
Laila merasa trenyuh setelah mendengar cerita masa lalu Septi. Ia tak bisa membayangkan bagaimana seorang anak bisa mengalami hal setragis itu. Kini ia bersyukur karena dulu ia hanya mengalami kesulitan ekonomi tapi Alloh tetap menjaga kesucian dirinya padahal dulu ia selalu membuka aurot dan memamerkan lekuk indah tubuhnya kemana-mana.
Bahkan ia berusaha menjerat orang kaya untuk dijadikan suami agar hidupnya tak kesulitan lagi sampai ia bertemu Lukman dan buyarlah semua angan-angan nya karena ia langsung jatuh cinta pada Lukman pada pandangan pertama. Meski mulutnya menyangkal tapi hatinya selalu menghadirkan rasa yang tidak diharapkannya.
Ia selalu marah-marah didepan Lukman untuk menutupi rasa sukanya, mencoba mengecoh dirinya sendiri pada lelaki bertampang galak dan bertampang culun waktu itu. Usianya dengan Lukman memang terpaut jauh tapi dia merasa nyaman dengan perhatian yang diberikan Lukman pada adiknya juga padanya. Meski saat bersamanya Lukman kerap marah-marah tapi itu tak menghilangkan rasa yang sudah terlanjur bercokol dalam hatinya.
Sama seperti Septi ia merasa Lukman adalah pahlawan yang menyelamatkannya dari kejamnya dunia. Membawanya ke jalan yang lebih baik sehingga ia dan adiknya kini bisa hidup lebih baik. Bisa menjalankan solat setiap hari. Mendapatkan kecukupan rizki dan mendapat perlindungan dan kasih sayang dari keluarga besar Lukman yang sangat dihormati oleh masyarakat sekitar.
"Bagaimana keluarga mu sekarang? Apa tidak ada yang pernah mencarimu?"
"Entahlah kak.... aku tidak pernah bertemu dengan mereka lagi sekarang. Aku juga sudah lupa bagaimana wajah kakakku" Septi merasa sangat nyaman berbicara dengan Laila. Mungkin itu sosok yang diharapkannya dari seorang ibu yang mau mendengar keluh kesahnya dengan sabar.
"Sudah sejauh apa hubungan kalian?" Laila bertanya meski hatinya pedih sebelum mendapatkan jawaban.
"Mas Lukman yang memintaku untuk tidak menggugurkan kandunganku ini. Aku sungguh tidak mengharapkan anak ini tapi mas Lukman mengatakan padaku agar aku tak berbuat dosa besar dengan membunuh nyawa yang tak berdosa. Mas Lukman sampai menjagaiku agar aku tak berbuat nekat dan bunuh diri. Dia yang meyakinkan aku sehingga aku bisa menerimanya meski aki tak mengharapkan kehadirannya. Kalau boleh aku ingin membuangnya agar...."
Laila menarik nafas panjang. Butuh hati yang kuat untuk meredam cemburu yang menyayat hatinya. Panggilan mas yang dulu hanya untuknya ternyata kini sudah bukan lagi miliknya. Ia pun mencoba mengingat ke belakang mungkin juga semua karena kebodohannya saat bicara asal saja agar suaminya mencari madu untuknya.
Bagaimanapun itu bukan salah Lukman sepenuhnya jika dia sampai mencari sosok lain untuk dijadikan istri karena toh dalam agama itu diperbolehkan.
Dan Laila yakin satu hal, ia yakin kalau suaminya itu tertarik pada wanita yang sedang duduk disampingnya bahkan sampai rela untuk menjaganya. Ia mencoba merangkai kejadian beberapa bulan ke belakang. Saat Lukman tidak pulang mungkin saat itu ia sedang bersama Septi sedang menjaga wanita itu agar tidak bertindak gegabah.
__ADS_1
Mereka diam cukup lama sampai akhirnya Laila mengambil keputusan untuk mempertemukan Lukman dengan wanita yang disukainya.
"Tapi kak.... selama mas Lukman menjagaku dia tak pernah sekalipun menyentuhku. Dia adalah suami yang setia menurutku. Hanya aku yang egois disini. Memaksanya dengan keadaanku agar ia tetap berada di sampingku. Aku tahu aku salah. Tapi aku janji kak. Aku tidak akan ...."
"Ayo...." Laila menarik tangan Septi yang menurut saja meski tidak tahu akan dibawa kemana.
Ia membuka pintu ruangan VVIP milik sang suami. Memantapkan hati untuk berbagi suami. Meski bukan perkara mudah tapi ia yakin ia bisa. Bukankah istri para nabi juga dipoligami. Bukankah membuat senang banyak orang adalah ibadah. Menyenangkan suami dan membantu Septi yang hidup sendiri tak ada sanak saudara yang perduli.
Bismillah.... bantu aku ya Alloh....
