
Mereka berempat sudah duduk mengitari meja makan. Sebenarnya mereka sudah sarapan tapi sesekali memanjakan perut tak masalah.
"Kamu jadi pilih undangan yang mana?" Tanya Kak Mia yang sudah duduk manis di samping bang Alif.
"Belum tahu kak... Masih bingung..." Jawab Laila sambil mencuil roti Maryam yang ada di atas piringnya.
"Kalau aku pilih yang warna hijau kemarin. Warnanya segar bikin adem dam sejuk. Desainnya unik ada kalendernya juga jadi nggak langsung dibuang. Bisa jadi kalender meja. Dan yang penting harganya nggak terlalu mahal" Kak Mia memberikan pendapatnya.
"Iya yang itu saja nggak papa kak..." Jawab Laila. Tadinya ia ingin minta pendapat pada Lukman tapi urung karena selisih pendapat diantara mereka.
"Kamu bikin list siapa saja yang mau kamu undang..." Kata Kak Mia lagi.
"Ehem...!" Lukman berdehem untuk melonggarkan tenggorokan karena ia mau mengadukan istrinya langsung di depan orangnya. Ia menghela nafas karena merasa perbuatan nya seperti anak kecil yang sedang mengadu pad orang tuanya.
"Aku ikut kakak saja. Aku juga nggak punya teman meski sudah lama disini. Aku cuma pingin ngundang Septi.." Ujarnya biasa saja. Tak merasa kalau suaminya tak nyaman dengan hal itu. Ia cuek saja.
Lukman mendengus sebal tapi tak mengucapkan apapun. Ia berharap bang Alif turun tangan dan mau memberi nasehat pada sang istri karena jika dia sendiri yang berargumen maka cerita nya pasti beda.
Bang Alif sepertinya tahu apa yang menjadi masalah diantara duo L itu. Masalah mantan rupanya. Terlebih dahulu bang Alif minum air putih karena mau bercerita panjang lebar untuk istri juga adik-adik nya. Terutama untuk adik iparnya Laila.
"Pada tahun ke tujuh Hijriyah terjadi peristiwa yang disebut sebagai umrotul Qodho'. Umrotul qodho' adalah umrah pengganti karena pada tahun ke-6 Hijriyah Rasulullah saw hendak melaksanakan umroh bersama para sahabat tetapi dihalang-halangi oleh orang kafir Quraisy. Beliau tidak diizinkan memasuki kota Mekah kemudian terjadilah bai'atul Ridwan. Menyusul setelah itu diadakannya perjanjian hudaibiyah.
Salah satu klausul dalam perjanjian hudaibiyah adalah tahun ke-6 Rasulullah tidak boleh masuk ke kota Mekah sehingga beliau wajib pulang ke Madinah tetapi beliau diberikan izin untuk datang lagi di tahun berikutnya yaitu pada tahun 7 Hijriyah dengan membawa para sahabat untuk berumrah kemudian umroh itu disebut sebagai umrotul Qodho'.
__ADS_1
Nabi dan para sahabat tidak boleh membawa senjata apapun kecuali pedang di dalam sarungnya nggak boleh bawa tombak, nggak boleh bawa panah, nggak boleh bawa tameng, nggak boleh pakai baju besi. Hanya boleh membawa pedang dalam sarungnya.
Kenapa..? Karena membawa pedang dalam sarung adalah fashion pada zaman itu. Jika zaman sekarang, itu sama seperti membawa gadget. Tak lengkap rasanya kemana-mana tanpa membawa gadget.
Maka Saat bulan Dzulqa’dah tahun ke-7 Hijriyah, Rasulullah SAW bersama rombongannya melaksanakan umrah yang sempat tertunda. Mendengar kedatangan Rasulullah, penduduk Makkah keluar dengan menyingkir ke perbukitan selama Rasulullah umrah. Sebab, hal tersebut merupakan isi dari perjanjian Hudaibiyah.
Orang-orang Kafir Quraisy mengira Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya merasa kesulitan selama terusir dari Makkah. Namun, saat Rasulullah SAW memasuki Masjidil Haram, beliau menyelubungkan jubahnya dan membiarkan lengan kanannya terbuka sehingga tangan-tangan kekar para sahabat bisa terlihat.
Kemudian Nabi dan para sahabatnya menunaikan manasik dan melaksanakan Towaf. Pada tiga kali putaran pertama tawaf dilakukan dengan lari-lari kecil dan setelahnya kemudian berjalan. Padahal mereka baru saja datang dari Madinah yang perjalanannya memakan waktu selama 8 hari.
