Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
pengakuan cinta


__ADS_3

Lukman membuka pintu kamar putranya yang biasanya dipakai bertiga jika Doni pulang saat liburan. Memandangi putra pertamanya yang tertidur pulas dan terlihat lebih tampan karena wajahnya terlihat santai dan nyaman. Benar kata Doni dan orang-orang di sekitar mereka kalau wajah si sulung ini memang wajah bundanya. Ini adalah Laila versi cowoknya. Tapi dalam hal perangai ia sebelas dua belas dengan ayahnya. Pendiam, kaku, keras, tidak suka basa basi sama plek keteplek dengan dirinya.


Sedangkan si bungsu wajahnya lebih mirip dirinya. Hitam manis tapi sifatnya lebih mirip Doni yang selalu ceria dimana saja dia berada. Lukman tersenyum memandang mereka bertiga bergantian. Kombinasi dirinya dan sang istri ternyata menciptakan dua manusia yang berbeda. Keluarga kecilnya yang kini ia sadari dan ia berjanji harus menjaga mereka meskipun harus bertaruh nyawa.


Ia mencium kening Labib yang tertidur pulas dalam pelukan bundanya kemudian menggendong Laila ke kamarnya. Meskipun berat badan Laila tergolong proporsional tapi Lukman yang bertubuh kekar dan atletis bisa mengangkat nya dengan mudah dan ringan.


Lukman menurunkan istrinya perlahan-lahan kemudian mencium keningnya dan ikut berbaring di sampingnya. Ditutupinya tubuh sang istri yang kini memunggunginya dengan selimut yang sama dengannya.


Lukman memeluk tubuh molek istrinya dan menaruh dagunya diatas kepala Laila. Ia pun mencium rambut sang istri lama sekali.


"Aku rindu kamu..... Aku rindu kamu merajuk padaku, aku rindu kamu merengek padaku, aku rindu ketika kamu marah-marah, aku rindu saat kamu posesif padaku, aku rindu saat kamu cemburu" Suara Lukman terdengar serak khas seperti orang menangis.


"Aku akan mengatakan I love you setiap hari kalau kau menginginkannya" Kata nya.


"Sayang... apa kau tak merindukan aku? Apa rinduku hanya bertepuk sebelah tangan?" Lukman tahu kalau istrinya sudah bangun saat ia mengendong nya tadi tapi tak serta merta mengatakannya.


Laila yang tadi memang berpura-pura tidur mulai membuka matanya perlahan. Tadi saat Lukman berbincang dengan bang Alif dia mendengarkannya di balik dinding. Dan saat bang Alif pulang ia pun kembali ke kamar putranya dan pura-pura tidur pulas di sana.


"Kalau aku yang memintanya itu artinya mas tidak mencintaiku. Mas cuma terpaksa mengatakannya" Akhirnya Laila membuka suara karena sebenarnya ia juga sangat merindukan suaminya.


" Aku mencintaimu sayang, sebagai seorang wanita, sebagai istri sebagai ibu dari anak-anakku. Maaf kalau selama ini aku jarang mengatakannya. Aku pikir tindakanku sudah bisa berbicara tentang semua yang ada dalam hatiku kalau aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku"

__ADS_1


Laila kemudian membalikkan badannya dan mendapati pria yang menjadi ayah dari anak-anak nya itu matanya basah. Ia pun mengusapnya belum berani menatap mata elang milik Lukman.


Karena melihat sang istri seperti masih ragu setelah mendengar pernyataan cintanya dia pun berkata lagi, "Sayang bukankah aku sering mengatakan saat di masjid di awal pertemuan kita aku sudah membayangkan memiliki dirimu dan akan membungkus tubuhmu agar tak ada orang lain yang melihatnya. Hanya aku seorang yang boleh melihat juga menikmatinya"


"Itu bukan cinta mas, itu nafsu namanya"


"Cinta kepada istri itu harus berbalut nafsu sayang. Kalau tidak ada nafsu bagaimana bisa aku bisa memasukimu? Latif dan Labib juga tidak akan hadir ke dunia ini kalau aku tidak bernafsu padamu sayang. Lagipula sampai aku berumur puluhan tahun aku sudah sering melihat yang semok bin bahenol tapi aku tak menginginkan mereka menjadi milik mas. Kalau reaksi tegang ya biasa tapi aku tak menginginkan mereka jadi istriku. Aku ini lelaki normal yang mudah tergoda di mana saja hanya saja aku tahu hanya istriku tempat menuangkan segalanya. Menumpahkan apa yang seharusnya pada orang yang aku cinta. Sampai sekarang aku hanya ingin kamu yang jadi istriku saat ini dan sampai nanti sampai kita dibangkitkan kembali" Kata Lukman panjang lebar seperti dulu saat bersama istrinya ia akan berubah menjadi sosok yang bawel dan banyak omong. Berbeda ketika dia bersama orang lain dia akan pelit bicara, hanya seperlunya saja bahkan terkesan angker dan sulit diajak bersosialisasi.


