
"Aku sudah menghubunginya dari tadi tapi dia tak menjawabnya sama sekali," Laila berdiri bersandar di bibir pintu sudah berganti baju. Ia mengenakan celana training dan kaos lengan pendek. Sejujurnya Lukman lebih suka penampilan Laila seperti sekarang.
Lukman memberikan bungkusan yang berisi martabak manis tadi pada Laila sambil berdiri kemudian dengan suara baritonnya ia berkata" Masuk dan kunci pintunya dari dalam! Aku akan melihatnya di depan"
Laila menerima bungkusan itu dan langsung masuk ke dalam rumah kemudian dia mengunci pintunya.
" jangan buka pintunya sampai aku datang!" kata Lukman sambil mengerakkan gagang pintu dua kali dan mendorong pintunya untuk memastikan bahwa pintunya sudah benar-benar tertutup rapat.
Laila mulai goyah, ia merasakan jantungnya berdebar-debar karena perhatian Lukman. 'Kalau saja kau orang kaya.... aku..pasti mau hidup denganmu..' pikirannya menerawang berandai-andai ke masa depan.
Lukman baru berjalan beberapa langkah dan ia melihat sosok Doni dengan sepeda motor bututnya dari kejauhan. semakin mendekat Lukman semakin yakin jika orang yang sedang naik sepeda motor itu adalah Doni meskipun kepalanya tertutup helm.
Lukman diam di pinggir jalan gang sempit itu dan Doni tetap mengendarai motornya melewati Lukman begitu saja sampai ke depan rumah kontrakannya. Lelaki berbadan atletis itu melangkahkan kakinya lebar-lebar agar bisa segera menyusul Doni .
tok tok tok tok
"kaak.... " Doni mengeraskan suaranya.
tok tok tok
"Kak...ini aku" Doni terlihat buru-buru karena ingin menghindari Lukman ia belum ingin berbohong tapi juga dia tak sanggup berterus terang karena itu akan merepotkan orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.
Doni terjengat kaget saat Lukman tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Tapi pria bertubuh atletis itu hanya menatapnya saja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Dan Doni tak berani menoleh padanya lagi. Bersamaan dengan itu pintunya dibuka oleh Laila.
Doni pun langsung menyelonong masuk tanpa membuka helmnya terlebih dahulu.
" Don.... Doni.,... kamu kenapa?" Laila berjalan mengikuti adiknya karena dia khawatir dengan sikap aneh adik semata wayangnya.
tok tok tok
__ADS_1
Laila mengetuk pintu kamar Doni yang langsung di kunci oleh si empunya begitu dia masuk kamar.
"Kamu kenapa sih dek....?" Laila sudah mengeluarkan air matanya. Kini telapak tangan dan tubuhnya menempel di pintu kamar Doni. Dia adalah keluarga satu-satunya dan gadis itu rela berkorban untuknya asal adiknya bisa hidup lebih baik dan selayaknya.
"Aku baik-baik saja kak, sudah malam , tidurlah!", kata lelaki remaja itu sambil melepaskan helm dari kepalanya.
"Apa kau bisa menyelesaikan masalah dengan cara menghindar seperti itu?" bentak Lukman dari ruang tamu yang kecil di kontrakan Laila sehingga membuat suaranya menggema dan terdengar dengan jelas di telinga Doni.
Laila terisak sambil memukul-mukul pintu menggunakan telapak tangannya. Berkali-kali menyusut air yang keluar dari hidungnya.
Akhirnya Doni keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke ruang tamu yang jaraknya hanya beberapa langkah saja. Dia berjalan melewati kakaknya begitu saja. Ia menundukkan wajahnya tak berani melihat mata elang Lukman.
"Wajah kamu kenapa?" Laila melihat beberapa luka memar dan sedikit darah di wajah adiknya. Kakak perempuan itu mengikuti adik lelakinya dengan rasa khawatir sedangkan adiknya hanya diam tak bergeming.
Saat Doni sudah sampai di ruang tamu ia hanya berdiri di pojok ruangan dan menundukkan kepalanya tak berani mendekati Lukman.
