
"Ayah... adek mau shekolah dulu!" Labib menyalami ayahnya yang duduk di kursi roda. Menaruh tubuhnya sebentar di atas pangkuan orang tua yang disayanginya.
Berbeda dengan si sulung yang pembawaannya pendiam dan introvert. Ia hanya mencium punggung tangan ayahnya tanpa mengeluarkan kata-kata.
Sudah enam bulan berlalu dan kesehatan Lukman sudah membaik dari hari ke hari. Dia masih terus menjalankan terapi untuk kakinya yang belum sepenuhnya sembuh. Masih belum bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik. Mulutnya sudah bisa berbicara dengan fasih hanya sesekali saja masih terbelit lidah. Sedang tangan nya sudah bisa digerakkan seperti sedia kala.
Sebagai seorang istri Laila menjalankan perannya dengan sempurna. Merawat suami dan memenuhi semua kebutuhannya. Baik lahir maupun batin.
Meski kesehatannya belum pulih benar tapi masalah ranjang Lukman sudah memintanya sejak tangannya sudah bisa digerakkan. Memang bukan lagi dirinya yang dominan tapi mereka saling bekerja sama untuk saling memenuhi kebutuhan rohani masing-masing. Saling mencurahkan kasih sayang melalui nama cinta yang direstui oleh Sang Pencipta dan di dukung semesta.
Meski kerapkali seusai mereguk nikmatnya surga bersama dengan tubuh berpeluh menyisakan rasa lelah luar biasa Laila tetap senang melakukannya karena ia juga membutuhkan hal itu. Menjelang subuh dia akan memandikan suaminya yang masih lumpuh kedua kakinya tapi anehnya kaki tengahnya bisa bergerak aktif seolah tak ikut mengalami cedera seperti yang dialami kedua kakinya.
__ADS_1
Laila menjual semua tanah pertanian milik Lukman sesuai dengan perintah suaminya itu. Sebagai seorang kepala keluarga egonya masihlah tinggi. Ia tetap menafkahi istri dan anak-anaknya meski ia sudah tak bekerja lagi. Hasil penjualan tanahnya juga dipergunakan untuk biaya pengobatan juga untuk sedekah berharap bisa segera sembuh seperti sedia kala.
Tanah pertanian itu kini menjadi tanah bersama milik keluarga karena Ani, Rina dan Doni juga bang Alif yang membelinya. Bukan dengan nama orang perorang tapi Doni menjadikan tanah pertanian itu menjadi kepemilikan bersama dengan sistem jual beli saham atas nama perusahan yang baru didirikan dan diberi nama PT Golden Prime Kini masing-masing keluarga mempunyai saham dengan bagian yang sama. Masing-masing 25 persen kepemilikan saham.
Sedang pengelolaan sepenuhnya dijalankan oleh Doni. Ia mulai semuanya dari awal. Para pekerja yang masih mau bekerja dengan sistem yang baru akan diseleksi oleh Doni. Ia pun membangun gedung-gedung baru. Doni membangun rumah untuk tempatnya singgah. Dan membangun satu gedung bertingkat yang super luas. Lantai bawah digunakan sebagai gudang sedangkan lantai dua Untuk kantor dan sebagian lagi untuk tempat pakacging.
Lukman menggerakkan kursi rodanya setelah anak-anaknya pergi ke sekolah dengan bang Alif. Ia menuju ke kamar untuk mencari istrinya yang tak ikut mengantar anak-anak mereka saat akan berangkat dan Itu bukan kebiasaan Laila.
"Yaank...." Ia menyentuh kan telapak tangannya di atas kening si cantik yang memejamkan mata seperti menahan sakit. Raut muka Lukman seketika menjadi panik.
Mendapat sentuhan hangat di keningnya Laila membuka mata dengan bibir yang merekah. Tampak binar kebahagiaan di matanya.
__ADS_1
"Abang saya...ng....!!. Sepertinya aku hamil lagi..."
Deg
Berbanding terbalik dengan reaksi istrinya, Lukman justru terlihat tidak suka. Sama sekali tidak pernah mengira ternyata dia begitu perkasa bahkan di saat kakinya belum bisa bergerak sempurna.
"Abang tidak suka dengan kehadirannya?" Laila mendadak berubah ketus mendapati reaksi sang suami yang tidak seperti harapannya.
"Bu-bukan begitu sayang... Lihatlah keadaanku ini...! Aku belum bisa berjalan..... bagaimana aku akan membantumu nanti. Bagaimana aku akan mengantarmu periksa?"
"Dulu abang juga sehat tapi tidak mau mengantarku ke rumah sakit...." Laila membalikkan badan memunggungi suaminya yang langsung menelan ludah. Diingatkan akan kesalahan besar yang pernah ia lakukan membuatnya merasa bersalah.
__ADS_1