
"Sayang....!" Lukman memeluk Laila dari belakang. Rambut Laila yang sedang dikuncir tinggi-tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Lukman menyibak rambut istrinya diarahkan ke samping kiri sehingga dia leluasa menciumi leher yang sebelah kanan.
"Mass.... geli ah!" Laila yang sedang mencuci peralatan masak merasa aktifitasnya terganggu dengan kegiatan yang dilakukan sang suami. Buru-buru ia menyelesaikannya, untung hanya tinggal sedikit saja yang tersisa.
"Anak-anak sudah berangkat semua. Aku minta tolong bang Alif untung mengantar Latif dan Maryam" Katanya kemudian melanjutkan menggunakan tangannya menjelajahi raga yang timbul di balik baju Laila yang sempurna.
"Adek mana?" Tanya Laila.
"Aku menitipkannya pada bang Alif juga. Aku sudah bilang kalau kita punya urusan yang harus diselesaikan dan tak bisa ditangguhkan" Katanya dengan suara yang sangat parau dan pelan.
"Urusan apa?" tanya Laila sambil melap tangannya karena piring dan panci sudah bersih semua. Sebenarnya dia tahu apa yang sedang dibicarakan suaminya tapi ia ingin menggodanya. Rasanya dia sudah lama tak melakukannya. Dia rindu masa-masa seperti itu. Masa yang paling bahagia dalam hidupnya.
"Urusan darurat yang tidak boleh ditolak oleh seorang istri. Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur," (HR. Tirmidzi)
Ketika seorang laki-laki mengajak istrinya baik-baik ke ranjang [berhubungan ****], lalu sang istri menolak keras [membangkang], sehingga sang suami marah besar kepadanya, maka malaikat akan melaknat; menjauhkannya dari kasih sayang rahmat Allah sampai subuh." ( HR Bukhari. Lukman mengeluarkan petuah untuk mengunci gerak istrinya kalau tidak bisa dibilang memaksa.
"Teganya kasih aku dalil seperti itu" Suaranya mendayu-dayu terdengar seperti sedang merayu.
"Itu artinya aku sangat membutuhkanmu saat ini Lailaku sayang....!"
"Tapi maas.... ini masih pagi. Kalau ada tamu bagaimana?"
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Kamu ada janji ketemu sama seseorang?"
"Nggak..... Nggak enak aja massh.... masa pagi-pagi ketahuan lagi kikuk-kikuk. kan malu " Keluh Laila mencoba menolak ajakan suaminya meskipun sebenarnya dia juga sudah mulai tersulut api gairah karena tangan Lukman yang tak bisa berhenti menjelajah.
"Tidak ada larangan. Kapan pun boleh dilakukan oleh pasangan suami istri. Pagi, siang, petang, malam. Sah-sah saja dilakukan kapan saja"
"Kalau masalah begini saja semangatnya..!!. Kemarin kemana aja?" Goda Laila lagi.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak mau ya sudah. Aku mau pergi ke sawah saja!" Katanya sambil berbalik hendak meninggalkan istrinya.
Buru-buru Laila memeluk suaminya dari belakang, " Jangan ngambek sayang! Siapa yang....." Kata-kata Laila terputus karena keduanya mendengar suara ketukan pintu dan salam dari depan.
"Siapa pagi-pagi begini sudah bertamu. Mengganggu saja!" Kata Lukman yang terlihat emosi karena mengganggu momen sang istri yang baru mau merayu dirinya yang sedang mencoba merajuk. Hal yang paling ia rindukan saat kemarin mereka berdua saling diam.
Ia berjalan ke depan tapi Laila tak mau melepaskan pelukannya. Dia masih saja menempel di punggung suaminya. Alhasil Lukman tak bisa melangkahkan kakinya lebar-lebar tapi ia tak menampik tangan istrinya. Dia bahkan menyukai hal-hal kecil seperti ini.
Baru saat hampir pintu menuju ruang tamu Laila melepaskan pelukannya karena meski dia juga penasaran dengan si tamu tapi saat ini dia tidak berpakaian yang menutup aurotnya. Lukman pun kemudian masuk ke ruang tamu menemui orang yang masih berdiri di balik pintu.
Raut muka Lukman langsung mengeras setelah mengetahui siapa yang bertamu pagi-pagi begini.
"Selamat pagi pak! Saya mau bertemu dengan mbak Laila. Apa mbak Laila nya ada?" Tanya pria yang usia nya lebih muda darinya. Tampan dan perlente.
"Saya suaminya Laila. Apa sudah ada janji dengan istri saya?" Ekspresinya sangat mudah ditebak. Orang yang sedang marah karena cemburu buta dengan menekan kata istri pada lawan bicaranya untuk menegaskan kedudukannya.
"Belum. Kami belum janjian. Saya hanya mau memperlihatkan rancangan terbaru saya pada mbak Laila dengan budget yang lebih rendah dan..."
Ia yang tak pandai berpura-pura apalagi bersandiwara langsung disambut oleh istrinya dengan pelukan. Laila tahu suaminya sedang cemburu.
