
Septi terlahir di keluarga yang amat sangat sederhana kalau tidak bisa dikatakan miskin. Awalnya Ia tinggal bersama ibu dan kakak juga ayah kandungnya. Ibu pernah mengatakan kalau kakaknya itu mempunyai ayah yang berbeda dengannya. Waktu itu dia belum paham apa artinya dan setelah dewasa barulah ia tahu maknanya.
Kehidupan yang mereka jalani cukup memprihatinkan dengan ekonomi serba kekurangan ditambah lagi setiap hari terjadi percekcokan antara ibu dan ayahnya sejak ia bisa mengingat dunia seisinya.
Ketika dia berumur sekitar enam tahun dan abangnya mungkin berumur sekitar sembilan tahun dia dan kakaknya harus pindah ke tempat baru karena ibu dan ayahnya sudah bercerai. Mendiami kos-kosan sempit selama beberapa waktu kemudian ibunya menikah lagi.
Dia tidak tahu bagaimana prosesnya. Sang ibu hanya mengatakan, ibu sudah menikah lagi dan ini adalah ayahmu yang sekarang. Begitu katanya suatu saat ketika petang. Dan ia cukup takut dengan sosok ayah yang diperkenalkan padanya. Berkumis tebal dengan rambut hitam yang ikal menampakkan kebengisan. Pakaiannya kumal dan wajahnya jauh dari kata tampan. Bahkan terkesan jorok.
Beberapa kali lelaki yang harus dipanggilnya ayah itu mencoba melecehkan nya tapi selalu ada saja yang bisa menggagalkan niat buruknya. Padahal saat itu dia belum mengerti apa-apa. Sampai ibu melahirkan seorang adik laki-laki dan kepahitan hidup mulai datang lagi dan lagi.
Malam itu si ayah mencoba melecehkannya dan kepergok oleh si ibu yang baru pulang entah darimana. Yang ia tahu ibunya bekerja untuk kebutuhan sehari-hari karena ayah kerjanya hanya serabutan dan sering pulang dalam keadaan mabuk. Desas desus para tetangga mengatakan kalau ibunya adalah seorang kupu-kupu malam dan ayahnya pemabuk juga penjudi yang tak diketahui darimana asal usulnya.
Sejak saat itu ibu mengajaknya pindah ke tempat lain lagi dan keadaan terulang kembali. Beberapa kali ada yang datang ke kontrakan Ibunya. Dan dia yang saat itu belum disekolahkan hanya mengintip setiap lelaki yang datang ke rumah kontrakan mereka tanpa berani bertanya pada ibunya.
Tugasnya adalah membersihkan rumah dan merawat adiknya. Dia tak pernah punya teman karena masyarakat melarang anak-anak nya untuk bergaul dengannya. Septi hanya bisa melihat anak-anak seusianya bermain bersama dengan tertawa bahagia kadang juga saling mengejek satu sama lain dan itu terlihat indah di matanya.
Septi tumbuh menjadi anak yang penakut karena sang ibu yang temperamental tak segan-segan melayangkan tangan jika dia berbuat kesalahan atau ada sesuatu yang dikerjakannya tak sesuai dengan keinginan ibunya.
Suatu saat ibu memperkenalkan seorang lelaki yang kali ini terlihat parlente tidak seperti ayah tirinya sebelumnya. Lelaki ini terlihat baik hati dan seperti orang yang berpendidikan. Raut mukanya bersih dan bajunya juga rapi.
Pertama kali datang ke tempat kontrakan pria itu membawa buah tangan dan bersikap manis padanya juga adiknya. Sedang kakaknya, ia sudah tidak tahu dimana keberadaannya. Saat itu dia bisa melihat ibunya terlihat bahagia dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Ibu juga jarang marah-marah lagi.
Sekitar tiga bulan setelah itu akhirnya ibunya menikah dengan si pria baik hati. Kali ini benar-benar menikah seperti orang-orang pada umumnya. Melaksanakan akad nikah dan mengadakan walimahan.
Saat itu umurnya sekitar delapan tahunan.
Setalah itu merekapun diboyong ke rumah ayah barunya. Ia, ibu juga adik laki-lakinya yang bernama Surya akhirnya bisa tinggal di tempat yang bernama rumah. Cukup besar menurutnya yang biasa tinggal di tempat kontrakan sempit.
