Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Hati-hati


__ADS_3

"Mas.... ini uang apa?" Laila masih duduk bertumpu pada satu kakinya saat Lukman masuk ke kamar. Ia buru-buru mensejajarkan kakinya karena daerah sensitifnya terasa nyeri.


"Hem...??. oh itu....!!"Lukman yang baru pulang dari musolla kemudian duduk di bibir kasur dan Laila mengikutinya, duduk disebelahnya sambil membawa kresek yang ditemukannya tadi.


" Aku membayar hutang Doni dua puluh lima juta dan si ketua preman itu mengembalikan yang lima juta padaku.."


"Kok bisa.. kenapa?" Laila mengernyitkan keningnya merasa heran.


"Aku mengembalikan rokoknya yang tertinggal disini waktu itu, sama minta maaf karena aku menghisap rokoknya tanpa minta izin dulu sama dia. Hatiku kalut waktu itu jadi ada rokok langsung saja kusikat..." Lukman melepaskan bajunya dan menggantungnya di hanger kemudian meletakkannya di belakang pintu.


"Ngapain minta maaf.... dia kan udah jahat sama kita" Laila berbicara dengan memanyunkan bibirnya. Kalau ada karet mungkin bibirnya itu bisa dikuncir atau dikepang barangkali.


Ia masih merinding ketika mengingat si ketua itu mengendus-endus telinga dan lehernya. Saat ia ingat biasanya dia akan membasuh telinga dan lehernya dengan air atau tisu basah.


"Sini.... "Lukman meminta Laila agar lebih mendekat padanya. Ia kemudian meraih tangan kanan Laila dan diusap-usapnya jemari istrinya yang lentik dan halus itu.


"Dulu ada seorang pemuda bernama Idris yang sedang berjalan dipinggir sungai. Ia kemudian melihat buah delima yang hanyut di sungai. Tanpa pikir panjang Ia pun langsung memakannya. Setelah memakannya sebagian ia baru sadar jika buah delima itu bukan miliknya dan ia memakannya tanpa minta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya.


Kemudian ia menyusuri sungai dengan arah yang berlawanan dengan arusnya. Ia berjalan sampai menemukan pohon delima yang menjulang ke sungai dan lebat buahnya. Ia yakin jika buah delima yang dimakan olehnya tadi berasal dari pohon itu. Ia kemudian mencari informasi tentang pemilik buah delima itu dan mendatanginya, memohon agar delima yang sudah terlanjur dia makan untuk dimaafkan dan diikhlaskan.


Pemilik pohon delima itu terdiam sebentar lalu menatap tajam pada pemuda di depannya. "Tidak semudah itu wahai anak muda, kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama satu bulan tanpa digaji. "


Demi memelihara agar apa yang sudah masuk ke dalam perutnya menjadi halal ia pun menyanggupinya.

__ADS_1


Setelah sebulan berlalu Idris kemudian menghadap kepada pemilik buah delima “Tuan, saya sudah menjaga dan membersihkan kebun anda selama sebulan. Apakah tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?” Tanya pemuda jujur itu pada sang pemilik kebun.


Rupanya pemilik kebun itu tidak rela melepas pemuda istimewa yang jujur itu begitu saja.


“Tidak bisa, ada satu syarat lagi jika kamu ingin saya mengikhlaskannya anak muda. Kamu harus menikahi putri saya yang buta, tuli, bisu dan lumpuh"


Idris terdiam. Kemudian ia meyakinkan dirinya dan mau menerima persyaratan tersebut agar perutnya terhindar dari perkara yang haram. Idris pun akhirnya dinikahkan dengan putri pemilik kebun.


Setelah akad nikah berlangsung, tuan pemilik kebun memerintahkan Idris menemui putrinya yang kini sudah sah menjadi istrinya di kamar pengantin.


Saat tiba dikamar, bukan gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh yang ditemuinya melainkan seorang gadis cantik yang nyaris sempurna.


