
Ia duduk terpekur di depan ruang VVIP. Merasa keluarganya tak ada yang menghiraukannya. Tak punya harga diri sama sekali. Saat ini yang bisa dilakukannya hanya duduk saja. Berharap seseorang akan memanggilnya.
Sejak pagi Laila sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP oleh adiknya Karina tanpa meminta persetujuan darinya. Ia diabaikan keberadaannya, Seolah tak ada disana.
Suara langkah kaki yang mendekati pintu membuatnya mendongakkan kepala. Terbit senyum di wajahnya karena yang datang adalah bang Alif. Satu-satunya harapan yang tersisa. Ia pun bangkit dan berjalan menyongsong sang abang yang selalu bisa diandalkan.
Di depan pintu bang Alif menatap tajam ke arahnya membuat pria yang postur tubuhnya lebih tinggi itu menghentikan langkahnya. Tanpa menyapa bang Alif masuk ke dalam ruangan Laila yang pintunya memang sudah sedikit terbuka.
"Bang....!" Terdengar suara serak sang istri yang sangat ia rindukan sekarang. Bukan memanggil dirinya tapi memanggil abangnya.
"Bang....!!" Suaranya kini menyayat hati karena bercampur tangisan.
Lukman mengintip di celah pintu. Perasaannya seperti tertusuk sembilu. Ada dirinya tapi sang istri malah memanggil orang lain untuk berkeluh kesah.
Bang Alif mendekati ranjang Laila dan membenarkan posisi selang infusnya. Tak dinyana Laila malah menghambur memeluk si abang. Menangis sesenggukan di perut bang Alif yang hanya menepuk-nepuk pundaknya.
__ADS_1
"Sudah-sudah!" Ucap bang Alif datar saja raut muka maupun suaranya.
Lukman terhenyak memandanginya. Laila begitu histeris saat ia masuk ke dalam. Berteriak-teriak menyuruhnya keluar dan melarangnya untuk masuk agar tak melihat batang hidungnya tapi saat bang Alif datang Laila justru menangis meluapkan kesedihan yang mengganjal di dada.
Lukman memandang istrinya yang sedang mengusap air mata dengan tatapan sendunya. Inginnya marah karena cemburu tapi hanya buliran air yang keluar dari matanya. Ia pun beringsut dari tempatnya. Rina yang baru datang dengan sengaja menabrakkan pundaknya dengan si abang membuat tubuhnya terbentur ke dinding.
Lukman hanya diam saja sambil mengusap pundaknya. Tak ingin suasana semakin panas karena watak keras keduanya. Lukman pun kembali duduk terpekur. Melihat sepatunya yang lusuh karena tidak membawa sandal untuk ganti.
Tak lama Septi datang dengan membawa nasi dan bubur untuk Lukman dan Laila. Setelah mengirim pesan dan bertanya pada Lukman akhirnya dia bisa menemukan Lukman. Mereka bahkan duduk berdampingan di depan kamar Laila.
Tiba-tiba pintu kamar perawatan Laila terbuka membuat Lukman dan Septi seketika berdiri. Bang Alif mendorong kursi roda Laila yang duduk dengan lemah di atasnya. Sorot mata bang Alif seolah ingin menerkam Lukman yang begitu tak tahu diri.
Laila hanya melihat Lukman sekilas kemudian segera mengalihkan pandangan pada wanita di sebelahnya. Berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang berdesakan ingin keluar. Semua orang yang melihatnya pasti tahu jika ia sedang bersedih dan sakit hati.
Rina yang baru saja menutup pintu melihat ke arah abangnya yang berdiri berdampingan dengan seorang wanita menjadikan emosinya meledak seketika.
__ADS_1
Ia berjalan dengan cepat dan tanpa babibu langsung menendang tulang kering abangnya yang langsung membungkuk dan mengaduh kesakitan.
"Aaarggghhhh!!!!"
"Dugh" Rina menambahkan satu pukulan lagi menggunakan sikunya lagi di punggung Lukman dengan kekuatan penuh.
"Arrghhhhh!!!!"
"Rina!!!!" Bang Alif mencengkeram lengan adiknya yang menendang saudaranya dengan membabi buta.
"Dasar tak tahu malu!!! Masih berani menunjukkan muka. Wanita murahan tak tahu malu!!" Bang Alif mendekap Rina dari belakang tapi wanita berpostur kecil itu masih sempat menendang Septi.
"Dugh!!"
"Arghh!!!"
__ADS_1
"Rina!! Berhenti Rin!!!"