Untuk pertama kalinya Ia akhirnya punya kamar sendiri. Dia juga didaftarkan untuk sekolah meski umurnya saat itu sudah delapan tahun lebih. Tapi badannya yang kecil karena tidak tumbuh dengan baik mungkin juga karena kekurangan gizi tidak terlihat berbeda dengan teman-teman sekelasnya yang umurnya pasti lebih muda darinya.
Ibunya tak lagi keluar malam. Benar-benar seperti keluarga yang selama ini dia idam-idamkan. Ayah yang bekerja dan ibu yang menjadi ibu rumah tangga biasa. Ayahnya memang tak selalu pulang setiap hari karena pekerjaannya adalah sebagai seorang supir yang hari liburnya tidak tentu.
Ia selalu membantu ibunya setelah pulang sekolah. Dan yang dia sukai semenjak Ibunya menikah lagi adalah ibu tak pernah marah-marah lagi kepadanya. Meskipun tidak bisa dikatakan ibu yang penyayang seperti yang ia harapkan tapi setidaknya kata-kata jelek yang dulu sering diucapkan ibu kini tak pernah lagi ia dengar. Meski bukan termasuk ibu yang perhatian tapi dia yakin kalau ibunya sayang padanya. Buktinya saat ayah tiri sebelumnya mencoba untuk melecehkannya sang ibu kemudian memilih berpisah dan mengajaknya tinggal di tempat lain agar keberadaan mereka tak terendus ayahnya Surya.
__ADS_1
Septi tumbuh dengan baik sampai ia mendapatkan haid pertama saat duduk di kelas satu SMP. Badannya yang dulu kecil kini mulai tumbuh sesuai usianya. Dadanya mulai membesar. Pinggul juga area sensitifnya mengalami perubahan yang menunjukkan jika ia sudah beranjak dewasa.
Ia memang bukan anak yang tergolong pintar justru cara berpikirnya sangat lemah ditambah dia adalah anak yang penakut dan pendiam. Sehingga suatu saat ketika ayahnya pulang dan ibunya sedang ke pasar ayah tirinya itu mengiming-imingi ponsel padanya kalau ia mau menurut dan tutup mulut.
Setelah perbuatan tak sepatutnya itu Ia merasakan badannya remuk redam tapi tak berani bicara pada ibunya. Ia tutup mulut bukan karena ponsel yang dijanjikan tapi karena takut ancaman si ayah.
Sejak saat itu setiap kali pulang ayah tirinya selalu mengga***nya saat ibunya tidak ada dirumah. Dan setelah bertindak asu sila terhadapnya si ayah memaksanya untuk menelan tiga butir pil sambil mewanti-wanti.
"Jangan sampai ibumu tahu tentang hal ini. Kalau dia tahu aku akan mengatakan kalau kau yang menggodaku. Dan ingat, aku sudah mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk membiayai kebutuhan kalian semua. Anggap saja ini sebagai kompensasinya."
Septi hanya bisa menangis tanpa bersuara dan berpura-pura baik-baik saja di depan ibunya juga di depan semua orang. Ia tak mau membuat ibunya yang sekarang nampak bahagia harus bersedih jika dia mengadukan ayah tirinya. Ibu terlihat sangat mencintai ayah dan mengagungkannya bak dewa.
Di sekolah maupun di sekitar tempat tinggalnya dia tak mempunyai teman apalagi sahabat. Dia selalu mengasingkan diri dan menjauh dari bersosialisasi. Dia selalu ketakutan bagaimana kalau orang-orang mengetahui dirinya kotor dan tak suci lagi.
Kejadian itu berlangsung bertahun-tahun tanpa diketahui ibunya sampai dia lulus SMA. Setelah itu ia bekerja sebagai pramusaji di restoran milik teman ayah. Si ayah bahkan sering menjemputnya pulang dan mengajaknya jalan-jalan. Membelikan dia ini dan itu kemudian membawanya ke sebuah penginapan. Dan Septi hanya menurut saja karena jika dia membuatnya marah ia akan menghukumnya dengan memasukinya dengan cara kasar dan terkadang dengan mencambuknya terlebih dulu. Itu hanya akan membuat hidupnya makin tersiksa jadi dia pasrah saja. Septi semakin menutup mulut dan menghindari kontak dengan orang lain.