Idris pun segera keluar dari kamar karena mendapati gadis yang dikamar itu tidak seperti yang digambarkan oleh mertuanya. Ia mengadukan hal itu pada sang mertua.


"Wahai Idris," kata sang mertua "putriku itu tuli karena tidak pernah mendengarkan maksiat. Dia juga buta karena tidak pernah melihat hal-hal yang diharamkan untuknya. Putriku itu juga bisu dan lumpuh karena tidak pernah mengatakan sesuatu yang dilarang oleh agama dan ia tidak pernah melangkahkan kakinya nya untuk bermaksiat kepada Tuhannya."


Lukman melihat istrinya yang sedari tadi memainkan jemarinya dan sesekali menciumi tangannya.


"Mulai sekarang berhati-hati lah soal makanan yang masuk ke dalam perut kita. Pastikan semuanya halal agar kita juga dikaruniai anak-anak yang Soleh solehah tidak seperti ayah ibunya." Lukman membungkukkan badan kemudian mencium perut istrinya.


hiks....


Lukman mengangkat kepalanya karena mendengar istrinya tiba-tiba terisak , "kenapa menangis?" Tanyanya dengan lembut.

__ADS_1


"Hua.... aku juga ingin anak yang Soleh tapi aku kayak begini.... Hua...." Laila benar-benar mengeluarkan air mata meski kelihatannya seperti pura-pura saja.


Lukman memeluk istrinya, "Aku juga seperti ini, tapi aku tidak akan putus asa dari rahmat-Nya, aku akan terus berharap dan berdoa"


"Hua .... aku akan berdoa semoga anak-anak kita seperti bang Alif yang sabar dan baik hati" kata Laila sambil terisak dan memeluk Lukman dengan erat.


"Kok bang Alif...?" Lukman menarik tubuhnya dan menatap Laila.


"Iya pokoknya kayak bang Alif yang sabar, pintar, baik hati, alim, tampan. Hua.... pokoknya aku maunya kayak bang Alif.. titik." Laila berbicara diantara Isak dan tangisnya.


"Nggak bisa....enak saja!!!!" sergah Lukman dengan suaranya yang keras.


Brak.....!!!!!


Pintu dibuka dengan keras dan tampaklah wajah Doni dengan matanya yang memerah karena marah. Ia mendengar suara kakaknya menangis dan berburuk sangka pada kakak iparnya.


Pemuda itu menatap Lukman dengan tajam tapi hanya sebentar saja, segan. Ia yakin jika kakak iparnya itu yang membuat Laila menangis karena dikamar itu hanya ada mereka berdua saja. Tapi begitu melihat mata Lukman keberaniannya tadi lenyap seketika.


"Kenapa abang membuat kakakku menangis bang? bukannya kemarin malam abang bilang akan membahagiakannya?! " Doni marah pada Lukman tapi tak berani menatap matanya.


"Eh...." laila segera mengusap air matanya kemudian menoleh pada Lukman yang wajahnya datar saja. Mas Lukman nggak ngapa-ngapain aku. Aku nangis karena bahagia Don...." Ia kemudian memeluk lengan suaminya yang berotot untuk menunjukkan pada adiknya kalau dia tidak kenapa-kenapa.


" Ikut aku," Lukman melepaskan lengannya dari tangan Laila kemudian berjalan keluar menuju ruang tamu. Kedua kakak beradik itu kemudian mengikutinya sambil bertanya-tanya.

__ADS_1


Sesampainya di ruang tamu Lukman duduk di ujung seperti seorang kepala keluarga dengan kedua tangan bersedekap, sedangkan Laila dan Doni duduk di sebelah kanan dan kirinya.


Wajah kedua kakak beradik itu terlihat sedikit tegang karena seperti akan menghadapi persidangan dengan hakim yang terlihat garang. Laila dan Doni berpandangan sambil mengerutkan kening mereka. Saling bertanya dengan isyarat mata dan sama-sama tak tahu jawabannya apa.


__ADS_2