Laila menggandeng tangan Septi dan membawanya masuk ke dalam ruangan yang luas dengan fasilitas yang lengkap. Ibrahim yang memang suka memanjakan mata mendesain ruangan VVIP dengan konsep ala hotel bintang lima. Meski bagaimanapun juga indahnya konsep yang disajikan bau obat-obatan dan rutinitas rumah sakit bukanlah pilihan untuk menginap lebih lama di sana. Siapapun pasti lebih suka pulang ke rumah.
"Bang....." Laila menepuk lengan Lukman perlahan kemudian menyunggingkan senyum saat orang yang dipanggilnya membuka mata.
" Pasti banyak yang mau kalian bicarakan"
" Aku mau keluar sebentar cari makan. Kamu mau nitip sesuatu nggak?"
Septi menggelengkan kepalanya mendapatkan perlakuan Laila yang diluar ekspektasi nya. Ia tidak menyangka akan diizinkan untuk bertemu lelaki yang kini sedang sakit itu.
Septi ragu tapi ia juga ingin bicara yang terakhir kalinya pada Lukman. Ia ingin melepaskan beban perasaannya dan berjanji tidak akan hadir di kehidupan Lukman lagi.
__ADS_1
Laila pun pergi dengan hati bak diiris sembilu. Bukan cuma sakit tapi amat sangat sakit sekali. Melihat interaksi keduanya hanya akan membuatnya lebih menderita. Ia masih konsisten dengan apa yang pernah ia janjikan jika ia hanya meminta merawat Lukman dan setelah dia sembuh ia akan membiarkan suaminya itu untuk memilih. Tetap bersamanya, meninggalkan nya atau ingin menjadikan Septi istri kedua. Baginya pantang melanggar janji yang sudah ia ucapkan pada Tuhan.
Berbeda dengan Lukman yang kini sudah mulai bisa bicara meski hanya sepatah dua patah kata. Itu pun sangat sukar sekali. Perlu menghabiskan energi untuk mengeluarkan suara dan Laila membantu terapinya dengan sangat baik.
Lukman memandang istrinya yang kini berjalan meninggalkan dirinya hanya berduaan dengan Septi. Lukman merasa kesal tapi ia tak bisa mengungkapkannya. Ia merasa istrinya kini tak mencintainya seperti dulu. Laila yang dikenalnya dulu adalah wanita posesif dan pencemburu. Dulu dia tidak suka jika Lukman berdekatan dengan wanita lain. Ia akan marah-marah pada Lukman dan berterus terang menyatakan kecemburuan dalam hatinya.
"Mas.... aku minta maaf. Aku tidak bisa membantu apa-apa saat mas dalam keadaan seperti ini. Mungkin juga aku yang membawa petaka sehingga membuat keadaan mas dan keluarga mas jadi seperti ini. Terima kasih untuk semuanya. Untuk semua kebaikan yang mas lakukan padaku. Aku berjanji akan hidup dengan baik setelah ini. Aku janji tidak akan berbuat bodoh lagi. Aku sudah hidup di tempat yang baik sekarang. Tidak perlu menghawatirkan aku lagi..." Septi memandang Lukman dengan mata sayunya. Ia begitu rindu pada Lukman.
Lukman yang bisa mendengar semuanya dengan jelas merasa jengah dengan panggilan Septi padanya. Gara-gara kebodohannya sendiri kini ia tidak bisa mendengar istrinya memanggil mas lagi. Ia tidak menyalahkan Septi karena itu semua bermula dari dirinya juga. Lagipula ia bahkan pernah berpikir akan menjadikan Septi istri keduanya.
Berbagai macam rasa berkecamuk dalam dadanya. Di lain sisi ia ingin hidup bahagia dengan istri dan anak-anaknya tapi ia juga merasa kasihan pada Septi yang tak punya siapa-siapa.
Tiba-tiba Septi menelungkupkan badannya di dada Lukman. Lukman seketika membelalakkan matanya. Tak terima Septi melakukan hal itu padanya yang sekarang tak bisa berbuat apa-apa. Ia memang kasihan dan beberapa kali juga mereka melakukannya tapi keadaan nya sekarang berbeda. Lukman marah padad Septi juga pada istrinya karena sudah meninggalkannya hanya berdua saja dengan Septi.
"L-l-l-l-l-lla...." Lukman mencoba memanggil Laila.
"Tolong biarkan aku begini sebentar. Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan...." Kata Septi.
Lukman ingin sekali mendorong tubuh Septi agar tak memeluknya. Meskipun ia tak bisa merasakan apa-apa tapi ia tak rela tubuhnya dija mah orang lain lagi. Mulai sekarang cukup istrinya saja dan dia akan menolak siapapun yang datang padanya.
Brakk!!!!
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan???!!!" Muka Rina nampak merah padam melihat adegan yang terlihat olehnya.