Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Perang


__ADS_3

Malam itu ia tidak pulang karena takut Septi berbuat aneh-aneh lagi. Ia bahkan sudah lupa telah berjanji untuk menjemput ayah nya di stasiun. Ia hanya mengirim pesan pada istrinya jika ada masalah dengan gudang tempat penyimpanan padi-padi mereka sehingga ia ikut meronda untuk mengawasinya secara langsung.


Memang benar malam ini akan diadakan pembantaian tikus secara besar-besaran yang dilakukan oleh warga sekitar dan para pegawai Lukman. Perang melawan hewan pengerat yang meresahkan. Manusia yang berakal versus tikus yang menjijikkan.


Lukman meneguhkan hatinya kalau ia melakukan semua ini karena kemanusiaan semata. Mewanti-wanti dirinya sendiri agar tak tergoda pada Septi yang punya wajah melas tak berdaya yang sering membuatnya iba. Semoga kebohongannya kali ini dihitung sebagai upaya untuk menjaga rumah tangganya juga untuk menjaga nyawa manusia yang ada di dalam kandungan Septi.


Seharian Lukman hanya menunggui Septi di rumah sakit. Dia hanya pergi meninggalkannya saat waktu solat tiba. Menunggui wanita malang yang mengaku tak punya siapa-siapa. Dia bahkan meninggalkan semua pekerjaan dan menyerahkannya pada Daniah dan beralasan sedang ada urusan di rumah sakit.


Hal itu bukannya menyelesaikan masalah. justru semakin meyakinkan Daniah jika Septi ada main dengan Lukman sampai meninggalkan bibit di perut Septi seperti yang dikatakan Yuli. Dan rumor itu menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut dikalangan pegawai sampai ke masyarakat sekitar yang juga menjadi buruh tani di sawah maupun ladangnya.


Selepas Solat Isyak dia termangu setelah berdoa. Kata-kata bang Alif terngiang-ngiang di kepalanya,"Lepaskan apa yang tidak menjadi tanggung jawab mu!"


"Ya Alloh, harus bagaimana aku?" Dia bingung harus melangkah ke mana dan bagaimana caranya?


Saat sudah berada di dalam ruangan hanya berduaan dengan Septi dia memilih untuk tidur di sofa tanpa mengajaknya berbicara. Suasana hening menyelimuti ruangan itu.


Meski Lukman memejamkan mata nyatanya pikirannya masih kemana-mana. Dia sedang berpikir kalau Septi sudah boleh pulang dia harus menempatkannya dimana.


Kalau membawa Septi untuk tinggal bersama Yuli dan ibunya di kantornya, itu memang lebih baik karena dia tak perlu khawatir kalau ada apa-apa . Ada orang lain yang turut menjaganya. Tapi bisa dipastikan Septi akan tertekan dan mentalnya yang sedang labil bisa mempengaruhi kesehatan janin di perutnya karena perangai Yuli dan ibunya yang kerap menyudutkan Septi.


Jika dia harus menitipkan Septi di panti itu hanya akan menimbulkan kecurigaan pada keluarganya karena orang-orang panti akan bertanya pada keluarga besarnya siapa dia, ada hubungan apa dengannya dan rumor yang tidak-tidak akan merebak begitu saja. Dan yang pasti keluarganya akan marah besar padanya.


Kalau terpaksa harus mencarikan tempat yang jauh dari orang-orang yang mengenalnya lalu dia akan tinggal dengan siapa. Apa dia harus mengeluarkan banyak uang untuk menggaji art dan satpam untuk menemani Septi. Bukankah itu seperti menyembunyikan selingkuhan dari istri sahnya.


Apa dia harus melakukan pengorbanan sejauh itu. Dengan berbagai kebohongan lain yang pasti akan dia lakukan.

__ADS_1


"Mas....!" Septi menoleh dengan lemah melihat ke arah Lukman yang masih memejamkan mata.


"Hem?"


"Mas tidak pulang?" Tanyanya penuh perhatian.


"Tidak " Jawab Lukman tegas.


"Pulang saja! Pasti istri dan anak-anak mas sedang menunggu di rumah. Aku akan baik-baik saja!" Katanya dengan suara yang masih lemah.


