Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
lagi


__ADS_3

Pengantin baru itu sedang berpelukan setelah sesi saling memberi. Kecupan bertubi-tubi di berikan oleh sang suami pada sang istri tak henti-henti.


"Sakit nggak?" Tanya Lukman penasaran setelah menggempur istrinya dengan segenap kekuatan yang dia miliki.


Laila menggeleng pelan sambil menyembunyikan kepalanya di ketiak suaminya.


"Enak?" Tanya Lukman lagi.


"Ehmmmm...... enak nggak ya?" Kata Laila sambil mengetuk jari telunjuknya di bibirnya.


"Kita ulangi sekali lagi, biar tahu enak apa nggak. Kita review ulang!" Kata Lukman yang sudah siap dengan pemanasan ulang. Kali ini ia memulai dari leher jenjangnya Laila.


"Maaasss....! Geli....!!!!"


"Enak nggak tadi?" Tanya Lukman dengan tangan yang bermain di dada sang istri.


Laila menggigit bibirnya sambil memejamkan matanya. Ia tersulut gairah tapi raganya sudah tak kuat lagi untuk mendesah. Tubuhnya terasa remuk redam karena kekuatan sang suami yang tak terkendali. Lukman seperti orang yang berbuka setelah lama berpuasa. Memuaskan dahaganya.


Laila yang awalnya ingin merasakan rasanya memecah perawan kini malah ketakutan kalau suaminya akan memakannya sekali lagi. Ia benar-benar sudah tidak sanggup lagi.


"Ampun mass.... ssshhhh....!!!!"


"Enak nggak tadi?"


"Iya enak. Ennak banget...." Kata Laila dengan terpaksa sambil menggigit bibirnya karena tangan suaminya masih saja berulah ke mana-mana.


Cup


Lukman mencium bibir Laila.


"Gitu dong!! Bilang enak! Biar aku tahu. Kamu sudah nggak perawan lagi lho sekarang!" Kata Lukman lagi.


"Emang mas sejak kapan sudah nggak perjaka?" Tanya Laila sambil melihat wajah suaminya


"Kan kamu yang ambil keperjakaanku. Kamu harus tanggung jawab!" Lukman menggoda istrinya.


"Iiihhh..... bukannya kebalik ya?" Kata Laila sedikit kesal.


"Aku maunya setelah kita sah baru pecah perjaka tapi karena kamu yang sudah nggak sabar jadi ya....."


"Kok aku....?" Tanya Laila nggak terima sambil mengerucutkan bibirnya kemudian membalik tubuhnya memunggungi suaminya.


"Aku itu bukan udah kebelet ya mas, cuma aneh aja lihat kamu kayak nggak minat gitu sama aku...."


"Bukan nggak minat... Aku pingin banget malahan tapi aku menahannya biar sah dulu secara negara... Maaf !! jangan marah ya!" Kata Lukman sambil memeluk perut istrinya dan menciumi pipinya.


"Malahan sebelum kita nikah saja dia sering tegang gara-gara kamu...." Kata Lukman lagi.


Laila yang mendengar hal itu kemudian berbalik


"Masa?"

__ADS_1


Lukman menganggukkan kepala dan membawa tangan istrinya itu ke senjatanya yang sudah berdiri sejak tadi. Mereka belum berpakaian setelah pergulatan panas tadi membuat kulit keduanya saling bersentuhan dan itu membuat darah Lukman berdesir kembali.


"Masss....." Teriak Laila yang langsung dibekap oleh suaminya.


"Shutttt nanti Doni dengar....!"


"Aku masih capek...."


"Satu kali lagi...... ! please....Kasihan dia .... !!ok ?Kamu cukup diam dan rasakan saja! Besok biar aku yang masak ? Boleh kan?"


"Cuma sekali lagi ya?"


"Iya janji...."


Dan terjadilah lagi sampai mereka mencapai puncaknya dengan deru nafas yang memburu yang di akhiri dengan berpelukan untuk mendinginkan suhu badan.


"Yank.... dulu aku tidak pernah solat.....itu gimana?" Laila memulai percakapan saat mereka masih berpelukan.


"Apa?"


"Harus solat lagi atau gimana?"


"Coba diulangi...!"


"Dulu aku tidak solat..."


"Kata yang sebelum itu.."


"Ulangi dari awal!"


"Yank..... dulu... aku...."


"Kamu panggil aku apa?"


Laila tersenyum baru mengerti arah tujuan pertanyaan suaminya.


"Sayang.... nggak suka ya? maunya dipanggil apa?"


