Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Penyesalan


__ADS_3

Setetes air mata jatuh dari kelopak mata Lukman yang tertutup dan kemudian masuk ke dalam telinganya. Ia hanya tinggal sendirian di ruangan yang memenjarakan kehidupannya setelah sang istri berpamitan untuk pulang.


Majnun?


Orang yang gila? Segila itu istriku dalam mencintaiku?


Apa benar itu seperti yang dikatakan oleh adiknya tadi kalau istrinya itu sudah bucin akut padanya seperti istilah anak muda jaman sekarang.


Lukman ingat bagaimana dulu saat pertama kali ia berkenalan dengan Laila. Lukman yang belum pernah dekat dengan wanita langsung tertarik dengan paras wajahnya yang waktu itu full make up. Dari segi postur tubuh jelas itu yang didambakan setiap pria. Tinggi langsing dengan bodi bak gitar spanyol. Tampilan depan dan belakangnya sungguh menyegarkan pandangan. Kulitnya pun putih bersih berbeda jauh dengan warna kulitnya.


Ia selalu tak tahan saat berada di dekatnya karena itu Lukman sering mengacuhkannya, berpura-pura tak melihatnya karena desiran halus yang membuat bulu kuduknya meremang. Darah pria yang bergejolak dan pasti akan mudah terbakar jika ada yang memantik api di dekatnya.


Untungnya Laila selalu terlihat kesal saat melihat dirinya sehingga Lukman selalu bisa menahan diri agar tak berbuat lebih.

__ADS_1


Dan setelah menikah barulah ia tahu kalau cintanya tak berat sebelah. Gayung bersambut dan kebahagiaan senantiasa menyelimuti keduanya.


Tapi saat bersama dengan Septi, awal mulanya ia tak punya rasa tertarik sama sekali tapi lambat laun karena kebersamaan mereka ia jadi terbiasa. Terkadang ia bahkan memegang Septi tanpa rasa bersalah sama sekali. Ia lupa kalau memandangnya saja sudah dosa apalagi yang lainnya.


Lukman merutuki kebodohannya. Bagaimana ia yang faham tentang agama bisa berbuat seperti itu. Menelantarkan istrinya sendiri dan lebih memilih menemani wanita lain. Itu artinya ia sendiri yang berupaya untuk mendekati zina.


Dulu dengan Laila ia bisa menahan diri bahkan ia akan sangat marah kalau Laila dengan tak sengaja menempel padanya. Dengan Septi ia malah asyik menikmati dosa yang ia ciptakan sendiri. Betapa dia sudah masuk ke dalam bujuk rayu setan saat bersama dengan Septi sampai ia tak merasa jika yang dilakukannya adalah dosa yang keji.


Ya Alloh tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk menebus kesalahan yang kuperbuat pada istriku.


Beri aku kesempatan lagi ya Robb


Kumohon....!

__ADS_1


Aku janji akan memperbaiki semuanya dan akan menjaga pandanganku hanya untuk istriku seorang


Air mata Lukman berjatuhan tanpa seorang pun yang mengetahuinya.


Lagi-lagi ia ingat kesalahan yang sudah diperbuatnya pada sang istri. Saat ia selesai mengantar Septi memeriksakan kandungannya yang sudah masuk trimester kedua. Tak disangka-sangka ia melihat sepasang mata yang sepertinya sudah sejak tadi mengamatinya. Ia pun tertegun melihatnya.


Sampai Laila memegang perutnya dan mengerang kesakitan kemudian orang-orang datang menolongnya. Ia hanya berdiri terpaku di tempatnya tidak tahu apa yang harus ia perbuat sampai istrinya itu sudah berada di atas bed dan di dorong ke IGD.


"Mas!" Septi mengguncang lengan Lukman yang diam terpaku melihat semuanya.


Lukman segera berlari mengejar Laila tapi dokter menahannya. Setelah diperiksa dokter memutuskan untuk melakukan tindakan kuretase karena terdapat penebalan dinding rahim dan butuh tanda tangan dari wali pasien.


Lemaslah tubuh Lukman. Ia baru saja mengetahui jika sang istri kini sedang hamil lagi dan kini ia harus mengizinkan dokter untuk mengambil janin yang baru saja dia ketahui keberadaannya. Dia sendiri yang mengambil nyawa anaknya, darah dagingnya.

__ADS_1


Maafkan ayah nak


__ADS_2