
Suara tepuk tangan dari para kolega dan keluarga besar Lukman dan Laila terdengar riuh setelah Laila menggunting pita yang menandakan butik FOUR EL miliknya resmi dibuka.
Senyum indah tak henti tercetak di wajah cantiknya yang hari ini memakai full make up untuk menunjang penampilannya. Ia bahagia tak terkira. Sesuatu yang dulu hanya menjadi angan-angannya kini bisa menjadi kenyataan dan itu seperti mimpi. Tak pernah menyangka akan bisa terjadi.
Ucapan selamat tak henti dia terima. Silih berganti mendapat karangan bunga diiringi doa semoga kesuksesan senantiasa mengiringi langkah yang baru ia tempuh.
Di sudut ruangan seorang pria duduk sambil memperhatikan wanita yang saat ini menjadi pusat perhatian. Pandangan matanya yang tajam seakan ingin memukul semua lelaki yang menjabat tangan istrinya. Terlihat sekali kekaguman para pria yang menjadi partner kerja istrinya. Padahal itu usaha bersama antara istrinya dan kak Mia tetapi kakak iparnya itu lebih senang berada di belakang layar. Tak menampakkan diri tapi pergerakannya begitu penting untuk tumbuh kembang usaha mereka.
Bahkan beberapa diantara para lelaki itu berusaha menjabat tangan Laila lebih lama dengan menggenggamnya lebih erat. Dan Lukman yang merasa insecure dengan keadaan dirinya sendiri hanya bisa melihatnya dari jauh. Memendam rasa cemburunya dan menekan amarah yang membuncah dalam dadanya. Mencoba meredam api yang sedang berkobar di kepalanya.
"Kak...." Doni memisahkan tangan Laila dengan tangan orang yang sedang menjabat tangan kakaknya yang enggan melepaskannya.
"Silahkan menikmati hidangan yang ada disana..!" Menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman terpaksa agar pria yang seumuran dengan abangnya itu menjauh dari kakaknya.
"Tapi saya masih ingin membicarakan beberapa hal dengan bu Laila. Saya ingin berdiskusi secara pribadi karena ingin memakai jasa bu Laila secara pribadi..."
Doni mengernyitkan kening, kalimat yang didengarnya terasa mengganggu telinga. Terdengar ambigu.
"Maaf.... Maksudnya..?" Doni meminta penjelasan agar tak salah paham.
"Eh, maksud saya... ini bukan urusan kantor. Saya.... saya ingin memesan busana untuk pernikahan keluarga saya..."
"Ohh.... begitu rupanya. Anda bisa datang lagi kesini besok karena hari ini kami hanya mau syukuran dulu. Besok baru mulai kerja. Silahkan temui pegawai yang bertugas karena kakak saya hanya mendesain pakaian saja. Untuk masalah teknisnya ada pegawai lain yang bertugas untuk melayani para pelanggan"
__ADS_1
"Yah... I know..."
"Kalau begitu silahkan menikmati hidangan kami..." Kata Doni sambil menggerakkan tangannya untuk mempersilakan si pria agar pergi ke tempat prasmanan ya disediakan.
Konsep pesta semi out door yang diusung oleh tim WO sangat matching dengan keadaan bangunan dan halaman yang tidak begitu luas sehingga parkiran mobil berjajar di sepanjang jalan raya. Untungnya semua izin sudah dikantongi oleh tim WO. Meski tidak seberapa besar dan megah tapi menurut Laila itu adalah pencapaiannya yang luar biasa.
Di tengah prahara rumah tangganya ia masih bisa mempertahankan usahanya berkat bantuan saudara-saudara iparnya. Mereka tak henti menyokong dirinya dari urusan materi sampai permasalahan rumah tangga yang terjadi antara dirinya dengan Lukman.
Bukannya membela Lukman mereka malah balik mendukung dirinya. Membantu dengan sekuat daya upaya agar dirinya bahagia dan bisa berdiri tegak. Pak Dirman, Rina dan kak Mia bahkan menyuruhnya untuk berpisah dari Lukman saat mereka mengetahui suaminya ada main di luar.
Ayah mertuanya itu bahkan mengusir anaknya sendiri saat mendengar dari Rina kalau abangnya itu bermain api dengan Septi. Sungguh ia merasa beruntung berada di keluarga ini.
"Bunda abang mau makan..." Latif mendekati Laila yang sedang mendapatkan ceramah dari pamannya. Doni tidak suka saat Laila tidak bisa menolak dengan tegas para pria yang kelihatan dengan jelas mengaguminya.
