
Rina mengetuk pintu untuk menghentikan aksi suami istri yang sedang lupa diri saat ia melihat keluarganya datang. Dua keponakannya serta ayah dan ibu tiri yang disayanginya sedang berjalan ke arahnya.
Rina segera menyambut mereka dengan mengulurkan tangan dan mencium tangan orang tuanya. Sama seperti yang dilakukan oleh Latif dan Labib padanya. Rina menggandeng keduanya dan masuk ke dalam kamar tempat Lukman di rawat.
Laila terlihat mengipasi mukanya dengan telapak tangannya. Wajahnya bersemu merah dan semua orang bisa melihatnya.
"Adeek..!" Laila mengangkat tubuh Labib dan menaruhnya di sebelah Lukman untuk meredam kegugupannya. Ayah dan anak itu saling melemparkan senyuman kemudian berpelukan.
"Ayah kapan pulang? Ayah lambutnya banyak....." Kata Labib sambil memegang jenggot Lukman yang menusuk-nusuk kulit saat di pegang.
"Ini namanya jeng-got. Kalau yang disini ku-mis" Laila menunjukkan nama-nama rambut yang ada sambil memainkan kumis Lukman.
"Kalau ini alis, ini bulu mata..., yang ini baru namanya ram-but" Laila menunjukkan nama-nama bagian tubuh sambil memegangnya. Ia menjadikan Lukman sebagai manekin hidup yang pasrah saja saat anak dan istrinya mengusap dan menyentuh bagian-bagian yang ada di mukanya.
"Adek pingin gendong ayah...." Kata Labib sambil mencium pipi Lukman yang sudah cukup lebat ditumbuhi bulu-bulu seperti yang dikatakan oleh si kecil Labib.
"Iiihhh lammbutnya ayah gatal...."
"Enggak kok.... ayah malah ganteng kalau gini..." Kata Laila manja.
"Endak cuka.... "
"Bunda suka...."
"Apaan sih bunda sama adek?" Latif yang sejak tadi duduk di sofa dengan kakek nya merasa jengah melihat interaksi keluarganya.
"Ayah jelek kan bang kalo kayak dini?"
"Gini bukan dini..." Latif sewot dengan jawaban adiknya.
"Abang..!!.! Gi.... ni... ya dek ya. ..Kemarin-kemarin sudah bisa kok... Abang sering marahin adek ya kalau bunda nggak di rumah?" Tanya Laila pada si sulung.
Latif hanya melengos tak menjawab pertanyaan bundanya.
"Kasihan adeknya kan bang.... Adeknya disayang-sayang biar tambah pintar... jangan dimarahi terus...!"
__ADS_1
"Ndak kok bun... Kalo di lumah abang baik. Ndak pelnah malah..." Jawab si kecil membela abangnya.
"Oh ya?" Laila memicingkan mata tak percaya.
"Abang nggak pernah marah sama adeknya cuma nyolot aja. Ya Bang ya.... " Akung Sudirman ikut nimbrung sambil makan anggur yang ada di meja. Memperhatikan dari tempat nya duduk sekaligus memberi waktu pada keluarga kecil putranya untuk saling melepas rindu. Sementara sang istri membersihkan dan menata barang-barang yang ada.
"Kumbahane mung iki to nduk?" Tanya Bu Jannah pada Laila.
"Inggih bu... Oh sekedap kale wonten ten lebet jeding" Laila hendak berjalan ke kamar mandi untuk mengambil baju-baju kotor tapi sang ibu mertua mencegahnya
"Wis tak jupuke dewe..."
Laila melipat bibirnya merasa tak enak hati karena telah merepotkan ibu mertuanya.
"Dek... sekarang ayah sudah bisa ngangkat tangan. Cobak yah... biar adek tahu..." Katanya kemudian.
Pak Dirman dan Latif yang namanya tak disebut juga ikut memperhatikan tangan Lukman. Pria yang sedang berbaring itupun mencoba mengangkat lengannya. Meski ia sudah berusaha sekuat tenaga tapi tangannya hanya bisa terangkat sedikit saja. Lukman kesal pada dirinya sendiri karena ia tak bisa mengangkat lengannya lebih tinggi lagi.
"Yeeeeyyy...! Bisa kan dek...!" Laila bertepuk tangan untuk memberi semangat pada Lukman.
"Bismillah.... Lahaula wa la quwwata illa billah.... sembuh sembuh sembuh....."
Semua yang melihat tingkah Labib tersenyum tak terkecuali dengan Lukman yang baru merutuki dirinya sendiri. Ia merasa bahagia bisa bersama dengan anak-anak serta keluarganya. Di dalam hati ia berjanji akan menjaga pandangannya agar tak mengulangi kesalahan yang sama.
Setelah menghabiskan waktu bersama dengan saling menggoda dan bercanda yang didominasi oleh Labib dan Laila, merekapun berpamitan untuk pulang.
" Malam ini bunda nggak pulang dulu ya...?" Kata Laila. "Kakak sama adek di rumah Onty Rina dulu. Besok kan hari libur...? Nanti main sama adek Ali sama adek Aliyah ya..!"
