
"Saya tidak mau makan umi...!"
"Kasihan anak dalam kandunganmu itu nak..." Ibu panti yang dipanggil umi itu masih mencoba membujuk Septi yang melakukan mogok makan.
"Saya cuma mau bicara sebentar sama madam ...." Ujarnya.
"Mungkin madam masih sibuk. Nanti kalau beliau sudah ada waktu pasti menghubungi kamu lagi. Kamu makan dulu.... kasihan dia...." Umi mengusap perut Septi yang semakin besar.
"Biar saja. Saya juga tidak mengharapkannya...." Ia berbalik membelakangi umi yang masih setia duduk di pinggir tempat tidur.
Umi menghela nafas mendengar pengakuan wanita yang beberapa minggu ini menjadi penghuni panti. Menjadi tahanan panti tepatnya karena Septi adalah titipan Karina. Sebenarnya Septi bukan tipe pembangkang bahkan karakternya cenderung penurut. Ia kerap membantu bekerja di panti. Ikut memasak di dapur, menyapu bahkan ikut mengawasi anak-anak yang sedang belajar dan sesekali ia membantunya jika bisa.
Tapi sejak kemarin ia merengek meminta diizinkan untuk berbicara dengan Karina yang disana lebih dikenal dengan nama madam. Dan Karina menolaknya. Itu yang dikatakan asisten madam pada pengurus panti. Dan sekarang Septi mogok makan agar keinginannya bisa dipenuhi. Ia yakin madam sebenarnya orang yang baik dan tidak akan mungkin membiarkan wanita hamil sampai mati kelaparan.
Setelah memohon dan berjanji setelah ini dia akan jadi wanita penurut dan tidak akan berbuat ulah lagi akhirnya dia sudah berada di rumah sakit lagi. Rina cuma memberinya izin waktu 10 menit saja.
Septi Melihat Lukman dari ujung jendela. Tangannya memukul dadanya pelan karena melihat Lukman kini lumpuh tak punya kekuatan untuk bangun. Rina sedang berada di dalam bersama para dokter saat ia mengintip ruangan VVIP tempat pria istimewa itu dirawat.
Dan kali ini Rina membiarkannya berkeliaran di rumah sakit sendirian dengan para pengawal yang mengawasinya dari jarak cukup jauh agar tidak mengganggu pengunjung maupun para pasien.
"Selamat tinggal mas Lukman. Terimakasih untuk semuanya..." Septi mengusap pipinya yang basah setelah memantapkan hatinya untuk tidak memperlihatkan diri lagi di depan Lukman.
Ia tersentak kaget saat berbalik. Ada Laila yang ternyata sedari tadi sudah berada di belakangnya. Badannya langsung gemetaran melihat istri lelaki pujaan hatinya. Ia pun menjatuhkan diri meski perut besarnya menghalangi geraknya.
"Ma-maafkan saya... Tolong maafkan saya..... Saya janji saya tidak akan menemui mas Lukman lagi....!" Septi bersimpuh di depan Laila sambil memegang kakinya.
__ADS_1
"Ini bukan anak mas Lukman. Mas Lukman orang yang baik. Dia belum pernah sekalipun menyentuhku. Tolong percaya saya ...!" Septi menangis sesenggukan membuat beberapa mata memandang mereka.
Untung ruang VVIP itu tempatnya cukup privasi sehingga tidak banyak orang lalu lalang disana. Jauh dari kamar-kamar reguler yang biasanya di lewati banyak orang.
Dan kalau orang yang tidak tahu mungkin mereka akan mengira kalau Septi adalah orang yang teraniaya. Dengan perut besar dan posisi bersimpuh dilantai terlihat seperti seorang budak yang dianiaya oleh sang majikan.
"Jangan seperti ini..! Bangunlah!" Tak ayal Laila merasa sedikit lega saat mendengar jika anak dalam kandungan Septi bukanlah anak suaminya. Meski belum yakin sepenuhnya, hatinya seperti mendapatkan kesejukan tiada tara. Seperti angin sepoi-sepoi yang berhembus di sore hari. Dinginnya menyegarkan relung hatinya.
"Tolong maafkan saya dulu...!" Rintih Septi ditengah sedu sedan nya.
"Ada apa ini?!!!" Tiba-tiba Karina sudah berada di belakang Septi berteriak dengan nada suara yang menakutkan. Septi langsung menundukkan kepala tak berani menoleh ke sumber suara. Ia tahu itu suara madam yang ditakutinya.
