
Sebenarnya Laila sering melihat Lukman riwa-riwi di supermarket tempat kerjanya. Penampilannya yang berbeda dengan manusia zaman now akan membuat setiap orang yang pernah melihatnya akan langsung mengingatnya.
Kalau di lihat dengan cermat Sebenarnya badannya sangat ideal. Tinggi, gagah, kekar dengan dada bidang dan punggung yang lebar. Sayangnya caranya berpakaian agak kampungan.
Dia selalu memakai pakaian kemeja yang dikancingkan dengan sempurna. Di kedua pergelangan tangannya maupun di pangkal lehernya. Rambutnya bersinar karena minyak rambut yang seperti di tumpahkan di atas kepalanya. Ia menyisir rambutnya dengan gaya belah pinggir. Narsis dan bikin orang illfeel.
Di jaman seperti ini masih ada saja tipe cowok aneh yang seperti itu. Dimana semua orang kebanyakan sudah pakai pomade dengan gaya pakaian dan rambut yang stylish abis seperti artis ala-ala k-pop dan BTS.
Saat pertama kali melihatnya Laila juga merasa aneh dengan penampilan lelaki itu ditambah lagi ia sering wira wiri di dalam supermarket tanpa membawa barang belanjaan sama sekali. Makin merasa semacam kayak jijay gitu si Laila.
Tapi yang lebih aneh lagi, dengan penampilannya yang seperti itu dia punya tatapan yang tajam seperti elang. Membuat orang yang melihatnya langsung menunduk atau langsung kabur saja gitu.
Tapi semenjak adiknya berulah dan mereka mulai saling mengenal Laila kerap mencuri-curi pandang saat Lukman bersileweran di sekitarnya. Kini ia tahu kenapa Lukman sering tampak batang hidungnya di tempat kerjanya itu karena ia punya satu stand toko di dalam supermarket itu yang menjual aneka accecories pria. Pandangannya pada Lukman mulai berbeda meskipun hatinya menolak untuk mengakuinya.
Malam itu Laila melihat Lukman berjalan berdampingan dengan seorang gadis cantik. Ia melihatnya sudah sejak mereka masuk ke dalam supermarket tadi . LaiIa sebenarnya sadar kalau ia tertarik pada pria yang penampilannya tampak culun itu tetapi dia masih saja terobsesi dengan pria yang kaya raya karena Ia sudah kenyang hidup susah. Meskipun Lukman sudah banyak membantunya tapi ia merasa Lukman belum termasuk orang kaya raya.
Hari ini Doni tidak bekerja dan adiknya itu tak mengirim pesan apa-apa padanya. Alasan lain Lukman mempekerjakan Doni di stand nya pada shift dua atau malam hari agar Doni bisa pulang bareng dengan kakaknya.
Setelah Laila menyelesaikan pekerjaannya bersama karyawan lainnya dia berpamitan untuk pulang lebih dulu pada teman-temannya. Dia segera berjalan keluar untuk pulang barangkali Doni sudah menunggunya di luar.
Dengan sengaja ia berjalan melewati Lukman dan gadis tadi dengan wajah ditekuk-tekuk. Sebenarnya ia merasa cemburu tapi ia tak mau mengakuinya. Hatinya menggerutu mencoba menjelek-jelekan Lukman.
'Dia itu udah tua, culun lagi. Lihat saja bajunya norak kayak gitu. rambutnya juga klimis banget, mungkin dia pakai minyak rambut sebotol kali. Masa cewek cantik tadi mau sama dia, jangan-jangan dia pakai pelet.' Laila menggerutu dalam hatinya.
Dia tidak tahu yang berjalan bersama Lukman adalah adiknya sendiri yang bernama Ani.
Laila berdiri di depan gerbang masjid yang ada di sebelah supermarket. Ia masih berharap Doni akan menjemputnya karena itu Ia tak berniat untuk memesan ojek online karena uangnya sudah menipis sekali. Ia juga curi-curi pandang ingin melihat apa yang dilakukan Lukman dan gadis cantik tadi.
Cowok-cowok nggak jelas seperti yang ada di seberang jalan menggodanya dengan bersiul-siul dan memanggil-manggilnya.
