
Lukman sedang mengawasi para buruh tani yang sedang mengangkut padi yang sudah dimasukkan ke dalam karung-karung besar dan ditaruh di atas mobil pickup yang nantinya akan dibawa ke tempat penjemuran.
Setelah batang-batang padi ditebas langsung dimasukkan ke dalam mesin perontok di sawah yang sudah selesai di panen. Setelah itu biasanya keesokan harinya para tetangga memakai alat yang disebut ani-ani untuk mengambil sisa-sisa padi yang tidak tertebas. Meski cuma ani-ani atau ngasak mereka bisa mendapatkan gabah satu sampai dua sak karung
Peluh-peluh yang berjatuhan di tubuh para petani nampak mengkilap seperti kilauan permata. Diantara mereka ada beberapa yang tidak memakai baju dan perutnya terlihat sixpack meski warna kulit mereka terlihat coklat kehitam-hitaman.
Para buruh tani yang mengangkut karung berisi padi yang beratnya mungkin sampai 50 kilogram lebih. Pantas saja badan mereka kekar dan terbentuk karena secara tak sengaja mereka seperti berlatih beban setiap harinya.
Lukman seperti menatap para pekerja tapi nyatanya pikirannya sedang merenungi perbincangannya semalam dengan sang istri.
Laila meminta izin mau membeli ruko di pinggiran kota dan Lukman hanya berkata terserah saja.
"Pakailah uangmu sesukamu. Itu hakmu. Tidak perlu minta izin padaku" Kata Lukman sambil memeluk sang istri saat mereka sudah siap untuk beristirahat malam.
__ADS_1
Setiap malam mereka berpelukan bahkan sering mereka melakukan adegan dewasa tapi keduanya masih teguh dengan keegoisannya masing-masing. Ingin dimengerti tanpa harus mengucap kata. Seharusnya dia kan tahu apa yang terbersit dalam hatiku karena kami sudah hidup bertahun-tahun bersama. Kata-kata sakti itu yang sering terucap oleh suami atau istri saat marah kepada pasangannya yang dampaknya sangat menyakitkan kedua belah pihak.
Laila ingin suaminya itu mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Bersikap posesif yang terkadang menjengkelkan seperti sebelum-sebelumnya tapi kali ini ia merindukan hal itu dari suaminya. Dulu Lukman bertanya dengan teliti kemudian dia akan meninjau tempat itu sebelum akhirnya menyetujui permintaan sang istri.
Lukman pun berpikiran yang sama tapi enggan melakukannya karena sebelumnya Laila membuatnya kesal dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia ulang-ulang.
"Mas sudah ketemu calon yang cocok? Perlu dicarikan nggak?" Tanya Laila begitu mereka selesai melakukan ritual suami istri.
"Nggak perlu. Aku bisa cari sendiri" Lukman memantapkan hati untuk mencari seseorang yang akan dijadikan istri kedua karena ini seperti sebuah tantangan dari istrinya
.
.
__ADS_1
.
"Pak, ditunggu bapak kepala desa di kantor. Ada yang mau beliau diskusikan" Daniah ternyata sudah berada di sampingnya tanpa ia sadari sejak kapan dia disana. Bajunya sekarang lebih tertutup dan ia seperti menahan diri untuk menjadi wanita yang jual mahal untuk menarik perhatian sang atasan.
"Ayo!" Katanya sambil berjalan meninggalkan sawah yang kini terbentang seperti Permadi yang berwarna kekuning-kuningan.
Daniah merasa senang bisa berjalan bersandingan dengan Lukman tapi sebisa mungkin menahan diri dengan tetap tenang dan bersikap profesional tapi bagi Lukman tak ada yang membuatnya tertarik pada Daniah yang sudah jelas-jelas menaruh hati padanya.
Lukman mencoba menyukai Daniah tapi hatinya tak tergerak juga. Tak ada sesuatu yang mirip dengan istrinya pada diri Daniah yang membuat jantungnya berdegup kencang saat seperti bersama dengan sang istri. Lukman memang tergolong pria yang susah jatuh cinta dan sekalinya jatuh cinta dia akan kesulitan melupakannya.
Hari hampir gelap saat ia berada di perjalanan pulang. Sayup-sayup dia mendengar seorang gadis meminta tolong diantara rimbunnya tanaman di perkebunan milik salah seorang saudagar yang dilaluinya.
Awalnya Lukman berniat tak perduli dan ingin langsung melaju pulang ke rumah sampai ia melihat ke belakang melalui spion dan melihat seorang gadis berlari di jalan setapak yang ia lalui sambil memanggilnya dan meminta tolong.
__ADS_1
Lukman pun menghentikan kuda besinya secara mendadak untuk memberi tumpangan pada gadis yang berlari seperti kesetanan.