
Ning nong Ning glung Ning nong Ning glung Ning nong Ning glung..., seperti itulah Musik yang mengiringi pertemuan pengantin dengan adat jawa. Biasanya menggunakan gamelan Jawa tapi kini atas permintaan keluarga maka diganti dengan pembacaan solawat badar dan iringan terbangan oleh grup banjari.
Hari ini Laila memakai pakaian pengantin adat jawa begitu juga dengan make up nya. Kebaya yang menonjolkan keindahan tubuh wanita membuat bodi goals Laila semakin terlihat nyata. Dengan sentuhan make up bak ratu jawa semakin bersinarlah kecantikannya.
Begitupun si pembawa kembar mayang Ani dan Karina yang memakai kebaya dan aneka printilannya terlihat sangat anggun sekali. Sebenarnya keduanya cukup tua untuk menjadi kembar mayang tapi karena para remaja di daerahnya tidak ada yang bersedia maka jadilah mereka dengan sedikit terpaksa menebalkan muka demi memenuhi keinginan kakak ipar baru mereka.
Laila digandeng oleh ayahnya Lukman, pak Dirman dan kak Mia. Mereka berjalan beberapa langkah untuk mempertemukan pengantin pria dengan belahan jiwanya. Sedangkan Ani dan Karina membawa kembar Mayang yang berjalan di depan mereka.
"Ya Nabi... sala...m alaika
ya rosu..l salam alaika
ya habib sala..m alaika
solawa..tulloh alaika.....
Kembar mayang dari mempelai pria diwakili oleh Doni dan salah seorang tetangga mereka berada di depan pengantin. Kemudian di belakangnya ada si pemeran utama yang diapit oleh bang Alif dan pak RT berjalan mendekat ke arah pengantin wanita yang sedang diam berdiri menunggu kedatangannya. Juga ada rombongan pengiring mempelai pria yakni para tetangga Laila yang mengiringi pengantin pria untuk bertemu dengan pujaan hatinya.
Ani dan Rina kemudian bertukar kembar Mayang dengan pembawa kembar Mayang dari pihak lelaki kemudian mereka berbaur dengan pengiring pengantin pria dengan posisi di belakang sang pengantin.
__ADS_1
Setelah Lukman cukup dekat dengan Laila kemudian pasangan pengantin itu bergantian melempar Gantal. Gantal dibuat dari daun sirih yang diisi dengan bunga pisang, kapur sirih, gambir dan tembakau hitam. ini melambangkan kedua mempelai saling melempar kasih sayang.
Keduanya kemudian dituntun untuk lebih mendekat. Laila kemudian mencium tangan suaminya sebagai tanda bakti seorang istri pada sang suami.
Lantunan solawat masih terus mengiringi prosesi acara yang sedang berlangsung. Laila kemudian diarahkan untuk membasuh kaki bang Lukman tiga kali. Prosesi ini disebut Wijikan atau dikenal juga sebagai ranupada. Ranu berarti air dan pada berarti kaki.
Ritual ini dilakukan oleh pengantin wanita yang menyirami kaki mempelai pria sebanyak tiga kali. Prosesi ini mencerminkan wujud bakti istri kepada suami juga harapan agar menghilangkan halangan untuk menuju rumah tangga yang bahagia.
Setelah itu pak Dirman menyelimuti Lukman dan Laila dengan kain Sindur dan dibawa menuju ke pelaminan. Biasanya itu dilakukan oleh ayah mempelai putri tapi karena Laila yatim piatu maka ayah mertuanya yang menggantikannya.
Kain sindur biasanya berwarna merah dan putih diharapkan akan memberikan keberanian bagi kedua pengantin agar menjalani pernikahan mereka dengan semangat dan bergairah dengan hati yang suci.
Pak dirman membawa mereka ke pelaminan dan setelah keduanya duduk kemudian beliau memberi minum kepada keduanya dengan gelas yang sama. Saat proses sungkeman hanya ada Pak Dirman sebagai orang tua karena kak Mia merasa itu bukan tempatnya dan lagi dia bukan mahromnya bang Lukman.