Malam itu lelaki yang berwajah manis tapi berkelakuan seperti iblis itu memasuki kamarnya. Dia menyelesaikannya dengan cepat karena ibu berkali-kali memanggilnya dan lelaki yang terburu-buru itu lupa tak memberi obat kepadanya.
Ibu menampar wajahnya dengan murka. Berbagai umpatan dan nama binatang keluar dari mulut ibu.
"Dasar anak bedeb** si alan! Beraninya menggoda suamiku. Anak tak tahu diuntung!!!!" Dia memukuli tubuh Septi dengan kalap dan lelaki yang baru saja menikmati dirinya dengan wajah malaikatnya mencoba menahan tangan ibu yang terus terayun.
"Malam ini juga, keluar dari rumah ini dan jangan muncul di depanku lagi anak se tan!!"
Badannya yang kesakitan segera mencari baju yang berceceran. Ibu yang sudah gelap mata tak bisa membedakan antara anak kandungnya dengan suami yang dia puja. Dia lebih memilih mempercayai suami yang mengatakan kalau Septi yang menggodanya dan memintanya untuk melalukan di kamarnya.
Si ibu masih saja memukuli Septi sampai ia keluar dari rumah dan pintu di tutup dengan keras oleh si nyonya rumah.
Malam itu dia tak tahu harus kemana karena keluar dari rumah tak membawa uang sepeserpun. Bukan hanya badannya yang terasa remuk redam tapi juga hatinya terasa sakit karena perlakuan ibu yang disayanginya. Ia hanya berjalan tak tahu arah karena hari sudah larut malam.
Sejak saat itu ia hidup di jalanan menjadi pengais sampah dan pencuri. Ia tak mau kembali bekerja di restoran karena pasti keberadaannya akan ketahuan si ayah.
Dan suatu malam setelah dia mencuri di rumah penduduk untuk bisa mengganjal perutnya dia ketahuan dan dikejar oleh dua orang pria. Itulah saat pertama kali dia bertemu Lukman. Di jalan yang lengang. Instingnya langsung bekerja dan menanamkan di pikiran kalau semua pria itu jahat dan dia harus bersiap-siap.
__ADS_1
Tapi ternyata Lukman berbeda dari yang ia kira. Di pertemuan kedua yang tak terduga dia masih mengira kalau Lukman sama seperti ayah tirinya. Berwajah manis tapi berhati bengis. Tapi teorinya sepertinya terbantahkan lagi.
Maka di pertemuan ketiga saat dia selesai mencuri sebungkus nasi dia melihat Lukman dan Daniah masuk ke dalam mobil maka ia dengan cepat masuk ke dalam mobil itu tanpa sepengetahuan mereka.
Bukan Daniah yang menjadi targetnya karena dia juga hanya mengenalnya sebagai tetangga. Lukman lah yang menjadi tujuannya. Ia yakin jika Lukman adalah pemuda yang baik yang mau menolongnya.
Dan itu benar adanya. Terbukti dia langsung diizinkan tinggal di rumah sekaligus kantor nya padahal mereka belum saling mengenal.
Setelah itu hubungannya dengan Lukman malah tumbuh diluar keinginannya karena Lukman ternyata lebih baik dari yang ia duga. Menghormatinya tanpa meminta imbalan apa-apa. Dia menutup mata kalau Lukman sudah beristri dan memilih menikmati hari-hari yang mereka lalui. Ia tahu kalau Lukman tertarik padanya dan ia merasa tersanjung karena diperlakukan sedemikian rupa. Ia bahkan sudah membayangkan menjadi istri keduanya Lukman. Pria baik hati, satu-satunya di dunia ini dan ia tak berniat untuk melepaskannya.
.
.
.
.
.
.
.
Nauzubillah min dzalik
Semoga Alloh menjaga aurot dan kesucian kita juga anak keturunan kita.
Aku takut kalau nulis tindakan yang asu si la macam itu karena aku juga punya anak gadis yang beranjak dewasa.
Lindungi dia ya Robb. Dimanapun dia berada. Jaga dia, sayangi dia. Limpahkanlah keberkahan untuknya di dunia juga di akhirat kelak.
Amiin
__ADS_1