Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Remember


__ADS_3

Rina ingat saat abangnya dulu setiap hari memakai topi meski di dalam rumah. Waktu ditanya dia cuma jawab, lagi suka aja pakai topi. Memang saat itu Lukman menutupi kepalanya yang diperban dengan topi dan saat solat ia memakai kopiah yang ukurannya lebih besar dari biasanya sehingga seluruh keluarga tidak ada yang menyadari.


Baru sekarang Rina mengetahui rahasia besar Lukman, ternyata saat itu abangnya sedang menutupi luka di kepalanya juga masalah yang terjadi dengan istrinya.


Ia masih kesal dengan abangnya itu tapi sekarang ia bisa memahami pemikiran kakak iparnya. Berumah tangga artinya harus hidup bersama dalam waktu yang lama dengan orang yang sama dan pasti akan ada cobaan dan kerikil-kerikil tajam sebagai ujian untuk mengetahui apakah kita bisa konsisten untuk mempertahankan ikatan suci yang bernama pernikahan atau kita harus menyerah di tengah jalan.


Meski ia masih malas bicara dengan abangnya tapi ada yang harus dia katakan agar abangnya terbebas dari rasa bersalah dan penasaran.


Ia membuka pintu ruangan pelan-pelan dimana Lukman berada dan tinggal disana sudah hampir tiga mingguan.


"Peeeeeluuuukkkk....!" Terdengar suara Lukman yang sekarang berubah jadi manja. Rina sampai gedek mendengarnya. Tapi nyatanya Laila mendekatkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di dada Lukman. Menikmati momen kebersamaan yang jauh dari kata sempurna karena raga sang suami masih belum berfungsi.


Lagi-lagi Rina tak kuasa dan menangis melihat adegan mesra suami istri itu.


"Ya Alloh jagalah mereka agar senantiasa bersama. Bukan hanya bersama ya Alloh tapi juga bahagia."


Karina merafalkan banyak doa semoga keluarga abangnya itu bisa melewati semua ujian bersama-sama dengan baik dan bijaksana. Semoga mereka semua bisa berkumpul lagi kelak di surga

__ADS_1


"Aaaaaiii lovvvv yyyyuuuu..!" Ucap Lukman terbata-bata.


"I love you too, soooo much...." Ucap Laila masih dengan posisi membungkukkan badan di atas tubuh kekar suaminya.


"Mmmmmma-affff......" Katanya lagi.


Laila mendengar degub jantung suaminya yang berirama dan memanjakan pendengaran. Tak menjawab permintaan maaf suaminya karena memang belum siap.


"Ehm....." Rina berdehem mengagetkan keduanya setelah sesaat mengusap air matanya.


Laila berusaha untuk berdiri tegak tapi Lukman ternyata sudah bisa menautkan kedua lengannya di pinggang ramping Laila. Tak mengizinkan raga molek istrinya berpisah dari dirinya.


"Kak.... kakak solat dulu gih... !" Kata Karina.


"Adek mau solat dulu ya bang..." Kata Laila sambil melihat wajah maskulin suaminya. Ingin memanas-manasi adik iparnya biar semakin sebal.


"Huwwek...." Rina pura-pura seperti mau muntah.

__ADS_1


Lukman malah memocongkan bibirnya minta dicium sang istri di depan adiknya sendiri. Laila terkekeh melihat suaminya yang teramat manja. Menyambut baik bibir tebal berwarna gelap dengan mengecupnya sekilas.


"Ya Salam.... benar-benar ya kalian ini...." Karina mendengus teramat sebal dengan tingkah kedua sejoli ini.


Laila mengulum senyum merasa bahagia karena sudah berhasil membuat adik iparnya itu mencak-mencak. Suatu kebahagiaan tersendiri bisa menggoda si bungsu di keluarga besar suaminya apalagi kalau bisa membuatnya marah.


"Gadis itu aku taruh di panti jadi tidak usah merisaukannya" Rina memelankan volume suaranya saat Laila pergi ke kamar mandi untuk berwudlu.


"Memangnya apa yang abang lihat dari gadis itu?. Semua orang juga tahu dia tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kak Lala. Jauuh. Seperti langit dan bumi"


"Abang tahu kan kenapa dia jadi lebih menarik? Karena setan memolesnya agar terlihat baik di mata abang"


"Lihat bang Alif yang pamor nya jauh lebih tinggi dari abang tapi selalu bisa menjaga pandangan! Bang Alif itu populer di antara ibu-ibu pengajian. Tapi bang Alif selalu menolak jika ada wanita yang mau curhat atau konsultasi secara langsung. Bang Alif pasti mengarahkannya ke kak Mia karena itu bisa jadi jalan setan untuk memanipulasi keadaan."


"Lain kali kalau ada wanita yang terlihat kasihan langsung telpon aku. Aku yang mengurusnya. Abang tidak perlu ikut campur. Tugas abang membahagiakan kak Lala dan anak-anak. Menjadikan dia satu-satunya dan yang paling istimewa."


"Aku aja ogah mengurus kotoran abang tapi kak Lala mau saja melakukannya. Ikhlas pula. Ingat itu bang!!!"

__ADS_1


Suara pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam membuat Rina menghentikan ocehannya.


__ADS_2