
Lukman sedang berada di depan meja yang penuh makanan dan ada seorang gadis yang sedang sibuk menyiapkan ini dan itu untuknya. Gadis itu adalah sekretaris Lukman yang membantunya dalam berbagai administrasi pertanian dan perkebunan miliknya.
Pikiran Lukman sedang tidak berada di situ meskipun raganya ada sedang duduk tenang di tempat itu. Bayangan istrinya yang sedang meeting dengan partner bisnisnya terlintas di dalam kepalanya. Beberapa hari ini dia terus memikirkan hal itu. Hatinya hancur, ia merasa sudah tidak dibutuhkan istrinya dan hanya dianggap sebagai pelengkap saja.
Awal-awal saat Laila ingin belajar menjahit Lukman mengizinkannya karena melihat sang istri yang terlihat bosan di rumah saja dan juga karena melihat sepertinya istrinya memang punya bakat mendesain pakaian dari hasil coretan-coretan yang dia lihat di buku milik Laila.
Setelah beberapa waktu berlalu kemudian ada tetangga yang menjahitkan baju padanya dan menyukai hasilnya. Sejak saat itu tersebarlah kepandaiannya itu dari mulut ke mulut.
Dari situ kemudian Laila mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya sendiri dan Lukman bangga sekali. Dalam waktu bersamaan istrinya bisa menjalani dua profesi sekaligus. Sebagai ibu rumah tangga juga sebagai seorang penjahit
Lukman pun mensuport istrinya dengan membuatkannya instagram dan menamai usaha istrinya dengan nama 2L singkatan dari nama mereka berdua. Ia juga membelikannya ponsel khusus untuk masalah pekerjaan agar tidak tercampur dengan urusan pribadi.
Lambat laun usaha Laila semakin banyak permintaan. Ia kemudian punya ide untuk mengajak para ibu dan remaja di sekitar tempat tinggal mereka untuk di ajari menjahit dan Lukman menyetujuinya. Ia pun semakin bangga pada istrinya yang bukan hanya cantik luarnya tapi juga hatinya.
Lukman dengan senang hati membantu usaha istrinya dengan segenap tenaga yang ia bisa. Ia bahkan mendaftarkan nama 2L sebagai nama brand pakaian yang dihasilkan oleh istrinya setelah usaha istrinya semakin berkembang .
Kini Laila bahkan sudah bekerjasama dengan sekolahan, majelis taklim, lembaga-lembaga organisasi maupun institusi pemerintahan.
Seiring dengan berkembangnya usaha sang istri, usaha Lukman sendiri mengalami kemajuan yang pesat. Bukan hanya dalam bidang pertanian tapi juga merambah perkebunan. Dan kini ia juga semakin dikenal sebagai petani organik terbaik di kotanya.
Tapi semakin kesini Lukman merasa istrinya kini sudah tidak seperti dulu lagi. Laila sekarang menjadi wanita mandiri yang tidak pernah merayunya untuk meminta ini dan itu karena ia sudah punya uang yang lebih dari cukup dari hasil usahanya sendiri. Lukman rindu saat Laila merengek dan merayunya untuk meminta sesuatu.
__ADS_1
Terkadang ia punya pikiran ingin meminta istrinya untuk meninggalkan usaha yang sudah digelutinya tapi tentu saja tak dilakukannya karena usaha sang istri kini bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk menghidupi para pekerjanya.
Puncaknya satu minggu kemarin saat dia sedang bertemu dengan kawan lamanya yang kini menjadi penulis dan sedang mengisi seminar di kotanya di salah satu hotel yang berada di area tengah kota.
Lukman melihat istrinya sedang berbincang dengan seorang lelaki di restoran hotel itu tak jauh dari tempatnya duduk bersama kawan-kawan nya yang lain. Ia dan kawan-kawan nya mengadakan reuni tipis-tipis di sela aktifitas padat mereka.
Lukman merasa cemburu tapi ia hanya melihatnya dari jauh. Tak mungkin dia mendatangi istrinya yang sedang berbincang berdua dengan koleganya dan menimbulkan kecurigaan pada teman-temannya.