"Siapa?" Tanya Laila meski dia tahu siapa yang bertamu karena tadi ia sempat mencuri dengar pembicaraan suami dan si tamu.
"Ada orang tampan dan perlente di ruang tamu sedang menunggumu" Nada suaranya ketus dan tangannya tak bersedia membalas pelukan sang istri.
"Aku sudah memintanya untuk berdiskusi dengan bang Alif dan kak Mia. Kenapa dia masih saja kesini?"
Laila memandang wajah suaminya kemudian mengarahkan wajah yang sedang tak mau melihatnya agar mau menatap wajahnya.
"Suruh saja dia ke rumah sebelah. Kita lanjutkan yang tadi" Katanya sambil menangkup kedua sisi wajah Lukman agar tetap melihatnya.
__ADS_1
"Melanjutkan apa?" Kata Lukman datar meski ia tahu arah pembicaraan mereka kemana tapi ia juga ingin dirayu istrinya sendiri. Itu menjadi kebanggaan tersendiri untuknya karena jiwa lelakinya seakan melambung tinggi di angkasa. Merasa di sanjung dan di puja. Merasa menjadi manusia paling istimewa karena mendapat cinta dari sang istri yang cantik jelita.
Laila tak menjawab pertanyaan suaminya tapi langsung menempelkan bibir mereka. Mencari kedamaian disana karena melakukannya dengan orang yang dicinta sekaligus halal untuk keduanya.
Lukman menahan tengkuk Laila untuk memperdalam tautan bibir mereka. Larut dalam suasana mendebarkan jiwa dan raga. Lupa jika masih ada makhluk lain yang masih berada di atas atap yang sama.
Laila melepaskan baju sang suami dengan tergesa-gesa karena deru nafasnya sudah tak bisa menahan lebih lama. Lukman pun melakukan hal yang sama karena nafsunya sudah berkobar memenuhi dada dan kepalanya. Seolah-olah ini baru pertama kalinya untuk mereka saling menjelajahi daerah yang tersembunyi di balik baju dan ingin mersakan yang lebih lagi. Menyatukan dua raga dan jiwa mereka dalam satu nafas cinta.
"Tunggu sebentar sayang!" Lukman menahan tangan Laila yang ingin meloloskan celananya. Sang istri memicingkan mata, tak terima kesenangannya dihentikan begitu saja. Padahal nafas keduanya sudah saling memburu seolah takut kehabisan waktu.
Lukman dengan dada telanjang membuka pintu kaca yang menghubungkan antara ruang tamu dan ruang tengah. Ia tak sungkan dengan keadaannya yang setengah telanjang, rambut yang sudah acak-acakan ditambah buliran keringat di dadanya yang berbulu lebat.
"Anda bisa menemui abang saya di rumah sebelah. Maaf saya tak bisa menemani karena kami sedang sibuk untuk menyelesaikan tugas agama dan negara" Kata Lukman tanpa basa-basi kemudian segera beranjak pergi dan menutup pintu kaca tadi. Menguncinya dengan rapat sambil menutupkan kordennya.
"Mash.....!" Laila langsung menyongsong suaminya. Sudah tak sabar ingin melajutkan pendakian mereka. Lukman dengan sigap meraih kedua pipi sang istri dan menautkan bibirnya kembali. Melanjutkan apa yang barusan tertunda. Semakin semangat dalam bergerilya sampai Laila melenguh dan menahan suaranya yang mendesis karena Lukman semakin menggila. Dan setelah sekian lama akhirnya mereka bisa melakukannya lagi di ruang tengah dengan tetap memakai selimut untuk menutup aurot mereka.
Keadaan pagi yang membawa semilir hawa sejuk berubah di ruangan tengah di rumah pak Dirman. Hawanya berubah menjadi panas karena keduanya menggila seperti sudah sekian lama tak pernah melakukannya.
Berbeda dengan seorang lelaki yang berada di ruang tamu. Niat hati ingin menemui Laila yang dalam beberapa kali pertemuan seperti sedang ada masalah dengan suaminya dan ia hendak masuk kedalamnya. Mencoba mendekat dengan menjadi telinga dan siap mendengar curhatan nya.
Sekarang apa yang ia hadapi adalah hal paling memalukan seumur hidupnya. Bagaimana suami Laila mendatanginya dengan bertelanjang dada dengan buliran keringat yang tersisa. Perut kotak-kotak yang berbulu lebat juga dada bidang yang berotot langsung menciutkan nyalinya untuk hadir di tengah kekisruhan sebuah keluarga.
Sebelum ia benar-benar pergi dari sana ia mendengar suara Laila yang mendesah tak karuan membuatnya menelan ludah. Sadar ada adegan dewasa sedang terjadi di dalam sana. Ia pun cepat-cepat meninggalkan rumah itu sebelum kupingnya terasa lebih panas lagi.
.
.
.
__ADS_1
.
Tumben panjang bener aku nulisnya, semoga bisa dibaca dan dimengerti yak.