Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Kenalan


__ADS_3

Setelah membuat sketsa karakter putri Jasmin dan warna yang akan diterapkannya dalam gambar sudah sesuai dengan keinginan klien barunya. Laila kemudian bersiap mengukur Sofiyah sendiri tanpa bantuan anak buahnya karena ini pertama kalinya ia mendapat permintaan untuk membuat pakaian dengan karakter kartun.


"Saya jadi pingin coba buat sendiri buat dipamerin di depan suami. Reaksinya bagaimana ya? Hihihi....." Laila jadi terbawa suasana dan bisa langsung akrab dengan Sofiyah.


Laila mulai beraksi dengan mengambil pita meteran dan mengalungkan di lehernya. Meminta Sofiyah berdiri dengan tegak lurus karena ia sedikit membungkuk. Sebenarnya saat melakukan pengukuran sebaiknya si pemesan memakai busana pas body untuk meminimalisir kemungkinan kesalahan pengukuran.


Dengan menggunakan pita meteran ia mulai mengukur lingkar kepala Sofiyah yang terbilang kecil kemudian mencatatnya di buku besar yang bersebelahan dengan sketsa yang diinginkan.


"Coba saja kak.... Barangkali nanti ketagihan...." Ujar Sofiyah yang rela tangannya ditekuk dan diukur oleh desainernya.


"Ahaha...." Keduanya tergelak bersama seperti sepasang sahabat yang sudah lama tak bertemu dan kini sedang mendulang rindu.


Cukup lama keduanya berada di dalam sana karena pengukuran di lakukan sambil bertukar cerita tentang hal-hal lucu yang terjadi di antara keduanya. Laila senang karena kini ia punya banyak kenalan.


Ia memperhatikan catatannyajembali. Lingkar badan (LB) Lingkar lengan (LL), Panjang bahu(PH), Panjang dada(PD), Lebar dada(LD), Lebar bahu(LB), Panjang lengan(PL) Lingkar kerung lengan(KL), lingkar pinggang, lingkar panggul, Lingkar pergelangan lengan(LPL) Jarak payudara (JPD) Tinggi puncak(TP), Ukuran pemeriksa(UP), Panjang punggung(PP) Lebar punggung(LP) Lingkar pinggang rok (LPR) Panjang Rok(PR) Lingkar pinggul (LPi) Tinggi pinggul(TPi).


"Ok....." Ia membentuk tangannya menjadi huruf O sambil tersenyum puas dengan hasil kerjanya sendiri.


"Di minum dulu tehnya, saya buat analisa harganya....!" ujar Laila sambil mempersilahkan klien barunya untuk duduk dan menikmati teh yang baru di hidangkan oleh salah satu pegawai di sana.


Sofiyah yang memang merasakan haus karena sudah bertukar cerita menyambut dengan baik dengan segera membaca bismillah dan menyesap teh yang rasanya kental dan berwarna pekat. Aroma dan rasanya sungguh menenangkan jiwanya.


Sedang Laila kemudian mulai membuat analisa bahan-bahan yang akan di pakai beserta harganya. Biaya pembuatan juga biaya desain lainnya.


"Satu juta tujuh ratus lima puluh rupiah...."


Kata Laila sambil menyunggingkan senyum di akhir kalimatnya.


"Murah banget kak...?" Sofiyah sampai tak percaya mendengar harganya. Ia jadi sedikit ragu dengan kualitasnya nanti.


"Kami menggunakan bahan dari katun Jepang, cashmere, hemp juga sutra di beberapa bagian terutama untuk bandana dan di bagian leher. Kami menggunakan bahan dengan kualitas baik meski bukan premium. Saya tunjukkan jenis kainnya di depan pada pakaian yang sudah jadi. Bahan-bahan yang saya sebutkan tadi biasanya dipakai untuk pesta. Kalau masih merasa kurang puas dengan kualitas kainnya kita bisa pakai yang premium" Kata Laila sambil beranjak keluar dari ruangan dan mempersilahkan Sofiyah keluar terlebih dulu.


Ketika ke luar ruangan mereka melihat Basofi sedang asyik berbincang dengan seorang wanita yang tengah memilih pakaian yang disodorkan dua orang pegawai. Mengamati wajah dua pegawainya yang tegang Laila mengambil kesimpulan jika pelanggan wanita yang baru datang adalah jenis pelanggan yang rewel dan banyak maunya.

__ADS_1


Sedangkan Sofiyah langsung berubah raut mukanya. Ia mencari keberadaan putranya yang tak lagi bersama dengan papinya yang menurut pandangannya sedang asyik tenggelam dalam dunianya sendiri bersama wanita yang duduk tak jauh dari Basofi.


Laila tak melanjutkan langkahnya. Ia melihat Sofiyah yang menatap suaminya dengan sorot mata penuh cemburu disertai tangan yang mengepal erat siap meninju apa saja yang ada di depannya.


Terlihat kak Mia sedang menggendong Nia'm dan pria kecil putra Sofiyah sedang memegang kaki si bayi sambil menciuminya.


