
"Bun...! Bun...! Bunda!!" Labib menggoyang-goyangkan lengan sang ibu yang sedang berada di masa silam saat mengandung Latif. Laila tersenyum sambil menutup bibirnya saat ingat ia begitu agresif pada sang suami saat hamil putra pertamanya. Seakan itu adalah penawar untuk rasa mual juga lemasnya. Pokoknya kalau lihat Lukman bertelanjang dada saja dia akan kepanasan dan akan merengek sampai keinginannya dituruti.
"Bundaaaaa!!!!!"
"Iya iya....ada apa dik?" Laila tergagap mendengar suara putranya.
"Itu dipanggil sama bude dali tadi bunda!"
Labib menunjuk kak Mia yang berdiri di teras rumah yang posisinya lebih tinggi dari kebun dan halaman mereka.
"Eh iya kak?!" Laila menoleh pada kak Mia yang sedang melihatnya dengan memicingkan mata.
"Ngelamun aja. Sini sebentar La!" kak Mia mengusap perutnya yang buncit dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya memegang pinggang seolah menahan beban tubuh bagian depannya.
"Ayo naik dulu dek!" Laila mengajak putranya sambil menggandeng si kecil untuk naik ke rumah bang Alif.
__ADS_1
"Kenapa kak?" Tanya Laila pada kak Mia takut kalau terjadi apa-apa.
" Nggak kenapa-napa. Kamu pernah bilang pingin punya toko buat semacam butik gitu. Ruko yang ditikungan perempatan depan sana dijual. Kamu mau beli nggak?"
Laila tersenyum menanggapi wanita hamil yang mengingat perkataannya yang asal saja seperti berandai-andai sesuatu yang tidak mungkin bisa dia gapai. Semacam cita-cita dalam dunia tak kasat mata.
"Itu cuma angan-angan saja kak, Aku ini siapa?" Laila sadar dirinya tak mungkin bisa terbang menggapai langit yang tinggi.
"Kamu jangan pesimis begitu! Semua orang dikasih kesempatan yang sama oleh Alloh untuk beribadah sebanyak-banyaknya dengan cara yang berbeda-beda. Kamu punya kemampuan mendesain baju yang bagus. Kami yakin kalau kamu mengembangkannya pasti kamu bisa berkarya dan baju-baju buatanmu akan diminati masyarakat luas. Dan untuk hal itu kamu perlu bantuan banyak orang dengan kata lain kamu akan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih besar lagi." Kak Mia mencoba membangun kepercayaan diri Laila dengan ceramah panjang nan lebar.
"Kamu ingat kan dulu, waktu kamu mau ngambil jahitan dalam jumlah besar. Kamu maju mundur maju mundur. Sekarang lihatlah, wajah para tetangga yabg bahagia saat memgambil kain-kain untuk mereka jahit di rumah. Apalagi saat waktunya mengambil upah. Ternyata kamu bisa kan menghandle semuanya?"
"Itu kan semuanya tidak lepas dari dukungan kalian semua kak. Terutama ayahnya Latif dan kakak" Jawab Laila apa adanya.
"Itulah keluarga La! Saling membantu dan menguatkan " Kata Kak Mia lagi.
__ADS_1
Laila melirik kanan kiri untuk memastikan keadaan bahwa tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka. Setelah dirasa aman barulah Laila berbicara.
"Sekarang keadaannya berbeda kak. Kakak tahu kan hubungan kami sekarang bagaimana?" Laila menundukkan kepala karena harus mengungkap aib keluarganya.
"Justru karena itu kamu harus kuat! Tunjukkan sama Lukman kamu bukan wanita biasa-biasa saja yang bisa dia tinggalkan begitu saja! Buat dia kembali bertekuk lutut padamu! Jangan hanya diam saja! Tunjukkan sama dia kalau kamu wanita yang bisa berbuat banyak kebaikan untuk banyak orang! Bukan cuma wanita yang bisanya menangis saja!" Kak Mia berbicara menggebu-gebu seperti seseorang yang sedang berorasi.
"Ehm ehm!!"
Kak Mia berjingkat kaget mendengar deheman suaminya yang berasal dari ruang makan. Ia memukul-mukul bibirnya dengan pelan karena takut pada suaminya. Mungkin ada perkataan nya yang salah sampai suaminya itu berdehem mengagetkan dirinya.
Laila juga sama kagetnya karena ia mengira tidak ada orang di rumah.
"Kak aku ke depan dulu. Tolong tanyakan sama abang, kalau aku membeli ruko memakai uang simpananku tanpa memberitahu ayahnya Latif lebih dulu apa itu diperbolehkan atau tidak" Laila berbisik di telinga kak Mia kemudian melambaikan tangannya mencoba memanggil Labib yang ada di ruang tengah.
"Labib biar disini dulu yah! Please!" Kata Kak Mia sambil mencoba berdiri dengan perut besarnya mau memakai Labib sebagai tameng kalau-kalau suaminya itu beneran marah.
__ADS_1