"Gombal" Kata Laila menyembunyikan dalam hatinya kalau ia sebenarnya bahagia mendengarnya. " Lalu kenapa setelah akad nikah mas malah seperti menghindariku, terlihat sekali kalau mas terpaksa menikahiku hanya untuk menolongku. Iya kan? Makanya aku dulu yang harus memintanya" Kata Laila mulai merasa kesal lagi saat ingat malam pertamanya.


"Iya aku memang menghindarimu karena takut akan langsung menerkammu. Aku ingin melakukannya setelah pernikahan kita sah di mata negara. Bukan karena tak menyukaimu. Ingat kan kenapa pak RT dulu tidak memberi izin pada kita untuk nikah sirri karena takut pihak suami akan menelantarkan pihak istri"


"aku tidak tahu apakah mas bohong atau tidak tapi aku akan mempercayainya kali ini" Kata Laila sambil meraba wajah suaminya yang mulai berjambang.


"Lalu bagaimana, apa mas sudah bertemu dengan calon istri yang sesuai kriteria dan membuat mas jatuh cinta?"


Lukman menghela nafasnya dan tangannya berhenti memainkan rambut sang istri. Ia kesal karena istrinya mendorongnya untuk mencari wanita lain seperti tidak ada cinta dan cemburu pada dirinya.


"Kenapa menyuruh ku untuk mencari istri kedua. Apa sudah tak sayang lagi padaku? Kenapa sama sekali tidak cemburu?" Tanya Lukman membalikkan keadaan.


"Bukan begitu mas. Kenapa mas tidak mengerti juga. Seperti yang dikatakan bang Alif tadi, kalau wanita merajuk itu artinya dia minta dibujuk" Laila menutup mulutnya saat ia sadar kalau keceplosan dan mengungkapkan alibinya sendiri kalau sedari tadi dia belum tidur dan hanya bersandiwara saja.

__ADS_1


"Lalu kenapa berpura-pura tidur di kamar anak-anak lagi?"Lukman tersenyum mendapati istrinya mengakui sandiwara nya sendiri.


"Ihs.... aku berharap mas mau membujukku. Seperti yang dikatakan bang Alif tadi"


"Bang Alif bang Alif lagi. Kenapa dulu tidak menikah sama abang Alif saja?" Lukman mulai sewot mendengar nama abangnya berulang kali disebut istrinya.


"Ugh.... mulutnya. Aku cuma ngefans aja sama bang Alif bukan cinta. Aku nggak pernah berfikir ingin punya suami kayak bang Alif. Aku itu maunya sama kamu mas. Ihh nggak ngerti-ngerti juga sih?" Desis Laila sebal.


"Kamu cinta sama aku?" Lukman menurunkan nada suaranya.


"Ya tentu saja. Kalau nggak ngapain juga mau dikawinin. Nggak jelas banget sih kamu mas"


" Kalau cinta sama aku kenapa menyuruhku untuk menikah lagi. Harusnya kalau orang cinta itu kan cemburu. Kenapa kamu nggak cemburu sama sekali? Kenapa menyuruhku mencari istri lagi?"


"Mas.... kan tadi sudah dibilangin sama..... " Laila mau bilang bang Alif lagi tapi takut melukai hati sang suami. "Intinya aku mau kamu membujukku dan mengatakan padaku kalau cuma aku yang ada di hati kamu. Bukan malah mengiyakan" Kata Laila sebal sambil berbalik memunggungi si suami.


"Maaf..... aku ini memang menyebalkan!" Kata Lukman.


"Jangan nangis lagi!" Laila berbalik melihat suaminya untuk memastikan kalau si suami tak menangis lagi.


"Apa sekarang aku jadi pria menyedihkan yang cengeng dan tak punya harga diri?" Tanya Lukman karena baru saja menangis didepan istrinya.

__ADS_1


"Enggak mas... kamu itu pria idamanku. Bahkan aku merasa terharu. suamiku menangis karena aku. Bukankah itu artinya aku sangat berharga di hatimu?" Laila mencium suaminya sambil menutup mata.


Malam itu entah siapa dulu yang mulai sampai dini hari mereka baru terkapar tak berdaya menghabiskan seluruh energinya dengan olahraga malam yang penuh cinta dan gelora. Mengulangi malam pertama mereka dengan peluh yang membasahi kulit dan kata-kata cinta penuh puja.


__ADS_2