
"Apa semalam dia minta jatah?" Tanya kak Mia pagi itu.
Laila menggelengkan kepala kemudian menarik nafasnya dalam-dalam. Matanya terlihat sangat bengkak membuat semua orang tahu kalau dia baru menangis dalam waktu lama.
"Ini memang salahku kak, kalau ayahnya Latif sampai berbuat seperti itu. Mungkin aku kurang menyenangkan dalam melayaninya. Pasti ada yang salah hingga suamiku sampai bisa berbuat seperti itu."
"Terus tadi malam kalian bahas apa? Masak cuma diem-dieman aja?" Tanya Kak Mia yang kali ini terlalu kepo dengan urusan rumah tangga adik iparnya.
Laila menundukkan kepala dan menangis lagi. Kak Mia memeluk bundanya Latif dengan perasaan bersalah karena terlalu mencecarnya.
"Ya sudah ya sudah.... maafin kakak ya" Kak Mia menepuk-nepuk punggung Laila dengan penuh kasih sayang.
"Kali ini kalau kamu cuma menangis saja tanpa minta penjelasan sama suami kamu, masalahnya nggak akan selesai La. Lukman juga kenapa malah diam saja sih. Jadi kepala rumah tangga nggak teges banget" Gerutu Kak Mia sebal dengan komunikasi diantara suami istri itu.
"Kemarin kamu kemana saja?"
"Pingin jalan-jalan sama Labib kak, bersenang-senang cari angin " Jawab Laila bohong.
"Biar nanti mas yang ngomong sama Lukman. Bener-bener keterlaluan dia itu" Kak Mia kali ini bener-bener emosi.
"Tolong jangan kak! Aku akan bicara sendiri sama ayahnya anak-anak. Tolong jangan minta bang Alif buat negur mas Lukman ya Kak....Kami akan bicara baik-baik!"
Laila memohon dengan sepenuh hati karena ia sudah membuat keputusan setelah melalui perenungan panjang.
Meskipun tak puas dengan kata-kata Laila tapi kak Mia tentu saja tak bisa ikut campur terlalu jauh urusan rumah tangga mereka. Setiap keluarga pasti punya cara sendiri-sendiri untuk mengatasi masalah yang terjadi.
Wanita hamil itu menarik nafasnya dalam-dalam sambil berdoa dalam hatinya semoga Laila dan Lukman bisa menyelesaikan masalah mereka dengan baik dan apa yang ada dalam pikirannya tidak akan pernah terjadi.
"Kak.... minta tolong lagi ya. Tolong handle semuanya. Nanti jemput anak-anak minta tolong sama pak Eko saja"
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" Tanya kak Mia khawatir jangan-jangan Laila akan kabur kemana.
"Aku mau rebahan hari ini, tidur seharian. Biar pikiranku bisa fresh lagi" Kata Laila.
"Kamu jangan main kabur-kaburan ya! " Kata Kak Mia serius.
"Tenang aja kak. Kemarin itu yang terakhir" Laila menyunggingkan senyuman untuk meyakinkan kak Mia.
"Ya sudah tidur sana! Biar Labib sama aku"
"Nanti kakak kerepotan..." Kata Laila sungkan.
"Enggak.... tenang aja! Eh tapi, dimana dia?" Kak Mia menoleh ke sekeliling mereka tapi tak melihat anak kecil itu.
"Ayah ndak kelja?" Samar-samar terdengar suara Labib bertanya pada seseorang.
Kedua wanita tadi kemudian keluar dari dalam rumah dan mendapati Lukman sedang kejar-kejaran dengan putranya.
Kak Mia tak mau bicara dengan adik iparnya itu dan membuang muka. Marah, kesal, kecewa tapi ia tak ingin mengungkapkan nya.
"Labib sama bude yuk, Ayah sama bunda mau bicara" Kata Kak Mia pada keponakan kecil suaminya.
" Lihat ikan sama pakde..... " Katanya lagi mencoba mengambil perhatian pria kecil yang lucu dan tampan itu.
"Pak de di lumah ya bude? Ndak kelja?" Anak lelaki berumur tiga tahun itu berjalan ke atas undakan dan meraih tangan budenya dengan riang gembira. Mungkin insting perasaan anak yang belum punya dosa, dia seperti faham kalau orang tuanya sedang ada masalah dan memberi waktu pada ayah bundanya untuk bicara.
"Pak de berangkat kerja nanti abis Dhuhuran" Kata kak Mia sambil menggandeng Labib yang berjalan sambil melompat-lompat.
Lukman dan Laila kini berpandang-pandangan, sama-sama merasa canggung dan keduanya menyadari itu bukan gaya mereka saat ada masalah.
__ADS_1
"Mas nggak ke sawah?" Tanya Laila yang bingung karena sang suami hanya memandanginya tanpa berbicara.
"Hm" Jawab nya.
Dengan takut-takut Laila memeluk lengan suaminya dan membawanya menuju ke rumah sebelah.
.
.
.
Lukman dan Laila baru saja melakukan ritual suami istri di pagi hari. Tak perduli masih ada orang tuanya di dalam rumah. Lukman ingin bicara dari hati ke hati dengan sang istri. Biasanya saat ada masalah apa saja mereka selalu menyelesaikannya di atas ranjang karena keduanya memang maniak ehem-ehem.
Lukman menyeka keringat yang membanjiri dada sang istri dan itu justru menggelitik syaraf-syaraf dalam tubuh keduanya.
"Jangan menggodaku lagi. Aku capek sekali mass" Mereka pun berpelukan lagi dalam keadaan polos di bawah satu selimut yang menjadi saksi bisu percintaan mereka.
"Kenapa? Kamu sudah nggak kuat?" Tanya Lukman sambil menyelipkan rambut istrinya di belakang telinga.
"Nanti malam aja lagi ya mas. Sekarang aku mau tidur." Kata Laila sambil memejamkan mata.
"Yank...."
"Hem...?"
"Kamu tidak ingin bertanya sesuatu?" Lukman mulai bicara tentang masalah mereka.
Di luar dugaan Laila malah menggelengkan kepalanya membuat Lukman menelan ludah. Kenapa istrinya ini tumben sekali jadi tenang begini menghadapi masalah yang seberat ini.
__ADS_1
"Aku rela di madu......" Ucap Laila sambil menahan suara dan tangisnya di dalam dekapan Lukman.