Sofiyah mengikuti arah pandang Laila dan raut wajahnya langsung berubah bahagia. Ia segera berjalan mendekati putranya dengan senyum yang terukir di wajahnya. Pandangannya tak lepas dari Ni'am yang tangannya mencoba mengacak rambut putranya.


"Lucunya..... siapa namanya kak?" Tanya Sofiyah pada Kak Mia.


"Ni'am aunty....!" Jawab Kak Mia dengan ramah. Bajunya sudah ganti rupanya. Bukan lagi baju yang dipakai sewaktu berangkat tadi.


"Sofiyah.... panggil Fiyah aja kak..." ia mengangsurkan tangan untuk memperkenalkan diri.


"Saya Mia... Ini putranya?" Tanya kak Mia sambil memegang punggung pria kecil yang ternyata lebih ramah dari dugaan Laila.


"Iya kak...." Jawab Sofiyah." Onyo mau punya adik ya...?" Sofiyah lupa untuk memperkenalkan nama putranya dia malah punya misi sendiri.


"Dedek bayi....!! Ikut onty yuk....!" Ia menengadahkan kedua tangan pada bayi yang menggemaskan dengan matanya yang bulat dan rambutnya yang hitam lebat tapi berdiri semua.


Ni'am menggapai-nggapai tangan Sofiyah dan dalam sekejap sudah berpindah dalam gendongan wanita mungil bermata sipit itu.


Sofiyah mengayunkan langkahnya dengan gembira. Membawa Ni'am bersamanya dan segera duduk di dekat suaminya yang cuma melihat si bayi dengan raut muka datar saja.


"Bayi siapa ini Ay?" Tanya Basofi yang sejak tadi sudah bosan menunggu. Untung ada wanita di sebelahnya yang cukup cerewet sehingga bisa mengusir kebosanannya dengan membantunya memilihkan baju yang sesuai karakternya.


"Lucu kan ko? Kita buat adik buat Han ya ko?" Sofiyah sengaja mengatakan hal agak vulgar untuk menekankan pada wanita di dekat suaminya bahwa ia adalah pemiliknya yang sah.


"Nggak sekarang. Han masih kecil...." Ucapnya sambil bersedekap dengan muka memandang lurus ke depan.


"Ih.... lucu ko..... Lihat deh.... I pingin gendong bayi lagi...." Sofiyah masih mencoba merayu Basofi yang tak bergeming dengan bujukan istrinya.


"No .... play with me anywhere, what do you want to do, you can do anything to me...."( Enggak. Bermain saja dengan ku. Apa yang ingin kamu lakukan, lakukan apapun padaku...)

__ADS_1


" Thats what you want...." (Itu maumu..)


"I need you, only you.... I don't want to share you with anyone..."( aku butuh kamu, cuma kamu. Aku tidak mau membagimu dengan siapapun...)


"Onyo mau adik kan?" Tanya Sofiyah pada putranya yang sudah ikut duduk disampingnya.


"I want to baby girl..." Jawab Onyo.


Wanita yang duduk tak jauh dari Basofi langsung mengerti kalau pria yang sejak tadi berbincang dengannya sudah punya istri. Ia pun menghela nafas dan segera memilih pakaian agar bisa segera pergi dari sana.


Tiba-tiba pintu ruangan kak Mia terbuka dan bang Alif keluar dengan rambutnya yang sedikit basah dan wajah yang terlihat segar dan bahagia karena baru saja melepaskan zat-zat menyesakkan dalam inti tubuhnya.


Pada awalnya Basofi hanya menoleh sesaat tapi kemudian ia menoleh lagi ke arah bang Alif dan segera berdiri ketika menyadari siapa yang ada di depannya.


"Ustadz...!" Sapa Basofi sambil mengangsurkan tangannya meminta untuk bersalaman.


Bang Alif mengernyitkan keningnya mencoba mengingat nama orang di depannya sambil menjabat tangan Basofi.


"Koko...." Bang Alif ingat wajahnya tapi lupa siapa namanya.


"Basofi.... saya muridnya ustadz Syafiq ustadz...." Jawab Basofi memperkenalkan dirinya lagi.


"Oh iya iya.... maaf saya lupa namanya. Maklum sudah berumur...." Bang Alif mencoba berkelakar karena benar-benar lupa namanya.


"Ini butik milik ustadz?" Tanya Basofi.


"Oh bukan... ini punya adik ipar saya. Nah ....itu ownernya yang pakai kerudung merah. Kalau yang hijau itu uminya anak-anak, istri saya. Sini mi...." Bang Alif memanggil kak Mia agar mendekat dan berkenalan dengan Basofi.


Perkenalan singkat antara mereka tak berlangsung lama karena bang Alif harus segera pergi. Ada tamu yang sedang menunggunya di toko.


******


Satu atau dua bab lagi end. Targetku berakhir di bab 112 tapi ternyata melebar ke mana-mana.

__ADS_1


__ADS_2