Kedua putranya tidak menjawab hanya saling memandang kemudian melihat apa saja dengan diam.
"Matur nuwun bu, ngapunten....ngerepotaken..." Ujar Laila pada sang mertua merasa tidak enak karena selalu merepotkan keduanya.
"Ayah yang minta maaf ya nak..... Terima kasih sudah menerima anak ayah yang bodoh itu. Semoga dia bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi dan tidak mengulanginya lagi. Sudah ada berlian di tangan malah cari batu. Orang geblek itu namanya....." Pak Dirman tak henti-hentinya minta maaf dan berterima kasih pada Laila saat mereka bisa bertemu. Merasa bersalah karena tidak bisa mendidik anaknya dengan baik sampai bisa terlena dengan kehadiran wanita lain dan melupakan istrinya.
Laila tak menjawab permintaan maaf dari sang mertua karena dia memang belum bisa memaafkan. Ia tak bisa berpura-pura bilang iya padahal hatinya masih belum sepenuhnya menerima dan keluarga Lukman tentu saja memakluminya.
__ADS_1
Labib mencium kening ayahnya kemudian menyentuhkan hidungnya ke hidung sang ayah dan menggeseknya ke kiri dan kekanan pelan-pelan.
"Adek pelnah lihat ayah cama bunda kayak itu telus bilang I lop yu..."
Sontak saja perkataan Labib membuat muka Laila kembali merah. Ia tak menyangka pernah kecolongan saat beradu mesra dengan suaminya.
"Hehe...." Ia nyengir karena malu pada kedua mertuanya. "Salim sama ayah yuk....!" Ajaknya untuk menghilangkan kecanggungan dirinya sendiri. Sementara Lukman justru menyukai ekspresi imut sang istri.
Labib dan Latif bergantian mencium tangan Lukman dengan takzim. Dan si sulung menggumam dengan sangat pelan yang hanya bisa di dengar oleh Lukman.
"Cepat sembuh yah....! tapi... jangan sakiti bunda lagi...!" Katanya saat mencium tangan ayahnya. Pria kecil itu memandang wajah ayahnya dengan penuh harap lantas segera berbalik meniggalkan ayahnya yang menatap si sulung dengan mata memerah. Ia bahagia sekaligus terharu punya anak-anak yang bisa melengkapi hidupnya dan itu semua tak lepas dari peran besar istrinya.
Laila dan Karina kini sedang duduk berdua setelah mengantarkan keluarga nya keluar. Ibrahim membawa keluarga mereka menuju ke kediamannya. Sedang Rina akan menyusul nanti selepas isyak karena harus mengaudit pengeluaran rumah sakit bulan ini yang menurutnya terdapat beberapa kejanggalan disana.
"Kemana kamu membawa Septi?" Tanya Laila.
"Di tempat yang jauh..." Jawabnya sambil mendengus sebal. Bisa-bisanya kakak iparnya itu masih memperhatikan wanita yang hampir saja memporak-porandakan keutuhan keluarga nya.
"Dimana?"
"Kenapa sih kak? Dia itu nggak penting ngapain masih bahas dia..."
"Kamu jangan lupa! Abangmu suka sama dia. Perlakukan dia dengan baik!"
Rina merasa tercabik-cabik hatinya saat mendengar keluhan Laila. Ia tak bisa menyangkal apa yang sudah dikatakan oleh kakak iparnya. Ia jadi semakin kesal pada abangnya itu.
"Di panti di luar kota..." Katanya tak ingin membantah kakak iparnya.
"Katakan pada abangmu kalau dia ada di tempat aman dan akan baik-baik saja. Dia punya pengalaman hidup yang menyedihkan. Pasti abangmu itu juga sekarang ingin tahu Septi ada dimana. Aku yakin abangmu itu pasti mencemaskannya." Kata-kata Laila datar seperti tak ada emosi saat mengucapkannya.
"Kakak nggak pingin gitu ninggalin abang yang sudah mengecewakan kakak sampai seperti ini. Kalau kakak mau ini waktu yang tepat untuk memberi pelajaran padanya..." Kata Rina penasaran dengan kesabaran Laila yang diluar dugaannya.
Semua orang di keluarganya tahu kalau Laila itu pemarah dan posesif pada abangnya tapi sekarang ia berubah menjadi sabar luar biasa saat mengahadapi semua masalah dan menjadi super duper bijaksana.
"Kalian tahu kan kalau aku sangat posesif sama ayahnya Latif. Aku sering bertindak di luar kendali saat melihat ada gadis yang memandangnya dengan tatapan kagum. Apalagi saat aku hamil. Emosiku naik turun tidak karuan"
__ADS_1
"Waktu aku hamil Latif itu aku melihat ada wanita yang memandanginya dan aku melihat abangmu itu menoleh padanya sekilas. Darahku naik dan terasa mendidih. Begitu sampai rumah aku melemparkan semua barang-barang ke arahnya.