
"Mobil siapa itu?" Tanya Lukman saat ia tiba di rumah dan selalu melihat mobil Alphard di depan rumah bang Alif. Ia merasa heran karena mobil mewah itu sepertinya menjadi penghuni baru di tempat yang sama selama berhari-hari di situ.
"Kenapa mas, bagus kan?" Tanya Laila sambil menggamit lengan Lukman yang baru datang.
"Ngapain abang beli mobil lagi, tumben?"
Laila tak menjawab lagi karena ia tidak mau berbohong tapi dia juga belum ingin berterus terang. Setiap hari Lukman pulang ke rumah dan perangai Lukman juga seperti biasanya tapi Laila merasa ada sesuatu yang coba di sembunyikan oleh suaminya.
Senada dengan janin yang ada dalam kandungannya yang tak merepotkan seperti tidak mau diketahui keberadaannya. Laila yang biasanya saat hamil pasti muntah-muntah di pagi hari saat di awal-awal kehamilan, kali ini tidak sama sekali. Ia hanya merasa lapar terus-menerus dan sering merasa lelah kalau diajak bekerja.
"Bang aku mau bicara sebentar," Rina yang saat itu ada di ruang tamu mencoba mengajak bicara abangnya
"Kak aku pinjam abang sebentar ya, boleh kan?" Tanya Rina sambil memeluk lengan Laila.
"Hehe pinjam aja, lama juga nggak papa. Mas mau langsung makan atau mandi dulu abis ini?" Setelah melihat Rina ia kemudian berpaling dan melihat suaminya.
"Aku mau mandi dulu" Kata Lukman tak menghiraukan adiknya sambil menggenggam jemari Laila agar ikut masuk ke dalam kamar.
"Bang!!!" Rina merasa sangat kesal pada abangnya. Dia sudah melakukan penyelidikan sekaligus penyamaran untuk mengungkap kasus yang menimpa saudara tuanya.
"Ada apa?" Tanya pak Dirman pada putrinya yang berdiri dengan kesal di depan pintu kamar sang kakak.
Tak lama Laila keluar dari kamar dan menatap dengan heran juga kasihan pada adik iparnya. Entah apa yang terjadi antara kedua kakak beradik itu sehingga membuat keduanya seperti sedang bermusuhan.
"Maafin mas Lukman ya. Abangmu itu Lagi capek kayaknya. Mau ngomong apa? Nanti aku sampaikan!" Kata Laila merasa tak enak hati karena tak berhasil membujuk suaminya agar mau berbicara dengan adiknya.
"Kak, kakak jadi istri itu jangan sabar-sabar amat kenapa?!!" Rina berteriak saking tidak bisa menahan rasa marah pada kakaknya. Emosinya meledak seketika.
__ADS_1
Laila mengerutkan keningnya karena bingung dengan perkataan Rina dan suara teriakan Lukman mengagetkannya.
"La!!!!! Masuk!"
Laila pun bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan keheranan. Ia bisa melihat raut muka Rina yang sudah mau menangis. Sebenarnya ini ada apa? batinnya.
"Rin.... ada apa?" Tanya pak Dirman lagi.
"Enggak yah. Rina pamit dulu ya yah. Ada agenda lagi abis ini" Katanya sambil mencium punggung tangan sang ayah kemudian menyalami bu Jannah juga. Ia menatap bu Jannah seolah minta tolong agar menjaga kakak iparnya Laila.
Gayung bersambut, bu Jannah kemudian mengantarnya ke depan tanpa berkata sepatah kata. Ia hanya menepuk pundak Rina untuk memberinya kekuatan.
"Doakan semuanya baik-baik saja!" Kata Bu Jannah. Rina menganggukkan kepalanya tanpa menatap wajah ibu tirinya. Air matanya sudah menetes dengan deras tanpa bisa di tahan lagi.
"Hati-hati di jalan!" Kata bu Jannah lagi.
Begitu ia masuk ke dalam mobil si supir langsung menjalankan mobilnya. Karina pun langsung menumpahkan air matanya, menangis sesenggukan di dalam mobil dibawah pengawasan sang sopir kepercayaan sang suami.
