
"S-siapa kamu?" Septi mundur ke belakang sampai tubuhnya menabrak tembok padahal Rina tak berbuat apa. Ia hanya duduk di tepi meja sambil melipat kedua tangannya. Menatap wanita yang sedang hamil dan ketakutan itu dalam diam. Pandangannya tajam dan tak sepatah kata pun keluar keluar dari mulutnya membuat Septi seperti dikuliti dan siap di eksekusi. Ia sudah ketakutan setengah mati dengan aura dingin dan permusuhan yang disuguhkan Karina.
"M-mas Lukman ada dimana sekarang?" Tanya Septi tergagap karena merasa tidak pernah bertemu apalagi mengenal Karina sebelumnya.
"Mas???! Mas ???!" Darah Rina langsung bergejolak mendengar Septi memanggil abangnya dengan sebutan mas karena dia tahu itu panggilan sensitif untuk abangnya dan dulu hanya diperuntukkan khusus untuk Laila.
Rina membayangkan sedang memegang dagu wanita yang dia tahu bernama Septi itu kemudian mencengkeram geraham si Septi dengan kekuatan tangan yang dimiliki. Tapi ia masih memiliki hati dan tak berniat menyakiti secara fisik.
Kalau saja Septi tidak hamil, Karina tidak akan segan-segan menyingkirkan wanita ke tempat jauh yang disana tidak ada seorang pun yang mengenalnya dan tidak akan pernah terdeteksi keberadaannya.
Tapi yang dihadapi kini beda cerita. Wanita hamil ini kemungkinan sedang mengandung anak abangnya yang tidak mungkin diabaikan begitu saja meskipun Lukman sudah mengatakan padanya kalau anak dalam perut Septi bukanlah darah dagingnya tapi ia menyangsikan pernyataan Lukman. Kalau bukan anaknya kenapa bisa seperhatian itu pada si wanita yang enggan ia sebut namanya itu.
Rina mendengus sebal "Pikirkan saja tentang dirimu sendiri. Kau pikir bisa keluar dari sini dengan mudah Hah?" Mata Rina nyalang menatap Septi sambil memiringkan kepalanya.
"Aku sudah sering ikut operasi membedah tubuh pasien dan menggantinya dengan alat-alat buatan manusia. Jantung, ginjal aku sudah biasa memegangnya. Tapi itu sudah lama sekali. Rasanya sekarang aku ingin mencobanya kembali tanpa dokter yang ahli" Rina merentangkan tangannya yang bertautan kedepan kemudian menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
__ADS_1
Karina menekan tombol remote dan layar besar di belakang Rina menyala menampilkan Ibrahim yang sedang mengoperasi pasien dengan dia sebagai asistennya. Tangan Ibrahim begitu terampil membedah tubuh manusia dan Karina tak kalah sigap membantu sang dokter menjalankan tugasnya.
Sayatan demi sayatan ditampilkan dengan darah yang terus mengalir segar. Juga bagian dalam tubuh manusia yang dengan mudah di bedah seperti kemudian di pindah-pindah tempatnya.
"Brak brak brakkk!!!!"
"To-tolong buka pintunya!!!! Siapapun diluar tolong buka pintunya!!!!" Septi menjerit ketakutan saat Rina mulai melangkahkan kaki menuju ke arahnya. Meski badan Rina tergolong mungil dan lebih kecil dari darinya tapi auranya sungguh menakutkan. Apalagi di tambah baju serba hitam yang di pakainya juga jubahnya yang berkibar saat ia melangkah semakin dekat. Pas sudah aura kejamnya.
"Ctakkk!!!"
Pintu besar dan tinggi itu terbuka dan berderit membuat bulu romanya berdiri.
"Tapp!!"
Rina melempar pisau dan tepat mengenai papan sasaran yang ada di dekat pintu membuat Septi semakin ketakutan. Ia memegang dadanya sambil *******-***** bajunya.
__ADS_1
Beberapa lelaki kemudian masuk dan menundukkan kepala dengan hormat pada Karina. Wanita yang hari ini lebih mirip dengan psikopat itu menggerakkan kepala pada salah satu anak buahnya agar berdiri di depan papan sasaran.
Ia kemudian melemparkan sebuah apel pada si lelaki yang berkali-kali menelan ludah karena ketakutan. Lelaki itu kemudian berdiri dengan gemetaran sambil menaruh apel di atas kepalanya.
Karina menengadahkan tangan dan seseorang dengan sigap menaruh busur di tangan Karina kemudian mengangsurkan anak panah setelahnya.
"Swing...... Tapp!!"
Anak panah meluncur dan tepat mengenai apel yang berada di atas kepala pria yang kini jatuh terduduk sambil menekan dadanya sendiri. Ia bersyukur karena kepalanya selamat tak terkena bidikan panah sang bos yang ditakutinya.
Rina berjalan ke arah Septi sambil melepas jubahnya kemudian membaliknya. Hanya dalam waktu beberapa detik saja jubah tadi sudah berubah menjadi rok berenda berwarna putih. Kini tampilannya seperti seorang putri dari Belanda dengan wajah eksotisnya.
"Bawa dia pergi!" Katanya sambil menerima tas wanita dari anak buahnya dan berlalu melewati Septi begitu saja.
"Perlakukan dia dengan wajar! ikat saja kalau dia membangkang!" Kata Rina saat sudah duduk di bangku penumpang.
__ADS_1