
Di pertengahan malam Laila bangun dan merasa tangannya kebas karena semalaman kepala Labib berada diatasnya. Sedikit linglung karena baru bangun. Dengan mata yang masih berat ia memaksa dirinya untuk duduk kemudian menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tangan kanannya kemudian memijit tangan kirinya yang mati rasa karena kesemutan.
Laila menggigit bibirnya mengingat obrolan Labib dengan sang ayah. Ia mendengar semuanya dan rasa penasaran memenuhi kepalanya. Meski sudah menyiapkan hati kalau hari ini akan terjadi namun rasanya sakit sekali. Ini baru mendengar kalau suaminya senyum-senyum sendiri karena mengingat seseorang yang baru saja ia temui. Bagaimana kalau nantinya ia akan bertemu secara langsung dengan calon madu yang dibawa suaminya. Bagaimana dia bisa menyiasati dirinya sendiri agar tidak menangis nanti. Sekarang saja air matanya sudah meleleh membasahi pipi.
"Ya Alloh.... bagaimana ini? Aku tak ingin kehilangan dia....." Gumamnya sangat pelan sekali.
Biasanya Lukman pasti membangunkannya saat ia tidur di kamar putranya. Tak pernah sekalipun Laila dibiarkan tidur disitu sampai pagi tapi hari ini ia bahkan tak dibangunkan sama sekali. Hatinya terasa ditusuk-tusuk dengan sembilu. Perih sekali. Bagaimana kalau nanti dia harus berbagi suami.
Laila pun berjalan ke kamarnya dan mendapati suaminya tertidur dengan pulas. Menjadikan guling sebagai teman tidurnya. Sekarang Laila bahkan segan untuk mencium suaminya sendiri. Padahal dulu dia selalu keclap keclup sama suaminya. Tak tahu waktu kalau ketemu Lukman maunya nyosor terus. Sekarang ia hanya berani menatap wajahnya dan menelan ludah. Menunggu sang suami untuk bertindak lebih dulu baru dia meresapi dan menikmati.
__ADS_1
Laila tak membangunkan suaminya seperti kebiasannya. Ia memilih untuk mandi lebih dulu kemudian solat malam dan menumpahkan doa di sujud terakhirnya.
Selesai solat ibunya Labib itu menengadahkan tangan. Memohon ampun dan berdoa seperti saat-saat pertama kali ia menjadi istri pria yang sudah mengubah kehidupan dirinya juga adiknya. Bagaimana Lukman mengajari dia agar solat tepat waktu bukan karena takut pada suami atau malu pada sesama manusia tapi pure karena itu adalah kebutuhan kita untuk menyembah pada sang Pencipta. Kemudian secara bertahap Lukman mengajaknya untuk ikut solat malam tapi dia belum bisa melaksanakannya karena berbagai alasan salah satunya karena harus menyusui bayi. Dan Lukman tak memaksanya karena kewajiban seorang istri adalah melayani suami.
Kini saat tertimpa masalah barulah dia bersujud di pertengahan malam.
"Ya Alloh Ya Robbi.... Engkau tahu jika aku sebenarnya tak rela untuk berbagi suami tapi aku lebih takut lagi jika kehilangan mas Lukman dan keluarganya. Tolong kami ya Alloh.... tolong.... Ampuni aku yang munafik ini. Di depan suami seperti menyuruhnya untuk menikah lagi padahal aslinya aku tak sudi. Ya Alloh bimbing kami tolong kami. Beri solusi atas masalah yang sedang kami hadapi. Ya Alloh....." Ibu dari Latif itu menangis sesenggukan sambil berdoa di musollah yang berada di ruang tengah sehingga Lukman tak mendengar atau melihatnya.
Lukman pun terbangun karena mendengar suara yang ditimbulkan oleh sang istri.
__ADS_1
Pagi itu pun seperti biasa Lukman memandikan kedua putranya dan mengantar si sulung pergi ke sekolah.
.
.
.
.
__ADS_1
Sudah tiga hari Lukman selalu pulang di jam yang sama karena berharap akan bertemu dengan si gadis duplikat Laila di tempat yang sama pula tapi ia selalu kecewa karena gadis itu sudah menghilang entah kemana.