Karina sudah mengetahui kalau ternyata abangnya memiliki seorang wanita lain yang disembunyikan dari keluarganya. Di dalam Cctv yang ditunjukkan Ronald sepupu suaminya, ia bisa melihat dengan jelas Lukman memeriksakan kandungan seorang wanita di hari yang sama saat ia ke rumah sakit Citra Medika bersama Laila saat mengunjungi tetangganya.
Ibrahim kemudian menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki lebih jauh lagi.
Karena aktifitasnya sebagai seorang istri direktur juga sebagai ketua tim audit internal rumah sakit ia tidak dapat segera membicarakannya dengan sang abang atau dengan kakaknya yang lain. Untung sang suami selalu bisa diandalkan untuk tempat berkeluh kesah dan menumpahkan amarah.
Menurut penuturan mata-mata suaminya Lukman rutin mengunjungi Septi. Kadang pagi hari atau sore hari.
Sore itu Lukman mengunjungi Septi dengan membawa makanan seperti biasanya dan Rina menunggunya di tepi jalan. Cukup lama sekitar 30 menitan . Rina begitu tak sabar tapi ia berusaha menahan diri, ia tak ingin menimbulkan keributan di tempat yang belum ia kenal.
__ADS_1
Tapi saat Lukman sudah keluar dari gang itu dan Rina menghadangnya, Lukman hanya terperanjat sebentar. Setelahnya ia bersikap seolah tak ada yang salah dan meninggalkan Rina begitu saja. Rina berteriak-teriak seperti orang gila tapi si Abang sedang hilang kewarasannya.
"Bang!!! Katakan dulu siapa dia!"
"Dia cuma anak buahku. Kamu nggak usah ikut campur. Diam saja!"
"Jangan gila bang!! Bagaimana kalau kak Laila tahu?"
"Itu berarti dari mulutmu!"
Setelah itu Lukman tak menghiraukan teriakan adiknya yang menangis di tepi jalan sambil memanggil-manggilnya.
Untung sang sopir langsung menelpon bos besar dan memberitahu keadaan yang terjadi pada sang nyonya.
"Maaf bapak telpon nya" Kat si sopir pada Karina yang masih memandang kakaknya sambil berteriak dan menangis.
"Ke rumah sakit dulu nanti aku yang handle semuanya" kata Ibrahim di balik telpon.
"Nanti nangisnya di lanjut lagi kalau sudah nyampe disini"
Rina yang masih terisak buru-buru masuk ke dalam mobil sambil mengusap air mata dan ingusnya
Kejadian itu sudah berlalu seminggu dan menurut pemantauan mata-mata Ibrahim lukman masih rutin mendatangi wanita itu. Kalau saja tidak dilarang sang suami ingin rasanya ia menyeret wanita yang sedang hamil itu dan dihajarnya.
Sore ini Rina sengaja mendatangi rumah ayahnya agar bisa berbicara dengan abangnya yang ia tahu sedang berkunjung ke rumah kekasih gelapnya. Tapi apa yang ia dapat ternyata adalah penolakan mentah-mentah dari si abang yang semakin membuatnya kelabakan. Ia tidak berani berterus terang pada keluarganya. Ia tak ingin pernikahan abangnya dengan Laila bubar begitu saja. Ia ingin abangnya jujur dan menjelaskan semuanya kemudian meninggalkan wanita yang datang tiba-tiba itu agar tidak mengganggu keutuhan rumah tangga kakaknya.
Rina ingin semua baik-baik saja tapi ia juga bingung bagaimana nasib si wanita hamil itu nantinya. Rina ingin sekali mencakar wajah abangnya. Kenapa abangnya bisa tega menduakan istrinya. Padahal kakak iparnya adalah sosok yang sempurna dalam pandangannya. Tinggi semampai dengan bodi goals yang ok punya. Kulitnya putih bersih. Dia juga selalu melihat kalau kakak iparnya adalah istri yang penurut dan ibu yang sangat baik untuk anak-anaknya.
__ADS_1
Lalu apa yang membuat abangnya sampai terlena dan berpaling dari kakak iparnya. Rina tak bisa bercerita pada saudara-saudaranya sehingga Ibrahim yang mendapat tuahnya.