__ADS_1
Jelas saja cowok-cowok itu menggodanya. Pakaiannya yang ketat menampakkan buah melon supernya yang memikat mata para pria di tambah lagi rok spannya yang pressbodi memperlihatkan betapa jenjang dan mulusnya kaki gadis ini. Tubuhnya tinggi dan proporsional. Pokoknya bodinya itu sangat aduhai dilihat dari segi mana saja. Baik dari depan, belakang atau dari samping dia terlihat sangat sempurna. Ibarat kata itu badan impian setiap wanita.
Di tambah lagi make up tebalnya membuat cowok-cowok itu semakin berani menggodanya karena mungkin mereka menganggap dia cewek murahan yang sedang menunggu om-om yang memesannya.
Laila sama sekali tak menghiraukannya. Ia sudah sering mendapatkan perlakuan seperti itu tapi ia belum ingin merubah penampilan seksinya. Masih nyaman-nyaman saja.
Ia mencoba menghubungi Doni lagi tapi tidak tersambung. Mungkin hapenya mati. Laila kemudian mengirim pesan lagi tapi di tunggu-tunggu tak ada pula balasan seperti yang diharapkan.
Ia sempat melirik seseorang yang mengendarai motor sport berhenti sebentar di depan gadis tadi kemudian melajukan motornya meninggalkan gadis cantik itu.
Deg.... apa itu bang Lukman? Masak sih? nggak mungkinlah. Aku sering lihat cowok ini. Dia memakai jaket kulit yang menutupi tubuh atletisnya, tas ransel di punggungnya. Kakinya yang panjang dibalut celana jeans ketat dengan memakai sarung tangan dan memakai helm full yang menutupi mukanya.
Laila juga sering melihatnya keluar masuk supermarket tempatnya bekerja, dia terlihat sangat macho sekali.
Nggak mungkin itu bang Lukman kan?. Hatinya bertanya-tanya sambil berpura-pura melihat hapenya.
"Kemana Doni? Kenapa dia tidak masuk kerja?" Tanya si pria dengan suara baritonny.
"Nggak tahu aku juga lagi nunggu dia" kata Laila mencoba bersikap biasa saja padahal dadanya berdegup kencang. Kenapa dia terlihat keren seperti ini?
Lukman kemudian turun dan memakaikan helm di kepala Laila.
" Naik ! aku antar ke rumahmu!" Nadanya ketus memerintah tak ada manis-manisnya.
" Aku nunggu Doni aja" Kata Laila, dia takut hatinya semakin menggila jika pulang bersama si pria.
Lukman tak menghiraukan jawaban Laila dan melepaskan jaketnya kemudian menaruhnya di pundak Laila.
Lukman berkacak pinggang sambil melihat ke arah cowok-cowok pengangguran yang ada di seberang jalan kemudian menaiki motornya.
__ADS_1
" Ayo naik!" kata Lukman dengan tegas tanpa menoleh ke arah Laila.
Lukman mulai menyalakan motornya karena Laila tak merespon ucapannya.
"Kau lebih senang disini , digoda cowok-cowok berandalan itu? " katanya sambil menarik tuas kopling dan memasukkan gigi pada posisi ke tiga.
Laila segera memasukkan hp di tasnya kemudian segera duduk di belakang Lukman sambil memakai jaket kulit milik Lukman. Ia memilih duduk menyamping sambil berpegangan tas ranselnya Lukman.
Motor yang mereka kendarai berjalan menyusuri malam tanpa sepatah kata dari mulut keduanya. Sampai mereka melewati sebuah gang menuju rumah Laila tapi Lukman terus saja mengendarai motornya karena Laila diam saja.
Sampai 30 menit kemudian Lukman baru bersuara, " dimana rumahmu?". Ia membuka kaca helm teropongnya agar suaranya bisa di dengar Laila.
" Di kali deres" jawab Laila
"Di mana?"
" Di kalideres!!!" Laila berteriak disamping telinga Lukman
" Kenapa tidak bilang dari tadi?!!!" suara Lukman tak kalah kerasnya.
"Kau tidak tanya....!!!!" Laila berteriak lebih keras lagi.
Chiiiiiit.......!!!!!
Lukman tiba-tiba mengerem motornya secara mendadak dan itu membuat Laila spontan memeluk Lukman karena ia takut terjatuh.
"Lepas!" Lukman memukul punggung tangan Laila yang sedang melingkar di perutnya . Untung saja ada tas ransel di tengah mereka sehingga dada Laila tidak langsung menempel di punggung Lukman.
"Kau itu..... bisa naik motor tidak?", kata Laila sambil melepaskan tangannya dari pinggang Lukman kemudian memukul lengan Lukman.
__ADS_1