Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Ada apa


__ADS_3

"Aku ikut ke kamar mandi, perutku sakit sekali" Kataku sambil berdiri karena sudah tak tahan ingin buang air besar. Perutku terasa mulas sekali.


"Iya silahkan mas!" Jawab Septi sambil berjalan menunjukkan jalan padahal aku sudah tahu tempatnya. Rumah ini hanya sepetak dan akulah yang pertama kali melihat-lihatnya dulu jadi aku pasti tahu letak kamar mandinya dimana. Ada-ada saja Septi ini. Wajahnya kelihatan lucu karena tersipu malu.


Setiap kali aku masuk kamar mandi dan membuang hajat entah itu pipis atau be ol aku selalu melepas celanaku agar tidak kena cipratan najis.


Kencing termasuk najis mutawassitoh dan cara menghilangkan najisnya tidak cukup hanya dengan mengguyurkan air di tempat najis tetapi dengan membersihkannya dahulu sampai bersih dan tidak berbau barulah yang terakhir di guyur atau dibilas dengan air bersih.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersihkanlah diri dari kencing. Karena kebanyakan siksa kubur berasal dari bekas kencing tersebut.” Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni.


Diriwayatkan pula oleh Al Hakim, “Kebanyakan siksa kubur gara-gara (bekas) kencing.” dengan sanad shohih.


Kebanyakan pria bisa kencing sambil berdiri dengan hanya membuka resleting nya saja kemudian mengeluarkan alat vital mereka dan setelah selesai hanya menyentil-nyentil ujungnya kemudian memasukkannya lagi ke dalam celana.


Aku tidak bisa seperti itu karena itu akan membuat celana menjadi najis dan tidak bisa dipakai solat nantinya. Karena itu aku selalu berjaga-jaga dengan membawa baju dan sarung ganti barangkali bajuku najis jadi aku bisa berganti baju yang suci saat akan menunaikan solat.

__ADS_1


"Oh my God....!" Aku terhenyak saat melihat celanaku jatuh ke lantai kamar mandi saat aku berusaha memakainya. Tidak mungkin aku memakainya kembali karena celananya basah dan sudah pasti najis. Seketika kebingungan melandaku.


Bagaimana aku harus keluar kamar mandi. Aku menoleh ke kanan kiri dan mendapati handuk kecil di gantungan. Terpaksa aku memakainya dan keluar dari kamar mandi untuk meminta tolong pada Septi agar dia mengambilkan baju gantiku yang ada di sepeda motorku.


"M-mas??!" Septi tampak canggung saat melihatku. Ia berdiri menatap ke arah kakiku yang terbuka dan berbulu. Handuk kecil yang kupakai hanya menutupi sebagian pahaku jadi aurotku terekspos nyata didepannya.


"Sep, tolong ambilkan bajuku di sepeda motor!" Kataku memecah konsentrasi nya agar ia tak berlama-lama melihat kakiku yang menurut istriku ini adalah kaki terseksi. Kekar, berbulu dan berwarna coklat gelap, macho katanya.


"I-iya mas, sebentar!" Katanya sambil berlalu dengan salah tingkah.


"I-iya! Sebentar!"


Aku berjalan ke kamar mandi lagi setelah mencari deterjen untuk mencuci celanaku. Kulepas baju juga handuk yang melilit di tubuh agar aku bisa mencuci dengan leluasa dan tak terkena cipratan najis juga. Apalagi kamar mandi ini sangat mini.


"Mas Lukman... ini bajunya!" Kata Septi setelah mengetuk pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Iya tunggu sebentar"


Tiba-tiba terdengar suara gaduh di sekitar rumah. Entah ada apa diluar sana.


"Mereka pasti berbuat mesum didalam!"


"Dobrak saja pintunya!"


"Iya benar, dobrak saja!"


"Iya dobrak saja pak RT!"


"Brak brakk brakkk!!!"


Terdengar suara orang menggedor-gedor pintu dengan sangat keras dan dari suaranya jumlah mereka pasti sangat banyak.

__ADS_1


"M-mm mas!!! Mas Lukman! Mas!!! Buka pintunya!!!" Septi memukul pintu kamar manfi dengan telapak tangannya. Suaranya terdengar bergetar dan ketakutan.


__ADS_2