"Sudah. Tidur saja! Aku tidak mau terjadi apa-apa pada janin di kandungan mu. Dia makhluk yang tidak berdosa" Kata Lukman tanpa membuka matanya.


"Kalau aku melahirkan dia, dia juga akan malu nantinya. Dia akan jadi ejekan teman-temannya karena tidak punya ayah. Lebih baik aku melenyapkan dia sekarang juga. Biarlah aku menanggung dosanya toh dosaku sudah sangat banyak, tak lagi bisa hitung. Daripada anakku menderita nantinya"


Sementara itu di gudang penyimpanan padi-padi yang sudah siap didistribusikan para penjaga sudah siap-siap dengan alat-alat nya masing-masing. Siap bertempur melawan tikus yang datang.


Memang beberapa hari ini tikus-tikus yang datang cukup meresahkan. Meski sudah menyiapkan perangkap dan jebakan sampai menaruh racun tikus di beberapa titik nyatanya tidak mempan.


Tikus-tikus itu seperti menantang. Dengan ukuran mereka yang besar-besar hampir menyerupai anak kucing mereka berseliweran di antara pekerja tanpa takut sama sekali bahkan seperti mengejek manusia yang kebakaran jenggot saat melihatnya.


Tikus sawah (Ratus argentiventer) hama yang relatif sulit dikendalikan. Perkembangbiakan Hama tikus yang cepat serta daya rusak pada tanaman yang cukup tinggi menyebabkan hama tikus selalu menjadi ancaman pada setiap pertanaman. Kerusakan tanaman yang di akibat serangan tikus sangat besar, karena menyerang tanaman bahkan sejak di pertanaman hingga menjelang panen.


Dan kali ini terjadi saat musim panen bukan hanya di ladang Lukman tapi juga di ladang-ladang lain milik warga setempat.


Merekapun saling bekerja sama dengan warga sekitar untuk menanggulangi wabah tikus yang terjadi saat ini dengan beberapa cara.

__ADS_1


TBS (Trap Barrier System)


yakni Pemagaran plastik yang mengelilingi petakan persemaian atau sawah yang dilengkapi perangkap bubu pada tiap jarak tertentu.


Gropyokan yaitu Pengendalian dengan peralatan lengkap (pemukul, emposan, jaring dan sebagainya) yang dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat yang terkoordinir dan terencana dalam satu hamparan pertanaman yang luas.


Pengumpanan racun tikus dengan rodentisida akut atau antikoagulan yang dicampur gabah atau beras kemudian diletakkan pada lalulintas tikus.


Pemasangan Jaring juga dilakukan caranya Jaring dipasang pada salah satu sisi hamparan sawah, kemudian di sisi lain secara bersama-sama dilakukan penggiringan tikus dan di tepi jaring beberapa orang menunggu dengan alat pemukul.


Penggenangan lobang-lobang tikus di tempat-tempat persembunyian mereka


Sanitasi


yaitu Membersihkan semak belukar/gulma, membongkar lobang tikus dan perbaikan pematang.


Pengendalian Hayati yakni


Pengendalian menggunakan musuh alami seperti kucing, anjing dan burung hantu.


Malam itu tiap orang berdiri di pos masing-masing untuk menunggu mangsa datang. Di pematang sawah, di liang-liang persembunyian tikus dan dedengkotnya, di jalan yang sering dilewati para tikus dan gerombolannya. Dengan membawa peralatan perang berupa pemukul, jaring, kemposan. Bahkan ada juga yang berniat membakar tempat bersarangnya tikus dari jalan depan maupun belakang agar mereka mati terpanggang di tempat persembunyiannya dan terkubur hidup-hidup didalamnya.


Mungkin tindakan para warga itu terlihat seperti psikopat karena saking jengkelnya. Setelah empat bulan memelihara tanaman padi dan menunggu dengan sabar sampai waktu panen tiba. Setelah tiba masanya tiba-tiba saja tikus-tikus itu datang tanpa diundang, pergi tanpa permisi menghabiskan apa yang sudah mereka nanti-nanti.


Malam itu terdengar hingar bingar suara alat pemukul juga suara para pekerja dan para warga yang berkejaran dengan tikus-tikus yang sepertinya tidak ada habis-habisnya.

__ADS_1


__ADS_2