"Sejak kapan sayang sama aku?" kata Lukman sambil meraih kepala istrinya dan menenggelamkannya dalam dadanya.


"Sejak..... waktu itu.."


"Kapan?"


"Masa aku yang ngomong duluan..? Nggak mau ah..."


"I love you.."


"Apa ?" Laila mendongakkan kepalanya sehingga bisa melihat wajah Lukman,,"nggak dengar tadi.."


"I- love - you" Laila tersenyum sambil menenggelamkan kepalanya di dada suaminya yang berbulu halus diantara dada sampai perut ke bawah

__ADS_1


"I love you too" ia menghirup keringat suaminya yang menurutnya lebih wangi daripada parfum apapun yang pernah ia hirup. Sedangkan Lukman juga mencium puncak kepalanya Laila.


"Aku gimana bayar hutang solatnya?" tanya Laila lagi


"Tiap habis solat fardlu terus solat lagi, niat mengqodlo solat. Misalnya solat dhuhur niatnya, usolli fardlodh dhuhri arba'a rokaatin mustaqbilal qiblati qodlo'an lillahi ta'ala. aku Niat meng qodlo solat dhuhur karena Allah taala. Jangan lupa istighfar dan taubat nasuha. Janji pada Alloh nggak akan ninggalin solat lagi" Laila manggut-manggut mendengarkan penjelasan Lukman sambil mengeratkan pelukannya pada punggung suaminya.


"Kenapa nggak pernah solat?" Tanya Lukman.


"Capek. kerja terus. Beban hidupku berat. Nggak ada tempat bersandar... tapi sekarang aku baru tahu ternyata banyak orang yang hidupnya lebih susah dari aku tetapi mereka tetap beribadah...."


"Namanya orang hidup di dunia pasti diberi ujian hidup. Kalau sudah mati ya tidak diuji lagi. Tinggal menikmati hasilnya selama hidup di dunia"


"Uhs.... kalau ngomong itu kenapa selalu nylekit begitu sih..."Laila menjepit bibir Lukman dengan jari-jarinya.


Malam itu mereka bergadang membicarakan tentang banyak hal, tak perduli pagi menjelang.


"Besok aku akan mendaftarkan pernikahan kita di KUA. siapkan foto kopi KTP sama KK. Kita akan mengadakan resepsi sederhana di rumah ayah. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan sayang?"


"Sayang ....? sejak kapan sayang padaku?" Laila bertanya balik pada suaminya.


"Kapan ya? mungkin sejak kamu solat di masjid swalayan..."


"Mas...."


"Hem..." Lukman menyentuh hidung Laila dan menyusuri wajah cantik milik istrinya. dengan jari telunjuknya


"Aku pingin lamaran kayak orang-orang...."


"Maksudnya yang romantis gitu?"


"Bukan... itu.... keluarga mas kesini sama bawa hantaran kue-kue yang dihias... kayak gitu...."


"Ohh.... cuma kue kan? aku belum panen soalnya, lagi bokek"


"Iya.... aku akan mencoba menghubungi keluarga jauh ayah dan ibu, barangkali mereka bisa datang"


"Hem..."


Laila memutar-mutar telunjuknya di dada Lukman, membentuk pola-pola abstrak. Menulis namanya, nama suaminya, menulis i love you. Menyusuri garis wajah Lukman. Semuanya disentuhnya. Begitupun sebaliknya. Lukman memainkan rambut istrinya, menyentuh wajah dan bagian tubuh istrinya yang lain dengan jari dan terkadang dengan bibirnya membuat Laila kegelian dan berkali-kali memukul lengan suaminya.


"Nanti mandinya baca doa nawaitul ghusla lirof'il hadastil Akbari minal jinabati fardhol lillahi ta'ala kemudian niat dalam hati aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar jinabah karena Allah ta'ala sambil mengguyur badan dengan air. Semua bagian tubuh harus kena air termasuk yang disela-sela lipatan. Telinga, mata, ketiak, kuku, hidung ,rongga mulut, pusar, qubul maupun ***** juga harus terkena air jangan sampai ada yang terlewati. Faham nggak?"


"Iya nanti kalau aku tidak faham aku akan tanya sama mas saja"


"Ada Doni disini, kalau di rumah ayah besok ada kamar mandi di dalam kamarku" Katanya menjelaskan.


"Waaah....enaknya....." Hanya mendengarnya saja Laila merasa bahagia


.


.

__ADS_1


Saat Laila mencari sprei di lemarinya ia menemukan bungkusan yang ternyata berisi uang. Dan menurutnya itu sangat banyak


__ADS_2