Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Kamu lagi apa


__ADS_3

Laila segera menuju resepsionis untuk bertanya ruangan Dahlia tempat cucu bu Mimin dirawat. Dia juga bertanya apakah dokter kandungan hari ini sedang ada praktek atau tidak. Dan kebetulan sekali dokter spesialis kandungan buka praktek hari ini sejak jam empat sore tadi.


Yang luput dari perkiraannya adalah ternyata banyak yang sudah daftar lewat online jadi dia tidak bisa mendapat antrian dengan nomer yang diharapkan. Ia dapat nomer antrian nomer 10 dan sekarang dokter sedang memeriksa pasien dengan nomer antrian 3. Berarti dia harus menunggu lebih lama lagi.


Kalau saja dia tak ingin menyembunyikan hal itu terlebih dulu mungkin tidak seribet ini tapi untuk saat ini dia ingin memastikan dulu apakah dia hamil atau tidak tapi tidak mungkin jika harus menunggu tujuh antrian lagi, keburu Rina mencarinya nanti.


Ia pun memutuskan untuk membesuk keluarganya bu Mimin dulu dan menyempatkan membeli testpack di apotek rumah sakit. Tak tanggung-tanggung dia membeli 10 buah testpack dengan merk berbeda untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Setelah bertanya kesana kemari akhirnya dia sampai di ruangan Dahlia. Bangsal kelas tiga adalah ruangan panjang yang berisi sekitar enam pasien. Hanya berbatas kelambu tinggi sebagai penyekat antara pasien satu dengan pasien lainnya. Juga hanya ada satu tempat duduk untuk keluarga yang sedang menunggu.


Setelah berbasa-basi Laila mengetahui kalau anak yang bernama Naimah itu mengalami tipes.


"Kata dokternya kena tipes gitu neng"


"Panas terus dingin yang menggigil gitu ya bu?"


"Iya neng. Kalau dulu ada neng Ani enak. Kalau sakit bisa langsung diperiksa sama dokter Ani. Ini tadi malam bingung badannya kok malah menggigil kayak gitu. Mau minta tolong sama keluarganya ustadz Alif malu. Sudah malam-malam ganggu"


"Nggak papa bu. Bel aja! Rumah bang Alif sama rumah ayah. Insya Alloh dengan senang hati kami membantu. Nanti kalau sudah diperbolehkan pulang sama dokter telpon ke saya aja biar di jemput nanti sama orang yang lagi ada di rumah"


"Makasih neng Lala" Kata Bu Mimin juga anaknya mbak Etik.


"Assalamualaikum...." Terdengar suara nyaring di balik pintu membuat seisi ruangan itu melihat ke arah suara.


"Waalaikumsalam"


Si manis kecil mungil itu terlihat kikuk menganggukkan kepala ke kiri dan kekanan menyapa orang-orang yang dilewatinya.


"Eh ada neng Rina. Apa kabar neng?"


"Alhamdulillah baik bu"


Rina kemudian bertanya kesana kemari dan malah terdengar seperti menginterogasi. Entahlah apa yang ada dalam pikiran adik iparnya saat ini. Ketika mendengar suara adzan barulah mereka berpamitan.

__ADS_1


Saat melewati antrian dokter kandungan Laila melihat seseorang yang sedang duduk di antara para pengantri seperti sosok sang suami. Tapi Rina menghalau pandangannya.


"Ayo cepetan kak, kasihan anak-anak pasti sudah pada nungguin!" Kata Rina sambil memeluk pundaknya mengajaknya untuk bergegas meninggalkan rumah sakit itu.


Mereka akhirnya memilih solat di masjid terdekat agar tenang saat di perjalanan pulang.


Di dalam mobil, Karina berkali-kali menghela nafasnya seperti orang yang sedang gugup. Ia mengendarai mobil lebih cepat dari biasanya sambil tak henti berbicara. Memang biasanya Karina yang paling ramai diantara mereka tapi kali ini lebih cerewet lagi. Apa saja ia bicarakan. Random sekali bicaranya hari ini.


Beberapa kali Rina berbicara sesuatu yang berhubungan dengan istilah-istilah rumah sakit dan Laila hanya mendengarkan saja karena ia tak mengerti sama sekali.


"Kamu sudah nggak pernah mabuk lagi kalau naik mobil ya?" Tanya Laila ingin tahu karena di awal-awal pernikahannya dia diberitahu kalau adik iparnya itu alergi naik mobil. Naik mobil apa saja pasti mabuk. Bukan hanya mobil jelek saja tapi mobil bagus pun sama. Kalau naik mobil milik bang Alif dan milik pak Dirman barulah dia tidak mabuk. Dulu ia terlihat sangat tidak suka naik mobil.