Hikmahnya adalah untuk menunjukkan betapa perkasanya orang-orang Madinah, betapa kuatnya orang-orang yang datang bersama nabi baik Muhajirin maupun Ansor yang baru datang dan langsung melaksanakan tawaf.
Orang-orang kafir Quraisy merasa takjub saat melihat kaum muslimin dan kabar yang beredar selama ini bahwa orang-orang yang dulu terusir dari Mekkah mengalami kehidupan yang sulit bersama Rosul di Madinah tidaklah terbukti.
Tidak seperti sekarang yang jika kita mendaki ke bukit sofa jalannya landai, jalur ke arah sana sudah rata, lantainya marmer , dinginnya ac juga semriwing.
Dulu panasnya sangatlah terik, para sahabat dan Nabi shallallahu alaihi wasallam naik ke bukit sofa yang batunya tajam-tajam. Dan ketika Rasulullah memerintahkan untuk sa'i yakni berlari-lari kecil antara sofa dengan Marwah maka ada sahabat yang komplain.
Mereka adalah Kaum Ansor, orang-orang dari suku aus dan khazraj mengatakan,
"Ya Rasulullah mohon dispensasi. Kami nggak usah ikut sa'i saja bagaimana?"
"Kenapa? Apa alasannya?"
__ADS_1
"Karena kalau kami sa'i antara sofa dengan Marwah, nanti di tengah kami akan ketemu mantan, sesembahan kami pada zaman jahiliyah dulu"
( Antara sofa dan Marwah masih ada sebuah berhala besar yang bernama Manat. Berhala ini adalah sesembahannya orang aus dan khazraj pada zaman jahiliyah dan masih ada di antara sofa dan Marwah)
Orang-orang Anshar ingat dulu ketika mereka mentawafi Manat. Mereka turun dari sofa sebelum ke arah Marwah tapi memutari Manat terlebih dulu kemudian baru ke Marwah. Dan ketika balik lagi ke Sofa itu nggak langsung menuju Marwah tapi muterin Manat dulu baru ke Sofa.
Begitulah ritual Sai mereka dulu pada zaman jahiliyah dan di dekat Manat pada saat itu masih ada sebuah pohon besar. Sebuah batang pohon yang sudah mati tempat orang Ansor itu biasanya memasang paku kemudian menuliskan doa-doa mereka di lembaran-lembaran tertentu dari kulit dan sebagainya dan digantungkannya di situ.
Berkenaan dengan hal itu kemudian Allah menurunkan surat Al-Baqarah Ayat 158.
Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi'ar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya.
Di sini Allah hendak menjelaskan bahwa ini adalah syiar Allah nggak ada hubungan dengan mantan. Jika nanti di jalan bertemu dengan mantan nggak usah diperdulikan dan nggak dosa asal nggak ngapa-ngapain.
Ini menunjukkan iman yang sangat kokoh dari orang-orang Ansor. Orang itu kalau hijrahnya beneran mau ketemu tempat-tempat, lokasi-lokasi, kenangan-kenangan, orang-orang atau sosok-sosok yang dulu menjadi teman yang melakukan dosa itu pasti nggak enak. Ini ciri hijrah beneran kayak orang-orang ansor itu, jadi kalau ketemu dengan suasana, tempat, lokasi, kenangan yang seperti itu nggak akan enak."
Bang Alif memandang Laila sebentar kemudian melanjutkan.
"Nggak masalah kalau kamu ingin tetap berteman dengannya. Tapi nggak usah bawa-bawa Lukman. Kalau mau ketemu, ketemu saja nggak usah ajak-ajak suami. Dalam hal ini Lukman sudah benar. Dia nggak ingin ketemu dengan masa lalu yang karenanya dia pernah melakukan dosa dengan orang itu.
Jangan kamu malah mencoba mempertemukan mereka. Lukman sudah nggak ada rasa dan sudah nggak pingin ketemu tapi kalau kamu terus-terusan mencoba mempertemukan mereka hanya untuk meyakinkan diri dan memuaskan dirimu sendiri jangan salahkan jika Lukman suatu saat melakukan dosa yang sama karena setan akan selalu berusaha memisahkan pasangan suami istri.
Usahamu itu bisa menjerumuskan suamimu pada lembah dosa dan tanpa terasa kamu malah membantu perbuatan setan" Ujar bang Alif kemudian berdiri meninggalkan Lukman dan Laila karena kak Mia juga menyusul suaminya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1