
Laila menatap Lukman yang sudah membuka mata selepas ia menuntaskan wujud rasa syukurnya. Berterimakasih atas karunia-Nya yang indah dengan memberi kesempatan padanya untuk bisa bersama dengan suaminya lagi.
"Bang....!" Laila menyunggingkan senyum tak berani menyentuh lelaki yang bertahun-tahun menjadi suaminya.
Perasaan malu berbalut tahu diri dan merasa rendah diri menyelimuti hati yang kini tak sama lagi. Mencoba membangun kebahagiaan dengan cinta yang masih saja menggelora seperti saat pertama kali bertemu tapi dengan cara yang berbeda. Meski sudah bertahun-tahun hidup bersama dalam mahligai rumah tangga nyatanya cinta Laila pada Lukman tak pernah surut. Meski ombak baru saja datang hendak menggulung semua cerita diantara mereka tapi Laila tak sanggup berpaling dari si pria berkulit coklat berbadan atletis itu. Laila mencintainya seperti orang gila.
Hanya saja ini seperti memulai kisah baru. Seperti dua orang remaja yang menahan rindu kemudian bisa bertemu. Begitulah keadaan Laila saat ini. Malu-malu kucing. Sayangnya si kucing garong hanya bisa menatap saja belum bisa menggerakkan tubuhnya. Hanya kelopak matanya saja yang saat ini bisa bergerak sesuai keinginannya.
Melalui isyarat mata ia balas tersenyum pada pujaan hatinya. Sosok yang sudah lama menemaninya. Wanita yang mau mengandung benih kehidupan miliknya meskipun kerap keguguran tapi ia tak pernah jera dan ingin mencobanya lagi dan lagi.
"Kalau punya anak banyak itu enak mas. Anak-anak bisa bergantian menemani kita kalau kita nanti sudah tua." Begitu katanya dulu.
Ranjang Lukman didorong keluar oleh para petugas dan Laila hanya menatapnya saja tanpa berniat ingin berada di sampingnya. Ia justru melipat bibirnya sendiri karena rasa rindu yang membuncah dalam dadanya menginginkan dirinya untuk menyentuh sang suami. Memeluk dan menciumi wajahnya, itu yang ada dalam benaknya sekarang.
Dokter kemudian menjelaskan pada Laila apa yang harus ia kerjakan dan harus ia perhatikan untuk pemulihan Lukman. Ia memperhatikan dengan seksama wejangan dari dokter yang menangani sang suami.
Semua orang sudah keluar dari ruangan hanya tinggal Karina dan Laila juga si pasien istimewa yang ditempatkan di ruang VVIP.
"Kak...! Katanya mau nyeka..." Rina mengagetkan Laila yang meremas jemarinya karena jantungnya berdegup tak karuan.
Ini bukan yang pertama kali mereka bersentuhan tapi rasanya sungguh canggung luar biasa. Bahkan yang lebih dari itu sudah sering mereka kerjakan bersama. Tapi entah kenapa kali ini mukanya merah padam seperti seorang gadis di malam pertama setelah menikah dengan pujaan hatinya.
"Kak Lala! Ih... kenapa mukanya jadi merah begitu. Kayak yang nggak pernah lihat tubuh abang aja deh. Padahal anaknya sudah banyak." Rina malah merasa aneh dengan tingkah kakak iparnya.
__ADS_1
Laila memalingkan muka karena wajahnya terasa panas akibat rasa malu yang menyergap luar biasa.
"Biar aku aja yang nyeka abang!" Rina mau mengambil washlap yang sudah disediakan perawat di sisi wadah berisi air hangat.
"Biar aku aja. Kamu keluar sana!" Usir Laila pada adik iparnya.
"Ugh.... Dasar Laila majnun!" Ledek Rina.
"Kamu tuh ya...! Sudah sana!"
"Apaan.... lelaki macam gini aja digilai..." Ucap Karina sambil beranjak pergi.
"Hidup yang realistis aja kak! Beli pelajaran supaya jera. Kebiri aja kalau perlu!" Rina masih belum puas dan masih mengomel saja membuat Laila geleng-geleng kepala.
Lukman yang bisa mendengar perkataan Karina dengan jelas ingin sekali menjitak kepala adiknya. Adik yang sudah dijaga dan disayanginya sedemikian rupa sekarang sangat meremehkan dirinya. Ia tahu ia salah tapi setidaknya sebagai saudara kandung setidaknya dia adalah orang yang akan selalu membelanya meski seluruh dunia mencelanya.