Prosesi selanjutnya adalah kacar kucur, dimana Lukman mengucurkan uang receh serta biji-bijian kepada Laila yang menadahinya dengan kain jarik. Ini sebagai lambang bahwa sang pria akan bertanggung jawab menafkahi keluarganya, serta menjadi tanggung jawab istri untuk mengelolanya.
Kameramen terus menyorot pergerakan pengantin dan mengabadikan semuanya dalam lensa untuk menjadi momen indah yang tak terlupa.
Lukman kemudian menyuapi Laila dan sebaliknya Laila juga menyuapi Lukman dari piring dan sendok yang sama. Makna dari prosesi ini adalah suami istri akan bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga dengan merasakan suka dan duka bersama.
__ADS_1
Semua hadirin melongo tak percaya karena prosesi Dulangan itu biasanya hanya dilakukan sekali untuk diambil gambarnya tapi Lukman tanpa rasa malu malah menghabiskan makanan yang ada di piring sehingga membuat pembawa acara tidak segera memulai acaranya karena pengantin pria terlihat kelaparan.
"Mas.... ....." Laila nampak menoel-noel baju suaminya. Ani dan Rina yang baru saja menangis kini jadi malu sendiri.
"Du...h si Abang.... kayak belum makan seminggu. nanti kan bisa.... " gerutu Rina
Akhirnya acara pun dimulai setelah Lukman selesai makan diatas pelaminan. Pembukaan, pembacaan ayat suci Alquran, sambutan dari mempelai laki-laki yang diwakili oleh pak RT nya Laila dan sambutan dari mempelai putri yang diwakili oleh bang Alif.
Momen yang selalu dinanti semua orang adalah mendengarkan kata demi kata dari bang Alif. Bang Alif Seolah mempunyai magnet yang bisa menarik perhatian semua orang padanya. Bagaimana cara berdirinya, cara berjalannya, caranya berbicara, bagaimana dia tersenyum dan tertawa. Semuanya terasa menarik dan tak bisa mengalihkan perhatian dari sosok tampan nan berkharisma itu.
Setelah salam dan pembuka kemudian bang Alif memberikan sepatah dua kata untuk sang pengantin yang menjadi ratu dan raja sehari juga untuk mengingatkan dirinya sendiri juga untuk semua yang hadir. Bagi pengantin lama atau para bujang dan perawan juga.
"Pernikahan bukanlah siapa yang paling ditakuti dia yang menang atau yang lebih berkuasa.
Pernikahan adalah ajang untuk berlomba menjadi yang lebih baik di mata Allah. Sebagai seorang istri harus taat pada suami selagi itu bukan untuk maksiat, berusaha menjadi istri yang baik dan menyenangkan suami. Berdandan secantik mungkin saat suami dirumah, bukan berdandan saat akan keluar rumah. Menyambut suami dengan gembira saat ia pulang kerja dan hal itu akan menghilangkan segala lelah yang mendera tubuhnya. Istri juga akan menjadi obat penawar bagi suami karena berbagai cobaan dan pandangan yang haram untuk nya.
Sebagai suami juga tidak boleh sewenang-wenang. Tidak boleh Mentang-mentang sebagai kepala rumah tangga kemudian bertindak sesukanya. Sayyidina Umar bin Khattab adalah seorang pribadi yang keras dan tegas. Semua orang takut padanya, tetapi meskipun begitu saat beliau berhadapan dengan istrinya beliau akan menjadi pribadi yang mengalah. Saat istrinya marah dan meluapkan emosi dengan suara yang keras beliau dengan sabar mendengarkannya, sama sekali tak membalas perkataan istrinya yang sedang dipenuhi oleh emosi tinggi.
Saya sedang mengingatkan diri saya sendiri yang sering lupa akan kewajiban saya dan semoga apa yang saya sampaikan bisa bermanfaat untuk semua yang hadir disini.
__ADS_1
Kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya
wa billahi taufik wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"