"Sama kayak dulu sih kak. Kalau naik mobil orang lain masih suka kliyengan gitu. Naik mobilnya bang Zainal saja kepalaku terasa berputar-putar. Kalau ini sama si putih nggak papa. Pokoknya paling the best itu naik motor. Perut nggak mual kepala nggak pusing dan yang terpenting cepat sampainya karena kita bisa nyalip kendaraan lain"


Sudah kaya raya juga ternyata masih sama. Nggak ada yang berubah dari adik iparnya yang selalu ceria dan bisa menghidupkan suasana ini. Selalu ceriwis dimanapun dia berada.


.


.


.


"Mami lama banget sih mi. Udah ditungguin papi dari tadi tuh." Kata Aliyah sambil menggandeng lengan maminya.


"Udah mau isyak, adek siap-siap solat dulu ya..." Kata Laila sambil menggandeng tangan si kecil untuk masuk ke dalam rumah.


Ternyata sudah ada Zainal si pemilik swalayan juga dokter Ibrahim di ruang tamu sedang berbincang-bincang dengan bang Alif juga ayah mertuanya.


"Bun..." Labib meminta ibunya untuk mendekatkan telinganya.


"Adek kangen ayah. Mau solat bareng ayah...." Kata Labib dengan mata berkaca-kaca dan menundukkan pandangannya.


"Tadi siang ayah pulang tapi adek lagi bobok jadi ayah berangkat lagi."

__ADS_1


"Kok nggak dibangunin? Nanti malam ayah pulang nggak?" Tanya Labib sambil menyusut ujung matanya.


"Sebelum ayah berangkat tadi, ayah cium-cium adek kayak gini...." Laila menciumi pipi Labib sampai anak kecil gembul dan menggemaskan itu tertawa.


.


.


.


Setelah solat Isyak para wanita bercengkerama di ruang tengah. Ada bu Jannah, kak Mia, Dokter Ani, Karina dan Laila.


Berkumpul bersama saudara selalu membuat suasana hati Laila bahagia. Itu adalah anugrah yang paling ia syukuri. Mempunyai keluarga yang tulus menyayanginya. Dia juga sempat melakukan panggilan video dengan Doni yang sekarang ada di Jepang.


Doni mengatakan kalau disana sedang Musim gugur. Di musim ini, suhu panas mulai menurun, digantikan dengan cuaca yang paling nyaman dan paling menyenangkan. Puncak dedaunan berubah warna berlangsung dari Oktober hingga akhir November. Dedaunan menguning dan berguguran dengan indah di sepanjang jalan. Hanya saja saat ini Doni sedang berada di mesnya sehingga dia tidak bisa menunjukkan keindahan alam itu.


Laila mencoba mengalihkan pembicaraan jika salah satu dari mereka bertanya tentang suaminya. Sebisa mungkin menjawab dengan jujur dan menyembunyikan persangkaan di hatinya. Mencoba menjelaskan pada keluarganya kalau kehidupan rumah tangganya baik-baik saja.


Sekitar jam sembilan malam Zainal mengajak istrinya pulang karena hari sudah larut malam.


Mereka semua mengantarkan kepergian pasangan paling mesra seantero jagat raya.


Zainal mengeratkan jalinan tangan mereka terutama saat menuruni tangga. Dari atas sesekali Laila dapat melihat Zainal mantan bos nya itu mengusap perut buncit sang istri. Tanpa dia sadari ia pun mengusap perutnya sendiri.


Dari tempatnya ia bisa melihat Zainal juga membukakan pintu untuk istrinya, merapikan pakaian Ani agar tidak ada yang menyangkut atau apa. Barulah setelah itu Zainal sendiri masuk dan melambaikan tangan pada kami sambil mengucapkan salam.


Laila merasa ada yang hilang. Buru-buru ia masuk ke dalam sebelum ada yang memergokinya sedang menangis.


' Kamu lagi apa sekarang mas?"


...****************...


Tipes atau demam tifoid adalah penyakit yang terjadi karena infeksi bakteri Salmonella typhi yang menyebar melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Penyakit ini yang banyak terjadi di negara-negara berkembang dan lebih sering dialami oleh anak-anak. Tifus dapat membahayakan nyawa jika tidak ditangani dengan baik dan secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2