Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
semoga bisa dimengerti


__ADS_3

"Dulu abang juga sehat tapi tidak mau mengantarku ke rumah sakit...." Laila membalikkan badan memunggungi suaminya yang langsung menelan ludah. Diingatkan akan kesalahan besar yang pernah ia lakukan membuatnya merasa sangat bersalah.


Menyangga tubuhnya dengan tangan-tangan kekarnya dan berpindah dari kursi roda ke atas peraduan. Pergelangan tangan Lukman sudah lihai untuk menyangga beban tubuhnya sehingga memudahkannya untuk berpindah dari kursi roda ke tempat tidur atau tempat lainnya.


Laila menggeser tubuhnya menjauh dari Lukman sehingga memudahkan pria bertubuh kekar itu ikut berbaring di belakang sang istri. Memeluk istrinya dari belakang sambil memberi kecupan bertubi-tubi di rambut Laila yang harum dan lembut.


"Maaf....!" Bisiknya di ceruk leher Laila yang dingin karena hari memang masih pagi.


"Kembalikan anakku yang dulu!!!. Aku kehilangan dia... itu semua gara-gara abang!!!. Kembalikan anakku..!!!!." Teriak Laila sambil terisak.


Lukman menahan emosi yang berkecamuk di dadanya. Ia tahu ia salah dan sudah berkali-kali pula minta maaf pada istrinya. Tapi saat istrinya itu kesal ia pasti akan mengungkit kesalahan Lukman kembali, membuatnya menahan emosi.


Yang bisa dilakukan Lukman adalah mengingat kembali kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan istrinya dan seketika membuat hatinya melunak dan meluncurlah kata maaf yang tulus dari dalam hati.


"Aku minta maaf.... Ayah minta maaf ya nak ...." Lukman mengusap perut rata istrinya. "Bukan bermaksud menolak kehadiran mu, tapi lihatlah keadaan ayah yang cacat ini!" Lukman menghentikan ucapannya karena tercekat perasaan bersalah juga tak percaya diri.


Laila membalikkan badannya kemudian mengusap bulu-bulu yang menghiasi rahang keras Lukman. Matanya masih basah tapi kini wajahnya sudah kembali ceria.


"Aku justru bersyukur abang seperti ini jadi tidak akan ada wanita yang mau sama abang. Dan Abang juga nggak akan bisa kemana-mana" Laila mencubit pipi Lukman kemudian memberi kecupan sekilas di bibir berwarna gelap dan tebal milik Lukman.


"Aku memang tercipta untukmu...." Kata Lukman sambil merengkuh daksa indah istrinya. Merapatkan pada dadanya yang bidang sambil terus menciumi rambut hitam nan wangi sang istri. Disaat dirinya merasa tidak berguna, istrinya justru menikmati ketidakberdayaannya. Tidak merasa terbebani tidak juga malu mempunyai suami yang cacat dan tidak bisa apa-apa.


"Abang nggak papa kan? Aku ingin punya anak banyak. Nanti kalau kita tua kita bisa berpindah-pindah dari rumah anak-anak kita. Bosan di rumah Latif kita bisa ke rumah Labib. Habis dari rumah Labib kita bisa ke rumah anak ketiga kita. Habis itu pergi ke rumah anak keempat. Kalau kita sakit mereka juga bisa bergantian nungguin kita." Laila selalu mengulang-ulang keinginannya sampai Lukman hapal di luar kepala.


"Ayo kita periksa! Aku harap dia baik-baik saja. Ibunya sehat anaknya juga sehat...." Ucap Lukman mengalah. Mau bagaimana lagi itu juga akibat ulahnya sendiri. Semburan benihnya benar-benar luar biasa sampai ia bingung harus berucap syukur atau malah menyalahkan dirinya sendiri.


Laila menarik diri dari dekapan hangat raga suaminya. Memilih duduk karena saking bahagianya mendengar ajakan Lukman untuk periksa. Lukman Ingin mengganti kelalaiannya di kehamilan Laila sebelumnya. Menebus kesalahan dengan memanjakan istrinya meski tubuhnya yang atletis itu kini belum berfungsi dengan baik.


"Nanti kita sekalian jenguk baby nya Septi ya bang...!" Ucap Laila.

