
Aku keluar dari ruangan direktur rumah sakit Citra Medika dengan hati bimbang. Aku bingung dengan diriku sendiri. Apa yang sudah kulakukan selama ini sampai-sampai aku tak tahu kalau istriku sedang hamil. Berapa banyak yang kulewatkan dalam kehidupan keluargaku sendiri. Aku begitu perhatian pada Septi tapi aku menjalani kewajibanku sebagai seorang ayah dan suami dengan asal-asalan saja.
Shitt... bodohnya aku.
Tanpa kusadari aku berjalan tak tahu arah menyusuri lorong rumah sakit sampai tiba di taman yang sudah lengang karena hari sudah beranjak siang. Aku berusaha mencari sosok Laila barangkali ia masih ada di sana. Aku ingin minta maaf karena sudah menelantarkannya. Benar kata bang Alif, aku begitu bersemangat mengantar Septi periksa ke dokter kandungan tapi saat istriku memintaku untuk mengantarnya periksa aku tak menghiraukannya. Bahkan baru sekarang aku mengingat permintaannya saat itu.
'Maafkan aku sayang...aku benar-benar menyesal sekarang.'
Aku berjalan dengan cepat menuju ke ruangan Laila. Aku ingin segera bertemu dengannya. Tiba-tiba saja rindu itu menyeruak. Tak perduli bagaimana dia menolakku aku sudah bertekad akan tetap memeluknya nanti. Aku yakin Seperti biasanya pada akhirnya dia akan luluh juga.
Kosong.... ruangan yang tadi ditempati istriku kini sudah kosong bahkan tak ada tanda-tanda kalau ruangan itu baru saja ditempati. Semua tertata rapi tanpa ada penghuni. Aku keluar dan melihat tulisan di atas pintu masuk untuk memastikan apa benar ini tadi kamar VVIP Melati. Ternyata benar. Lalu kemana istriku dibawa?
Aku berlari mencari ruangan direktur yang tadi kumasuki bersama Ibrahim dan Bang Alif. Karena aku lupa rutenya beberapa kali aku harus bertanya pada perawat dan petugas rumah sakit. Sampai akhirnya aku menemukan tempat yang terletak di ujung tak jauh dari taman.
__ADS_1
Beberapa kali kuketuk tapi tak ada jawaban dengan tak sabaran aku membukanya ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Pikiranku semakin kalut. Aku berlari-lari sambil berteriak memanggil namanya.
"Laila!!!"
"Lela kamu dimana?!!" Aku berteriak sambil membuka pintu setiap ruangan dan mencarinya. Mungkin saja ia disembunyikan oleh Rina di salah satu ruangan.
Tiba-tiba saja aku merasa ada yang menarik kedua lenganku dengan paksa
"Saya hanya mencari istri saya!!" Bentakku tak terima sambil melepaskan lengan ku dari mereka. Dengan kekuatan yang kumiliki sangat mudah untuk melepaskan diri dari kedua security itu. Kuhempaskan mereka dan kuhadiahkan satu kali tendangan. Merekapun langsung terhuyung-huyung jatuh. Aku adalah pelatih ilmu beladiri dan pemegang sabuk hitam. Tak akan kesulitan kalau untuk bertarung dengan skala kecil seperti ini
"Pak Lukman, tolong jangan buat keributan di rumah sakit saya!" Ronald sudah berdiri di hadapanku dengan beberapa bodyguard.
"Istri bapak sudah tidak berada disini" Katanya lagi.
__ADS_1
"Lalu dimana anda menyembunyikan istri saya??!" Bentakku tak takut padanya, orang yang berkuasa di rumah sakit ini.
"Silahkan tanyakan pada keluarga anda sendiri!! Saya tidak mau ikut campur!! Bawa dia keluar!!"
Ronald mengarahkan dagunya keluar dan para bodyguard berbadan besar dan gempal itu dengan sigap berjalan kepadaku. Aku tentu tidak mau diam saja. Sudah lama tak pernah berduel rasanya gatal juga tanganku.
"Pak Lukman anda mengganggu pasien-pasien saya. Mohon kerjasamanya!!" Kata Ronald lagi membuatku sadar aku sedang berada di mana.
"Aku bisa keluar sendiri!!" Kataku sambil melepaskan cengkeraman tangan para bodyguard.
Aku berjalan keluar sambil menelpon Rina tapi tak ada jawaban. Kemudian aku mencoba menghubungi Ibrahim tak diangkat juga. Kuberanikan telpon kak Mia dan Bang Alif ternyata mereka sama-sama bersepakat untuk tak menjawab telponku. Akhirnya kuputuskan ke rumah sakit Seger Waras milik Keluarga Ibrahim. Aku yakin istriku pasti disembunyikan disana. Keadaannya bahkan belum pulih tapi mereka malah membawanya bepergian.
"LAILAAAAA!!!!!"
__ADS_1