Lagipula Laila sudah berpamitan padanya sebelum pergi kalau dia mau keluar dengan kak Mia dan anak-anak untuk bertemu partner bisnisnya. Saat Lukman menelpon Laila, istrinya itu menjelaskan dengan detail dia sedang berada di mana, dengan siapa dan posisi kak Mia dan anak-anaknya sedang berada di mana. Laila menjelaskannya dengan jujur dan tak ada yang ditutupinya.
Lukman semakin galau dengan pikirannya sendiri. Ia cemburu dengan beberapa lelaki yang bisa bertemu dengan istrinya dengan alasan pekerjaan dan ingin menjalin hubungan kerjasama. Ia merasa semakin terpojok dan merasa tidak lagi punya harga diri. Ia merasa tidak dibutuhkan lagi sebagai sosok suami yang biasanya menjadi tempat seorang istri bermanja, meminta dibelikan ini dan itu, minta diantar kesini dan kesitu.
Lukman sekarang menyesal kenapa dulu dia mengajari istrinya mengemudikan mobil sehingga kini istrinya tak pernah lagi minta diantar kalau mau pergi ke mana-mana.
Berhari-hari dia galau dengan dirinya sendiri dan menimbang-nimbang berbagai kemungkinan. Ingin membicarakan secara gamblang dengan istrinya tentang kemarut yang sudah lama dipendam dalam hatinya.
"Bagaimana aku harus bilang sama kamu?" Tanya Lukman pada dirinya sendiri tapi gadis yang sedang menata makanan itu salah tangkap dan mengira jika Lukman sedang menginginkan sesuatu darinya tapi tidak tahu bagaimana caranya meminta.
Dania yang memang sudah menyukai Lukman sejak pertama kali melihatnya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia berpikiran jika Lukman juga seorang lelaki yang katanya makhluk visual dan tidak bisa tahan godaan.
"Mas mauh makan yang manah? Yang inih atau yang inih?" Katanya dengan lembut dengan suara mendayu-dayu sambil menyentuh dadanya bergantian yang kanan dan yang kiri.
__ADS_1
Lukman yang sedari tadi tidak fokus dan berselancar dalam alam pikirannya sendiri tak melihat atau mendengar apa yang barusan dikatakan oleh sekretarisnya.
Sebaliknya Daniah malah merasa bahwa Lukman ingin ia yang memulainya, mungkin untuk menjaga gengsi, itu yang ada dalam pikirannya.
Daniah kemudian duduk di pangkuan Lukman yang belum menyadari perbuatan pegawainya. Lukman tak melakukan pergerakan apa-apa karena pikirannya benar-benar blank.
BRAKKKK!!!
Sontak Lukman yang sedang berhalu ria menoleh ke arah suara dan mendapati istri dan putranya ada di ambang pintu. Lukman terkejut tapi ia hanya menatap istrinya dan begitupun sebaliknya. Mereka berdua tak mengeluarkan sepatah kata hanya saling berpandangan. Lukman tercekat mulutnya masih merasa ini sudah di dunia nyata atau masih dalam ilusinya.
"Bunda..." Suara Labib menyadarkan Lukman jika dirinya memang sudah di dunia nyata.
Lukman heran kenapa Laila kemudian menutup mata si kecil dan sekejap kemudian istrinya malah berlari meninggalkan dirinya.
Lukman langsung berdiri hendak mengejar sang istri dan dia baru sadar ada Dania duduk di atas pahanya.
"Astaghfirullahaladzim...." Ia mendorong Dania hingga gadis itu jatuh berdebum di lantai tapi Lukman tak menghiraukannya.
"Awh..... sakit mass...." Daniah menggosok pantatnya yang barusan menempel di lantai yang tidak beralaskan karpet.
"Sshhhhh...." Lukman yang hendak berdiri merasa kesakitan dan terduduk kembali. Kakinya tiba-tiba terasa nyeri ,mungkin asam uratnya kambuh lagi karena beberapa hari terakhir dia makan asal-asalan saja, tidak memperhatikan gizinya sama sekali.
__ADS_1
"Ya Alloh...." Ia mengacak rambutnya sendiri karena takut sang istri salah paham karena kejadian yang dilihatnya tapi ia tak bisa mengejarnya karena kakinya tak bisa ia ajak kompromi dan bekerja sama. "Sssshhh" Ia mendesis lagi karena kakinya seakan ditusuk kemudian semua tulang-tulangnya seperti ditarik dari tempatnya.