Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Mukjizat


__ADS_3

Lukman duduk di ujung seperti seorang kepala keluarga sambil bersedekap, sedangkan Laila dan Doni duduk di sebelah kanan dan kirinya.


Dag dig dug dag dig dug


Hati kedua kakak beradik itu kebat-kebit menunggu anggota keluarga mereka yang baru untuk berbicara atau mungkin juga marah.


"Seorang anak yang belum baligh itu diharuskan meminta izin untuk masuk kamar orang tuanya di tiga waktu, begitupun dengan para pelayan . Yaitu sebelum fajar, setelah isyak dan saat siang hari ketika biasanya orang-orang menanggalkan pakaian mereka. Tidak ada dosa selain di ketiga waktu itu. Tetapi jika sudah baligh maka ia harus meminta izin setiap waktu untuk masuk ke kamar orang lain. "


Lukman berhenti sejenak, disaat seperti ini ingin rasanya ia merokok untuk menghilangkan rasa penat.


"Kamu sudah baligh, tidak boleh asal masuk ke kamar kakakmu apalagi sekarang dia sudah bersuami. Bagaimana kalau kami sedang tidak memakai baju? Aurot antar saudara itu antara pusar dan lutut......" Lukman mencoba menjelaskan pada keluarga barunya.


Huh.... ternyata ngasih tahu orang itu capek dan ribet ya. Bukan passion ku ini. Bang Alif kok bisa.... sabar ngadepin banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. Jadi pengen pulang kan..? kangen kumpul sama mereka. Ia menarik nafasnya panjang-panjang mengingat saat ia pulang ke rumahnya semua orang sudah tidak ada di rumah, mereka semua sedang bekerja.


"Maaf bang.... tadi aku takut kakakku nangis karena kamu apa-apain bang...!"


"Ish.... apaan sih Don.... aku cuman pingin manja-manja aja sama mas ku. Kamu kenapa sih..?" Laila memandangi adiknya dengan raut muka tak suka


Lukman kemudian berdiri karena ingin memasak untuk sarapan mereka bertiga. Terlebih dia sudah janji pada istrinya kalau dia yang akan memasak untuk sarapan mereka.


"Maafin aku ya bang...!"Doni merangkul lengan Lukman. "Terima kasih sudah mau menjadi abangku..."


Ctak....


"Hehe.....aku tahu itu tanda sayang Abang untukku...."Doni malah tersenyum mendapatkan sentilan dikeningnya. Ia yakin Lukman melakukan itu bukan karena jengkel atau marah padanya hanya reaksinya saat gemas berbeda dengan orang kebanyakan.


"Hush hush.... hushh!!! Sana sana..!!. ini suamiku ya..... nggak boleh dipeluk-peluk orang lain... termasuk kamu..!" Laila ikut memeluk tubuh Lukman dari depan dan mencoba menyingkirkan tangan adiknya dari lengan suaminya.


Lukman mengelus rambut Laila kemudian menciumnya. Sedangkan tangan yang satunya ia biarkan saja dipeluk oleh Doni.


"Memangnya kalau pelukan begini kita bisa kenyang...?" tanya Lukman karena istri dan adik iparnya itu tak mau melepaskan tubuhnya.


"hehe...." Kakak beradik itu tertawa tapi masih dalam posisi yang sama.


"Suh....Suh...suhhh!!!.. sana! aku ada perlu sama masku...."Laila mengusir adiknya agar menjauh dari suaminya.

__ADS_1


Doni lagi-lagi merasa sebal karena merasa seperti seorang pengganggu sekarang. Kehadirannya tak diharapkan. sebaaaalllll.....


Laila meraih kepala Lukman agar mendekat kepadanya sehingga ia bisa menciumnya.


"Mas pingin aku pakai jilbab nggak..?"tangannya masih meraup kepala suaminya dan kini mata mereka saling bertatapan....


"Aku belum siap sekarang.... nanti kalau aku sudah hamil aku janji akan memakai jilbab. Ya mas....??." Entah itu pertanyaan atau pernyataan.


"Kamu ingin hamil...? Kita usaha lagi yuk...! suruh Doni beli apa... gitu..." ia menggerakkan alisnya naik turun dengan bibir yang menyeringai.


"Ihhh... dasar......! " Laila mencubit pinggang lukman. "Abis ini Doni sudah berangkat sekolah...." Ia mengecup bibir suaminya kemudian berlari menuju ke dapur.


"Aduh..,.." Laila menjepit kakinya karena bagian diantara kedua pahanya terasa nyeri saat ia berlari.


"Kenapa kak?" Doni yang berada di depan kamarnya melihat kakaknya mengaduh kesakitan.