__ADS_1


Deg....


Lukman tak mampu menyembunyikan rasa kagetnya. Setelah lama tak mendengar namanya kini Laila menyebutnya seolah-olah dia itu teman lama.


"Kenapa?" Tanya Laila dengan muka cemburu yang tak bisa ditutupi.


"Memangnya kenapa kita harus menjenguknya?" Lukman bertanya balik.


"Ya layaknya teman yang melahirkan kita akan menjenguknya. Menjalin silaturahim. Itu saja. Memangnya kenapa? Abang masih dag dig dug kalau mendengar namanya? Abang masih punya rasa sama dia?" Raut wajahnya berubah menjadi cemberut karena ulahnya sendiri. Mengorek luka lama, coba-coba untuk bersikap sewajarnya yang justru menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


"Itu hanya akan mengingatkan kesalahan ku di masa lalu. Luka yang sudah tertutup kenapa harus mencoba menggoresnya lagi?" Jawab Lukman.


"Itu kalau abang masih ada rasa. Kalau nggak ada ya biasa aja..." Laila meradang karena telinganya ingin mendengar kalau suaminya itu tak menyimpan rasa meski mereka harus sering bertemu.


"Aku tidak punya rasa apa-apa. Dulu aku juga hanya membandingkan tiap wanita denganmu. Tapi aku tidak pernah menemukan hal itu pada wanita lain. Semua yang kuinginkan ada padamu sayang...." Bujuk Lukman.


"Gombal....! Memangnya apa yang ada padaku dan tidak ada pada wanita lain?"


"Ooohhh jadi aku itu pemarah.... kalau Septi itu orangnya sabar gitu?"


"Kenapa harus dihubungkan dengannya lagi?" Lukman jadi serba salah.


"Kalau abang nggak punya rasa ya biasa aja.....!!"


Lukman menghela nafasnya untuk menekan rasa jengkelnya. Begitulah sifat Laila kalau sedang marah. Lebih baik diam. Kalau terus dijawab tidak akan ada habisnya.


"Aku tahu abang menikahiku karena kasihan padaku kan?"


Nah mulai lagi kan?

__ADS_1


Lukman menyambar bibir Laila yang selalu mengatakan hal yang sama saat marah meski sudah dijelaskan berkali-kali kalau dia jatuh cinta pada pandangan pertama tapi masih saja tak percaya.


Memagut bibir manis milik sang istri dengan begitu lihainya. Menanamkan bibirnya dalam-dalam agar Laila terdiam. Mendekap tubuh ramping Laila dan mengungkungnya. Hanya sebentar karena takut memberatkan Laila karena ia belum bisa menahan tubuhnya.


Laila tenggelam dalam belaian Lukman yang melenakan. Tak diam saja, ia menyambutnya dengan membalik posisi karena tersulut gairah yang diciptakan sang suami.


Lukman tersenyum bahagia karena Laila tak pernah bisa menolak percikan api gairah yang ia ciptakan. Tangannya menjelajah bagian-bagian yang menjadi favoritnya. Dengan deru nafas yang memburu Laila memagut bibir suaminya dengan kasar saling menyesap sampai kehabisan nafas.


"Tok tok tok...!"


"Yank.... ada yang nyari..." Lukman yang berada di bawah mencoba menghentikan istrinya.


"Biar saja..." Laila sudah berada di ambang kewarasannya. Hasratnya tak terkendali ingin segera menuntaskan gairah dan menyatu dengan si lelaki yang tadi membuatnya marah. Deru nafasnya memburu tak ingin berhenti sebelum menuntaskan hasrat yang sudah menggebu-gebu.


"Brakkk brak brakkkkk....!"


"Kakkkk ada tamu...." Suara cempreng Rina seketika menghentikan aktifitas Laila.


"Kenapa Rina ada disini?" Katanya kesal sambil membenahi bajunya yang sudah terbuka dan hampir saja dilepaskannya. Lukman membantu mengancingkan baju sang istri yang mengerucutkan bibirnya.


"Sabar.... mungkin ada sesuatu yang penting.... Kita bisa lanjut lagi nanti..." Kata Lukman mencoba menenangkan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2