" Untuk apa berdiri di situ terus? duduk sini!" perintah Lukman ketus.
Lukman membersihkan luka di wajah dan lengan Doni dengan handuk kecil yang dibawa Laila. Lelaki berahang keras itu memutar wajah Doni ke kanan dan ke kiri, membersihkannya layaknya seorang kakak kepada adiknya. Kemudian mengambil salep yang ada di dalam saku celananya yang dia beli saat di jalan tadi dan mengoleskannya pada luka-luka yang ada di wajah dan lengan Doni.
" Kau seorang lelaki jangan pernah menghindari masalah. Hadapi masalahmu seberat apapun itu. Kalau kau merasa tak mampu mintalah tolong pada orang yang kau percayai. Itulah gunanya manusia, saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan satu lagi kalau kau berkelahi jangan pulang dengan membawa luka . Itu hanya akan membuat kakakmu khawatir saja" Katanya pelan tapi terdengar jelas di telinga Doni.
Laila yang kini duduk berhadapan dengan Doni merasa tersentuh sekali mendengar perkataan Lukman tadi. Justru sekarang Lukman dan Doni seperti seorang kakak dan adik sedangkan dia hanya orang luar yang sedang melihat keakraban mereka.
"Lalu aku harus bagaimana, mereka sangat banyak bang?" Tanya Doni mulai berterus terang dan Lukman tak langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan. ia ingin Doni sendiri yang merasa nyaman dan kemudian mau menceritakan semuanya dengan jujur tanpa ada yang ditutupi.
"Tentu saja kau harus menang!" kata Lukman kemudian menaruh salep di atae meja tepat di depan Laila, " bersihkan kakimu lalu pakai salep ini!" katanya tanpa melihat Laila yang posisinya berseberangan dengan Doni.
"Kakak kenapa bang?" tanya Doni sambil menatap Lukman.
__ADS_1
" Kakak kenapa kak?" tanya Doni kemudian karena tak mendapatkan jawaban dari Lukman.
Laila menggelengkan kepalanya karena tak tahu maksud Lukman apa. Ia pun tak merasa punya luka yang harus di obati dengan salep.
"Tumitmu!" kata Lukman sambil melirik sekilas pada Laila kemudian beranjak keluar.
Laila menggigit bibirnya karena merasa sangat terharu. Belum pernah ada orang yang sebegitu perhatian juga menghormati dirinya dengan tulus seperti yang dilakukan oleh Lukman.
"Hubungi aku kalau kalian butuh sesuatu!" katanya sambil keluar dari rumah itu.
"Tunggu!!" Laila sedikit berteriak memanggil Lukman sambil mengejarnya keluar.
"Itu jaketnya ..." Kata Laila saat mata mereka sudah saling menatap.
Gadis kutilang itu bergegas masuk ke dalam sambil berlari kecil takut jika Lukman tau bersabar menunggunya. Ia segera mengambil jaket Lukman di kamarnya dan berlarian kembali menuju ke luar rumah.
Ia memberikan jaket milik pria itu sambil menatap wajah Lukman sekejap.
Pria itu menerimanya dan segera memakai jaketnya. Ia kemudian naik ke atas kuda besinya dan sebelum memakai helmnya dia menatap Laila yang masih berdiri terpaku di situ.
"Masuklah dan kunci pintunya!" Kata Lukman lebih lembut tak seperti biasanya.
"Iya..." Jawab Laila sepertinya belum rela Lukman pergi meninggalkannya.
"Cepat masuk aku akan baik-baik saja.,!" Kata Lukman lagi.
Laila seperti kebakaran jenggot karena sepertinya Lukman mengetahui isi hatinya.
"Siapa yang menghawatirkan siapa?" Laila sewot dan segera masuk ke dalam rumah dan menguncinya.
__ADS_1
Lukman menahan senyum dan segera memakai helm kemudian perlahan pergi meninggalkan rumah kontrakan sepasang adik kakak itu.