
Sebulan sudah berlalu dan kini Laila sudah dalam keadaan sangat sehat. Begitupun dengan Lukman. Kakinya sudah semakin kokoh menopang beban tubuhnya. Ia sudah mulai terapi dengan menggunakan tongkat kruk meski di rumah masih sering memakai kursi roda elektrik nya.
Lukman semakin mahir pula menggerakkan kursi rodanya. Terkadang ia membuat atraksi untuk anak-anaknya dengan berjalan menggunakan satu roda saja. Membuat gerakan memutar dengan lihainya seperti atraksi di sirkus. Labib tentu saja yang paling mengapresiasi jerih payahnya. Sedangkan Latif hanya ikut tepuk tangan malas-malasan saja.
Meski begitu Lukman tak kecewa karena itu semua ia lakukan sebagai bentuk rasa sayang untuk anak-anaknya dan hanya itu saja yang kini bisa ia lakukan. Ia juga yakin putra pertamanya itu sayang padanya karena watak dan perilakunya tak jauh berbeda dengan dirinya sendiri.
"Bang.....!" Laila mendekati Lukman yang sedang menyirami tanaman sayuran di depan rumah. Ia memang mulai bertanam lagi sejak tangannya sudah bisa digerakkan. Malu rasanya kalau hanya diam saja dan bertumpu tangan di kala semua orang sibuk bekerja. Seperti biasanya tanaman yang dia rawat selalu tumbuh subur dan indah di pandang mata. Meski hasilnya tak banyak tapi itu bisa dimakan setiap hari. Sering juga bisa dibagi-bagi oleh Laila kepada para penjahit lepas, para pegawai maupun para tetangga.
"Hem...?" Lukman yang sedang memakai topi koboi mendongakkan kepalanya.
"Ke taman yuk ya bang...!" Tunjuk Laila ke tempat bermain anak-anak yang berada di bawah beberapa pohon mangga yang daunnya rindang. Di sana ada ayunan juga meja dan tempat duduk dari kayu yang berasal dari pohon utuh.
Lukman melanjutkan menyiram tanaman hingga selesai kemudian menggulung selangnya sendiri. Laila ingin membantunya tapi Lukman bersikeras menolaknya.
"Aku bisa. Ayolah...! jangan buat aku terlihat sangat menyedihkan seperti itu...!" Gerutu Lukman dengan muka juteknya.
"Iya iya maaf... Aku nggak mengasihani abang kok. Itu karena aku sayang...." Laila mencoba membela diri.
"Tapi orang-orang akan melihatnya dengan cara berbeda...." Lukman berkata dengan sebal. "Mereka pasti bilang, kasihan sekali istrinya. Suaminya cuma menyusahkan saja. Nggak bisa apa-apa. Padahal istrinya cantik, seksi, punya usaha." Lukman melanjutkan kejengkelannya dengan memarahi Laila sambil menaruh selang yang sudah ia gulung rapi ke sisi tempat pancuran air dengan cukup keras membuatnya berserakan tak beraturan.
"Kenapa harus mendengarkan orang lain? Apa tidak cukup buat abang buat melihatku seorang dan mendengarkan apa yang aku katakan? Mereka tidak tahu apa yang abang perbuat untukku dan Doni dulu. Aku tidak punya apa-apa dulu. Aku tidak pernah solat tidak bisa mengaji, lalu abang datang. Mengajari aku solat dan mengaji. Mencukupi semua kebutuhanku. Memberi keluarga besar yang selalu sayang dan juga mendukungku..."
"Kenapa harus mengungkit masa lalu. Bagiku itu bukan sesuatu yang harus kubanggakan. Itu semua aku lakukan karena aku sayang kamu La..."
"Begitupun dengan ku...... Aku tidak merasa keberatan melakukan semua ini yang penting abang selalu bersamaku itu sudah cukup untukku....."
__ADS_1
Laila melangkah hendak meninggalkan Lukman sambil menghentakkan kakinya karena merasa kesal pada suaminya.
"Yang.... bantu aku....!" Lukman berpura-pura kesulitan menggerakkan kursi rodanya karena sadar telah membuat istrinya marah.
Meski ia ingin meninggalkan suaminya karena tahu kalau Lukman cuma pura-pura namun kenyataannya dia berbalik dan mendorong Lukman menuju ke tempat yang dia inginkan.