"Awasi bundamu itu...." Doni berkata dengan ketus pada keponakannya. Lukman yang melihatnya jadi sedikit lega karena ada yang mewakili rasa cemburu nya. Dari dulu Doni memang selalu mengerti dirinya.
"Kenapa?" Tanya Lukman tak menyangka mendapatkan pelukan tiba-tiba dari istrinya.
"Terima kasih sudah memilihku. Aku bukan orang yang....." Perkataan Laila di potong oleh suaminya.
"Shuttt!! Banyak orang. Nanti kita lanjutkan di kamar..." Ucap Lukman sambil menjauhkan tubuhnya dari istrinya. Ia tahu Laila akan menangis kalau dia tak segera menghentikannya.
Laila mengerucutkan bibirnya berniat mencium bibir tebal milik suaminya namun Lukman menahan bibir berwarna merah itu dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Banyak anak kecil yang...." Ucap Lukman.
"Hehe... maaf abisnya gemes sama abang..." Ujarnya sambil mencuri pipi Lukman dengan bibirnya.
"Abang mau makan apa? Mau kesana atau ku ambilkan saja?" Tanya Laila kemudian.
"Sama dengan kamu aja...!" Lukman mencubit ujung hidung Laila dengan gemas.
"Tunggu ya...!" Katanya sambil berbalik dan berjalan menuju tempat prasmanan.
Lukman memandang punggung Laila sambil mengucap syukur dalam hatinya. Setelah apa yang terjadi pada dirinya yang hampir saja menimbulkan keretakan dalam rumah tangganya kini semua berjalan dengan sangat baik.
Sang istri senantiasa mendampinginya, menerimanya tanpa syarat, memaafkan semua kesalahannya. Meski terkadang ada kalanya saat marah ia akan mengungkit masa lalunya, Lukman sudah menyiapkan hati. Bagaimanapun itu kesalahannya dan ia harus bersabar menahan diri agar tak ikut marah. Cukup menyiapkan telinga selama beberapa menit tapi setelah itu ia akan mendapatkan segala yang ia mau. Bersabar sebentar untuk mendapatkan hal yang lebih besar.
Tak jauh dari sana ada sepasang mata milik seorang wanita yang sedang menggendong bayinya sedang memperhatikan interaksi mereka. Bibirnya tersenyum tapi matanya menangis.
Mungkin benar definisi yang mengatakan kalau cinta itu tak selamanya harus memiliki. Kata-kata itu cocok untuk Septi. Ia merasa bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan Laila. Wanita cantik, sabar, baik hati, penuh pengertian, punya bakat juga usaha yang sedang bersinar. Septi lupa jika manusia itu tempat lupa dan dosa. Begitupun Laila yang jauh dari kata sempurna. Yang ada hanyalah berniat lebih baik dan berusaha lagi dan lagi.
Siapalah dirinya. Dia hanya seorang wanita yang punya masa lalu yang kelam, tak pandai apa-apa, keluargapun tak punya. Septi mungkin lupa kalau setiap manusia itu unik dan dibekali kemampuan yang berbeda. Hanya saja mungkin ia belum tahu kelebihan apa yang dia miliki.
Septi bersyukur kini dia bisa tinggal di tempat yang aman. Bahkan Laila dan Rina sudah dua kali menjenguknya. Bukannya dendam dan marah kepadanya Laila justru mengasihaninya dan bersedia menjadi tempat curhatnya.
Septi pun bisa menerima kehadiran anak yang dulu tak diharapkannya karena perkataan Laila.
__ADS_1
"Bagaimanapun cara seorang anak lahir ke dunia dia tetaplah makhluk suci yang tak punya dosa. Kalau kita menyayanginya dengan sepenuh hati. Mengajarkan hal-hal baik yang diperintahkan agama kepadanya insya Alloh dia akan tumbuh menjadi anak yang baik. Tidak perlu menceritakan asal usulnya. Katakan saja kalau ayahnya sudah pergi meninggalkan kalian " Begitu yang dikatakan Laila pada Septi.
"Ayo....!" Seorang lelaki berbadan gempal seperti seorang tentara mengagetkan Septi. Ia pun menganggukkan kepala tanda setuju pada pria yang beberapa bulan ini senantiasa menemaninya karena perintah Rina untuk menjaga dirinya. Septi pun naik ke dalam mobil yang akan membawanya kembali ke panti bersama putranya yang masih bayi.