Membuka baju bagian atasnya dan mengusap dada penuh bulu itu dalam waktu yang cukup lama karena konsentrasi nya terpecah. Berkali-kali menelan ludah karena tatapan penuh cinta yang dihadiahkan padanya. Ingin sekali ia menyandarkan kepalanya di dada bidang dan kekar itu tapi ia menahannya. Ia ingat kata-katanya sendiri saat berjanji akan membiarkan Lukman pergi jika dia sudah sembuh. Tak akan mencoba menghalangi lagi. Maka ia tak ingin bermanja-manja pada Lukman karena itu hanya akan membuatnya semakin sulit untuk melepaskan nantinya.
Tubuh bagian atas sudah selesai dibasuh dan dikeringkan. Pakaian juga sudah dipakaikan kembali meski sedikit kesulitan karena Laila tak meminta pertolongan pada perawat. Ia berupaya sendiri untuk memakaikan baju pada suaminya yang masih belum bisa bergerak dengan tiang infus dan oksigen yang masih menempel di tubuhnya.
Giliran tubuh bagian bawah yang harus ia bersihkan membuat wanita beranak dua itu semakin gugup.
Lukman yang melihat reaksi istrinya merasa gemas sekali. Sayangnya ia tak bisa berbuat apa-apa. Laila sudah sering melihatnya apalagi merasakan kehebatan si burung perkasa tapi wajahnya membias merah.
__ADS_1
"Aku cuma mau membersihkan aja bang. Abang tutup mata dulu ya.. maaf!" Ia menaruh kain tipis di atas mata Lukman sehingga pria itu mau tak mau harus memejamkan mata dan tidak bisa melihat reaksi gugup istrinya.
Laila berkali-kali menarik nafas dan membuangnya seakan ingin menetralisir degupan jantungnya yang menggila. Alat tempur itu masih sama hanya saja sekarang rasanya menjadi berbeda saat ia menyentuhnya.
Perlahan-lahan ia bersihkan dengan seksama bagian-bagian yang tersembunyi. Lipatan-lipatan ia buka dan disekanya menggunakan air hangat yang masih tersisa.
"Huffftt....." Ia menghembuskan nafas dengan lega setelah selesai menunaikan tugasnya dengan peluh berjatuhan dan dada yang berdetak kencang.
"Hehe.... sudah selesai.... Abang sudah bersih sekarang. Enak kan? Seger nggak?" Laila menarik sudut bibirnya setelah membuka penutup mata suaminya.
Mata Lukman nampak berbunga-bunga merasa lucu dengan wajah Laila yang merah merona. Padahal sudah sering buka-bukaan tapi masih saja malu-malu. Kalau saja tubuhnya sehat seperti dulu ia akan menerjang istrinya dan tidak akan memberi ampun.
.
.
.
Septi kembali ke panti tempat ia disembunyikan oleh Rina. Sebelumnya ia bisa keluar dari sana karena mengancam akan bunuh diri jika ia tak dipertemukan dengan Lukman.
Rina yang masih merasa anak dalam kandungan Septi adalah anak biologis Lukman tak sampai hati membiarkan wanita itu stres apalagi sampai bunuh diri. Karena itu Rina mengizinkan Septi untuk melihat abangnya dari kejauhan. Tidak sampai sepuluh menit tapi anak buah Rina sudah menyeretnya dan ia minta perpanjangan waktu sedikit lagi tapi mereka tak mengizinkannya. Jadilah drama tadi.
Ia merasa bersalah pada istri lelaki pujaan hatinya yang nampak setia menunggui Lukman padahal sudah jelas pertemuan pertama mereka mengakibatkan Laila kehilangan bayi dalam kandungannya. Yang nampak di mata Septi adalah kesetiaan dan cinta luar biasa yang dimiliki oleh Laila.
__ADS_1
Tapi pesona Lukman sungguh memikat dirinya. Belum ada orang yang memperlakukan dia sebaik Lukman karena itu berharap tak akan kehilangan Lukman. Menjadi simpanan pun ia rela tapi sekarang ia merasa bersalah pada Laila.
Hatinya merasa gundah gulana. Bolehkah ia mengharapkan Lukman ataukah ia harus merelakan Lukman kembali pada keluarganya dan tak bertemu dengan nya lagi?