduk di atas pangkuan suaminya.
Pergumulan panas pun terjadi di atas tempat tidur dengan gaya yang diminta oleh sang suami sebagai pengendali. Memanfaatkan sebaik-baiknya rezeki yang ada. Membuat istrinya dengan senang hati melakukan berbagai gaya seperti yang dia minta.
" Han, rambutnya sudah ada yang putih..." Goda Rina mau mengatakan kalau suaminya sudah tua saat mereka menyelesaikan olahraga.
" Ini juga, badan sekecil ini kenapa bisa nahan badan seberat ini..." Ibrahim malah membalikkan kata-kata membuatnya mengerucutkan bibirnya.
Bagaimana tidak tingginya hanya 160 dengan berat badan empat puluh tujuh. Sedangkan suaminya tinggi besar dengan tinggi 190cm dan berat badan 90.
"Kok bisa yah mi? Malah bilangnya yang cepat han, lebih masuk ke dalam"
"Ihhh.... papi!!!.... Nggak usah diomongin kenapa. Kalau udah selesai ya udah nggak boleh di bahas apalagi diperjelas. Gusti kan Maha Adil meski badanku kecil tapi ya bisalah nahan badannya papi yang se hoha ini. Makanya olah raga pi! Biar nggak kena penyakit. Ingat umur pi!!"
"Umur cuma angka buktinya mami jadi semangat kan kalau abis di charger sama papi! Papi emang jagonya nyembuhin pegel- pegel ya mi!"
"Ish.... nggak usah dibahas kenapa si pi? Kan sudah praktek. Malu tahu Pi"
Ibrahim menautkam kedua alisnya," Malu? Malu darimana? Datang-datang langsung show tadi siapa?"
__ADS_1
"Ish.... papi ya. Ya udah ya udah..... Nggak usah dibahas lagi"
"Mami mau apa?"
"Hehe.... mau lihat cctv dari Ronald sebulan yang lalu. Papi kan sayang aku yang paling bisa diandalkan. Yang paling ehem, paling seksi, paling ganteng sejagat raya. Tolongin ya Pi!"
"Kalau itu meruntuhkan harga diriku sayang. Kompensasi nya kurang kalau itu"
" Papi ya...."
"Up to you sih!" Ibrahim merentangkan tubuhnya agar sang istri mulai bergerak lagi.
Rina mau jadi mata-mata karena sudah sebulan ini ia tak mendapati abangnya berbuat yang aneh-aneh. Ia kerap bertanya pada bu Jannah maupun kak Mia bagaimana sikap abangnya belakangan ini tapi tak ada yang mencurigakan maka ia pun mencoba mempercayai kalau itu cuma prasangkanya saja. Tapi kata-kata suaminya membuatnya ingin menjadi detektif untuk mengungkap misteri keluarga abangnya Lukman.
"Ini istriku yang dulu suka curi pandang sama aku" Katanya mengingat masa lalu mereka.
"Geer bat si papi.... Siapa juga yang suka curi pandang?"
"Aku punya istri satu rasa empat" Gumam Ibrahim.
"Istriku yang pertama itu kalau ke rumah sakit pakai baju casual dan sepatu kets. Kayak anak-anak itu kamu mi"
"Hem...." Jawab Rina dengan mata terpejam.
"Kalau istri kedua ku itu kalau pas ada acara kamu selalu tampil all out sampai aku pangling, ini istriku betulan atau bukan?"
Rina tersenyum mendengarkan isi hati sang suami.
"Istriku yang ketiga itu kalau lagi emosi jiwa. Sampai takut aku. Kalau-kalau aku di tendang sama yang punya sabuk hitam"
"Kalau ini.... ini istriku yang keempat ini" Katanya sambil merapatkan pelukan mereka.
__ADS_1