"Abang bisa sendiri kan... kenapa minta bantuanku? Asal abang tahu... aku melakukan semua ini tidak ikhlas. Aku harap abang akan mengingatnya nanti..... suatu saat jika aku melakukan kesalahan" Ia mencecar suaminya dengan penuh emosi.
"Maaf...!" Ucap Lukman karena kelepasan emosi.
"Yang.... aku kangen kamu panggil aku mas... Kalau kamu panggil abang, aku kayak lagi ngobrol sama Ani sama Rina" Keluh Lukman jujur.
"Minta saja sana sama Septi...!"
Baru juga baikan mereka sudah mau bertengkar lagi. It is what it is, it's life.
"Pagi bu... pak....!" Seseorang yang mengendarai sepeda motor Supra masuk ke halaman rumah bang Alif dan menyapa mereka.
"Iya pak... silahkan masuk saja! Ada kak Mia tadi...." Ia adalah pak Mirto yang biasanya mengambil kain yang sudah di potong-potong dan menjahitnya di rumah.
"Iya bu...." Jawab pria paruh baya itu sambil menaruh sepeda motor nya di tempat biasa.
"Mau bicara apa tadi?" Lukman bertanya setelah pak Mirto berjalan agak jauh sambil membawa kresek besar yang biasanya berisi pakaian yang sudah selesai di jahit.
"Nggak jadi.... " Ia kembali pada mode sebalnya lagi.
__ADS_1
"Maaf..." Ucap Lukman lagi karena kehabisan kata-kata. Lebih baik mengalah dengan minta maaf agar tidak memperpanjang masalah.
"Abang kalau dengar nama Septi pasti jadi salah tingkah gitu? Abang masih ada rasa ya? Tenang saja...! Nanti pas pembukaan butik aku undang dia kok..." Laila jadi sensitif kalau membicarakan Septi dengan Lukman. Padahal dia sendiri yang memulainya. Dan berapa kalaipun dijelaskan kalau suaminya itu sudah tak punya rasa apa-apa masih saja dirinya tak percaya.
Lukman menghela nafas saat istrinya di posisi seperti ini. Ia hanya harus mendengarkan tanpa menyela. Meskipun biasanya Laila akan marah dan mengomel dalam waktu yang lama. Kata-katanya biasanya merembet ke mana-mana. Lukman hanya berharap ada seseorang yang bisa mengeluarkan dirinya dari situasi seperti saat ini.
Kebetulan bang Alif baru pulang setelah mengantar anak-anak ke sekolah. Biasanya langsung menuju ke tokonya sendiri tapi tumben kali ini dia pulang lagi.
"Kenapa bang? Ada yang ketinggalan?" Tanya Lukman.
"Ini tadi di jalan lihat ada orang jualan roti Maryam. Kakakmu pasti suka. Sudah lama aku tak membelikannya..." Jawab bang Alif yang keluar dari mobil sambil menenteng tas kresek.
"Ayo kita makan sama-sama. Mumpung anak-anak lagi nggak ada..." Ajak bang Alif sambil mendorong kursi roda Lukman tanpa meminta pendapat Laila.
Lukman senang bukan kepalang karena istrinya itu tidak mungkin marah-marah di depan orang lain apalagi abangnya. Tak akan berani. Sekarang saja ekspresinya pasrah sambil mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya melalui mulutnya. Laila berjalan di belakang kedua pria itu sambil menahn kesal tapi tak mungkin ia perlihatkan pada semua orang.
"Memangnya kenapa kalau ada anak-anak?" Tanya Lukman.
"Sesekali kita harus punya waktu berduaan saja. Berpacaran seperti sebelum kehadiran anak-anak kita. Perlu juga memberikan waktu spesial buat pasangan untuk menikmati waktu sendirian. Me time istilahnya...."
"Go go go....!" Bang Alif mendorong Lukman dengan sedikit kencang karena mereka naik tanjakan menuju ke rumah yang letaknya jauh lebih tinggi dari halaman.
"Harusnya aku sering dorong kamu kayak gini biar perutku sixpack kayak kamu ya Man....?" Bang Alif berkelakar untuk mencairkan keadaan. Sepertinya ia tahu Lukman dan istrinya sedikit bersitegang.
"Itu dulu.... sekarang perutku jadi gendut..." Kata Lukman sambil meraba perut nya sendiri.
__ADS_1