Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Lukman


__ADS_3

"Rina!!!" Aku berteriak bersamaan dengan Laila yang juga berteriak memanggil nama adikku.


Aku langsung menolong Septi yang jatuh terduduk di kursi. Untung saja di kursi jika tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi.


"Kamu nggak papa kan?" Aku memegang lengannya dan melihat ke arah kakinya. Jangan sampai ia pendarahan dan mengalami hal yang sama dengan istriku. Dia hanya menggelengkan kepala.


"Lepas bang!! Lepas!!!" Rina masih berusaha memberontak dari bang Alif dengan menendang-nendang ke segala arah, sementara orang-orang mulai berkerumun memperhatikan kami.


"Rin.....hiks... bawa aku pergi dari sini! Aku tak mau disini....!" Laila menyusut ujung mata dengan telapak tangannya.


"Kak aku mau bicara...." Septi berdiri sambil melihat Laila.


"Diam kamu!! Dia bukan kakakmu!" Teriak Rina dengan muka merah padam.


"Rinnnn..... kumohon bawa aku dari sini.... hiks....!!" Laila memalingkan mukanya dengan berderai air mata.


"Sayang.... aku mau menjelaskan semuanya..." Aku berjalan cepat ke arahnya karena tak tahan melihat tangisnya yang begitu menyayat jiwa.


"Diam disitu!!" Bang Alif membentakku dan seketika membuatku langsung terdiam di tempat. Seumur-umur aku baru melihat bang Alif semarah ini. Bahkan baru kali ini aku mendengarnya berteriak.

__ADS_1


"Mami....!!" Ibrahim datang dan langsung menarik Karina ke dalam pelukannya. Adikku itu langsung menangis sesenggukan di dada suaminya yang lebar dan menenggelamkan tubuh kecil Rina.


"Jangan membuat keributan di sini mi...! Ini rumah sakit orang! Nggak enak sama Ronald. Dikira kita mau membuat reputasi rumah sakitnya jadi jelek." Ibrahim memandangku dengan tajam.


"Lukman tidak tahu diri Pi.... Dia malah pamer kemesraan dengan wanita simpanannya di depan kak Lala.... Hwuu......huuuuu......"


"Apa maksudmu Rin? Siapa yang pamer kemesraan? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya?" Sahutku dengan berteriak. Tak terima dengan tuduhannya.


"Diam kau bang! Jangan membuat keributan disini!" Bentak Ibrahim dengan suara bassnya.


"Mi..... kalau mami tidak bisa menahan emosi lebih baik mami pulang! Nggak usah menemani kak Lala disini!" Ibrahim menekan kepala Rina di dadanya sambil membelai rambutnya.


"Di.. si.... ni... hik hik" Rina mengangkat kepalanya.


"Temani kak Lala aku yang urus abang!" Katanya tegas.


"Nggak usah panggil dia abang pi!!!" Teriaknya lagi.


"Miiiii!" Ia menatap tajam dengan mata sipitnya pada Rina yang membuat adikku itu langsung pergi dari hadapanku.

__ADS_1


Dan aku baru menyadari kalau istriku juga bang Alif sudah tidak ada di sini. Hanya tinggal orang-orang yang penasaran dengan kami yang masih memandang kami dari kejauhan.


"Ikut aku bang!" Kata Ibrahim tanpa melihatku.


"Kamu pulang saja! Hati-hati dijalan! Kalau sudah sampai rumah kunci pintunya rapat-rapat!" Kataku pada Septi yang langsung menganggukkan kepalanya. Semakin kesini dia semakin penurut saja. Membuatku tersenyum merasa jumawa. Dihargai sebagai seorang pria.


Aku mempercepat langkah mengikuti Ibrahim semoga dia bisa membantuku menjelaskan semuanya pada istriku.


Kami masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Ada sofa untuk menerima tamu dan meja kerja bertuliskan direktur rumah sakit Citra Medika dr Ronald Setiabudi Sp.KK


Ibrahim duduk di sofa dan menyalakan rokok. Ia kemudian menunjuk sofa di depanku dengan dagunya sambil menghembuskan kepulan asap di depan wajahnya. Itu yang aku lakukan padanya dulu kalau sedang menginterogasinya tentang hubungannya dengan Rina dan sekarang dia sedang membalas perbuatanku seperti seorang pecundang.


Tak lama ada yang mengetuk pintu dan adik iparku itu segera membukakan pintu untuknya. Ternyata bang Alif yang datang dan segera mengambil duduk tepat di depanku. Aku hanya diam membisu tak punya nyali untuk sekedar menyapanya. Abang seperti biasa memancarkan wibawa membuatku menelan ludah.


"Ku tinggal dulu bang! Aku kuatir sama maminya si kembar. Bikin onar di rumah sakit orang! Nggak mikir apa" Entah kata-katanya itu ditujukan padaku atau pada adikku yang sama-sama punya temperamen yang mudah meledak-ledak.


"Aku tidak berbuat apa-apa dengannya bang. Aku hanya ingin menolongnya. Dia itu...." Kata-kataku berhenti karena dipotong oleh abang.


"Kau tahu Man, di dunia ini banyak wanita yang menderita. Di seluruh penjuru dunia ada saja orang yang berbuat semena-mena pada makhluk mulia yang bernama wanita. Apa kau ingin menolong mereka semua?"

__ADS_1


__ADS_2