"Bangun!!!! Kau ingin terlihat seperti orang yang terintimidasi atau apa?" Bentaknya sambil mendorong pundak Septi yang masih bersimpuh dilantai.
Septi menggelengkan kepala karena memang ia tak punya niat seperti yang dikatakan Karina.
"Bangun!!!!!!" Suara Rina ternyata sangat menyeramkan saat marah membuat Septi seketika berusaha berdiri dan tanpa disangka Laila malah membantunya.
"Rin....! Jangan keterlaluan...!" Laila merasa aneh mendengar panggilan Septi pada Rina tapi ia lebih jengkel pada sikap adik iparnya yang terlihat seperti diluar kendali.
"Kaak... kakak tidak tahu siapa dia??!" Rina benar-benar tak seperti biasanya. Emosinya meledak-ledak. Ia merasa heran dengan tindakan Laila yang malah lebih lunak dari pada dirinya.
"Aku tahu. Aku ingin bicara dengannya...." Katanya sambil memegang kedua pundak Septi yang melipir di dekat Laila karena dia ketakutan pada sosok Karina yang kini seperti seekor singa yang kelaparan.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi kak..... Kakak ini bodoh atau apa sih?" Rina malah kalap dan berteriak.
__ADS_1
"Ya!!! Tolong beri waktu pada kakak iparmu yang bodoh ini untuk berbicara dengannya.....!" Lama-lama Laila merasa jengkel juga pada Rina yang meledak-ledak tak jelas. Harusnya dialah sekarang yang marah tapi adik iparnya malah seperti mengambil alih tempatnya.
"Maaf kak.... maaf...!" Rina memegang lengan Laila yang tak mau memandangnya. Ia merasa bersalah dengan kata-kata kasarnya.
"Tinggalkan kami berdua!!" Laila berkata dengan ketus tak lupa dengan pandangan tajamnya yang membuat Karina terpaksa menuruti perintah kakak iparnya.
Rina juga memberi isyarat pada para bodyguard nya yang sudah siap siaga di beberapa sudut untuk meninggalkan Septi dan kakak iparnya.
Melihat Septi yang ketakutan pada Rina, Ibunda Latif dan Labib itu merasa kasihan. Ia memandang Septi dari atas sampai bawah. Membuatnya menghela nafas. Entah kenapa dia bisa merasakan kalau kehidupan yang dilalui Septi selama ini tidaklah mudah. Meski ia menyimpan rasa kesal juga cemburu tapi sebagai sesama manusia dia tidak bisa tutup mata.
Ia kemudian mengajak Septi duduk di bangku panjang yang ada di depan kamar. Ia ingin mendengar apa saja dari mulut Septi dan tak bisa dipungkiri ia sangat berharap apa yang dikatakan wanita hamil itu sesuai dengan harapannya.
"Siapa namamu?" Tanya Laila sambil memandang iba padanya.
"Septi kak..." Ia menunduk sambil menautkan jemarinya merasa takut sekaligus malu.
"Berapa usia kandunganmu?"
"Lima bulan kak..." Septi menelan ludah karena Laila justru tidak mencaci makinya. Itu justru membuatnya merasa bersalah. Mungkin mendapatkan sumpah serapah lebih melegakan untuknya agar rasa bersalahnya sedikit memudar. Tapi ini...... Wanita di hadapannya justru bertanya dengan nada iba jauh dari nada kesal apalagi menghakiminya membuat rasa bersalah dalam dirinya semakin melebar.
"Mau periksa denganku?" Laila memegang punggung tangan Septi.
Septi mengangkat kepala demi mendengar apa yang yang baru dikatakan oleh Laila. Wanita yang baru saja kehilangan bayinya dan itu disebabkan olehnya. Bagaimana bisa ada orang sebaik itu?
"Aku baru saja kehilangan bayiku.... Aku harap kamu tidak akan mengalami hal itu" Laila merasa dadanya sesak. Kalau boleh ia ingin berteriak dan menangis sekarang tapi ia memilih untuk memendam kesedihannya.
__ADS_1
"Kak maafkan aku.... Maafkan aku.... Aku minta maaf...!!." Septi menangis karena rasa bersalahnya yang luar biasa.
"Sudah sudah.... menangispun tak akan bisa membuatnya hidup lagi..." Katanya sambil menepuk pundak Septi.