
Lukman memijit pangkal hidungnya. Dia berpikir bisa mengakhiri semuanya dengan mudah karena belum melangkah terlalu jauh. Tapi kenyataannya sungguh berbeda.
Ia sedang menunggui Septi yang masih terbujur di depannya dalam keadaan lemah. Dengan infus yang sudah menancap di tangannya. Entah benar-benar tidur atau cuma pura-pura.
Dia berkali-kali menghembuskan nafas sambil beristigfar. Sesekali matanya melihat pada sosok Septi. Gadis yang baru dikenalnya sekitar dua bulan ini. Gadis yang menurutnya mirip dengan sang istri. Tapi ternyata sekarang tidak lagi. Setelah mengurai benang kusut antara dirinya dengan ibunda dari kedua putranya.
Semua itu bermula karena dia lebih mementingkan egonya sehingga kini ia bingung harus bagaimana menangani semuanya.
Hubungannya dengan sang istri sudah kembali membaik tapi tidak dengan keadaan di kantor nya. Ketiga gadis yang jelas-jelas menyimpan perasaan padanya berkumpul dalam satu tempat membuat suasana rumah sekaligus kantor itu jadi tidak kondusif.
Puncaknya pagi ini ketika ia datang lebih terlambat dari biasanya. Baru juga masuk ke dalam ia langsung mendengar suara orang muntah-muntah. Ia pun bergegas menuju ke arah suara dan mendapati Septi yang sedang berada di dalam kamar mandi sedang mengguyur muntahannya.
"Septi kenapa bu?" Tanya Lukman pada ibunya Yuli yang sedang berada di dapur.
"Nggak tahu kenapa tiap pagi muntah-muntah. Kayak orang hamil aja"
__ADS_1
Lukman mengernyitkan keningnya sambil memperhatikan Septi yang keluar dari kamar mandi dengan berjalan sempoyongan sambil memegang dinding untuk menopang tubuhnya. Wajahnya pucat dan kelihatan tak bertenaga.
"Kamu kenapa Sep? sudah periksa ke dokter?"
Tapi Septi hanya menggeleng pelan tak mampu bersuara.
"Nanti minta Yuli antar ke puskesmas atau rumah sakit!" Kata Lukman masih memperhatikan Septi yang berjalan menuju kamarnya tanpa berniat membantunya.
"Paling juga masuk angin biasa mas" Yuli yang tiba-tiba datang entah dari mana langsung menimpali dengan nada sinis. Merasa Lukman lebih perhatian pada Septi daripada Daniah apalagi jika dibandingkan dengannya dan itu membuatnya malas berbicara dengan Septi.
"Antar periksa aja. Daripada kenapa-napa" Jawab Lukman.
"Kayaknya ada di gudang tadi"
"Kamu nggak berangkat kuliah?"
__ADS_1
"Nanti mas. Aku ada kelas siang"
Tiba-tiba Septi keluar dari kamar dan berjalan cepat sambil membekap mulutnya dan telapak tangannya yang lain merambati dinding menuju kamar mandi lagi. Ia seperti ingin muntah lagi.
Mendapati Septi yang terlihat tersiksa dan kesakitan ia pun tak sampai hati karena Yuli dan ibunya terlihat acuh padanya.
HUwwwekk.....
Septi menundukkan kepalanya dan mencoba memuntahkan isi perutnya tapi sepertinya perutnya sudah tak ada isinya lagi hingga hanya cairan kuning bau yang keluar.
Lukman menepuk-nepuk punggung Septi beberapa lama sampai gadis itu berusaha berdiri dan melangkah pergi meninggalkan kamar mandi. Berusaha menyeret kakinya yang terasa berat sambil merayap berpegangan pada dinding.
Tapi baru beberapa langkah badan Septi luruh ke bawah. Lukman yang masih menatapnya menyadari kalau Septi pingsan dan segera menolongnya dengan menahan tubuh Septi.
Ia pun berteriak memanggil Yuli agar membukakan pintu mobil sementara dia menggendong Septi menuju ke mobilnya. Sialnya lagi kunci mobil ada di dalam saku celananya membuat Lukman semakin panik. Ia menaruh Septi di Sofa dan buru-buru mengambil kunci mobilnya dan menyerahkannya pada Yuli yang sudah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Lukman tak bisa diam saja sedang para pekerja lelaki dan buruh tani lainnya sedang berada di pos masing-masing dan hanya dia laki-laki satunya. Ia pun langsung membawanya ke rumah sakit yang jarak tempuhnya sama dengan jarak ke puskesmas.
Dan disinilah dia sekarang. Sedang memandangi Septi yang sedang terlelap dengan mata yang cekung dan wajah pucat pasi