"Nggak papa..." Katanya sambil meringis.


"Kakak kenapa sih dari kemarin aneh benget?" Doni jadi merasa kesal dengan tingkah absurd kakaknya.


"Jangan lari sayang....!! Masih sakit ya?" Lukman memeluk istrinya dari belakang kemudian tangannya bergerak nakal dan membuat Laila langsung menjerit kegelian.


"Mash...."


"Apa?"


"Ada Doni...."


"Ini makanya aku nengok ke belakang agar tahu dia ada di mana..."


"Harusnya kamu cuti yank...." Kata Lukman menahan hasrat kelelakiannya. Yah maklumlah pengantin baru.


.


.

__ADS_1


.


"Yank.... Alhamdulillah...." Lukman memeluk Laila yang kini sedang berada di stand tokonya bersama Doni dan satu karyawan lainnya. Ia mencium puncak kepala Laila.


"Tebuku akhirnya masuk penggilingan dan insya Alloh lusa sudah dibayar . Alhamdulillah bisa buat nikahan..." Laila tertegun merasakan degub jantung suaminya yang kini menempel ditubuhnya. Ia ikut merasa bahagia meski ia belum mengerti sepenuhnya apa yang dikatakan oleh sang suami.


Lukman menarik tangan Laila dan dibawanya ke stand es juice milik Toni, langganannya dan Doni mengikuti mereka.


"Panen tebuku sudah tiga bulan yang lalu tapi harus antri untuk masuk ke penggilingan. Semakin lama antrinya maka tebu akan semakin kering dan kadar gulanya juga otomatis menyusut. Aku bahkan sudah lupa kalau masih punya tebu. Alhamdulillah .... Alloh memberikannya disaat yang tepat. Jadi aku tidak perlu berhutang untuk pernikahan kita nanti. Kamu ingin mahar apa yank...?"


Laila hanya menggelengkan kepalanya dan Doni yang justru menyelanya, " Dapat mukjizat ya bang?"


"hade...h.... kamu itu. Mukjizat itu adalah suatu kelebihan dan keutamaan yang hanya diberikan oleh Allah kepada para nabinya saja. Kalaulau kemuliaan dan keutamaan yang diberikan kepada orang-orang yang sholeh orang-orang yang dekat sama Allah itu namanya karomah. Sedangkan kalau orang yang suka bermaksiat kepada Allah tetapi dia mendapat keutamaan atau kelebihan itu namanya istidraj. Misalnya ada orang yang selalu bermaksiat kepada Allah tapi dia itu hidupnya kaya, mapan, enak.... kalau yang seperti itu namanya istidraj karena kekayaannya itu bukannya menjadikan ia taat pada Alloh tetapi malah menjauhkannya dari beribadah kepada Alloh. Jangan ikut-ikutan bilang mukjizat seperti orang-orang itu..."


Laila dan Doni mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka baru paham ternyata salah kata itu sangat berbeda maknanya.


Doni merasa bahagia sekali karena sekarang dia bisa belajar dan tahu banyak hal dari kakak iparnya. Lelaki remaja itu kini tertarik untuk mempelajari ilmu agama lebih dalam lagi karena semakin banyak pengetahuan yang ia dapat maka dia semakin tahu kalau masih banyak hal yang harus dipelajari lagi.


Dalam hati kecilnya dia berharap suatu saat kalau diperbolehkan oleh kakak dan abang iparnya ia ingin belajar dan menetap di pondok untuk belajar agama lebih dalam lagi. Bergaul dengan para santri dan juga dengan para ustadz.


"Ini bang..... jus alpukat dan jus jambunya." Kata Toni sambil meletakkan minuman pesanan Lukman di depan pria itu.


"Punyaku mana bang?" Doni bertanya pada abang iparnya.


"Pesan lah! Dari tadi ngelamun bae" Jawab Lukman dengan ketus.


"Pacarnya ya bang?" Tanya Toni pada Lukman yang wajahnya makin hari makin memancarkam aura kebahagiaan.


"Ini istriku Ton...." Kata Lukman memperkenalkan Laila.


"Mbak nya ini kerja disini kan?" Tanya Toni lagi.


"Iya istriku ini kerja di sini..." Lukman begitu posesif sampai tidak mengizinkan istrinya menjawab pertanyaan dari pria lain.


"Posesif...!" Gerutu Toni sambil memunggungi pelanggan nya dan meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Bang aku pesan jus sirsak ya!" Kata Doni yang dijawab oleh Toni dengan jari telunjuk dan ibu jarinya yang membentuk huruf O.


__ADS_2