Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
penasaran


__ADS_3

Laila tidur disamping si kecil Labib sambil memeluknya. Ia berniat keluar tapi badannya terasa lemas sehingga dia memutuskan untuk tidur sekejap bersama buah hatinya berharap ketika bangun nanti badannya segar kembali.


Laila tidak yakin apakah sekarang dia sedang hamil atau tidak karena beberapa kali hamil tanda yang pasti adalah mual muntah di pagi hari. Tapi kali ini dia tidak merasakan hal itu hanya badannya terasa lemas dan bawaannya ingin makan saja. Juga haidnya sudah terlambat dua minggu lebih karena itu ia semakin penasaran dan ingin memeriksakan diri.


Begitu bangun dari tidur siangnya, Labib sudah tidak berada di sampingnya lagi dan ia mendengar suara keriuhan di ruang tamu. Dari suaranya ia bisa menebak itu suara Ani dan Karina. Pasti mereka datang karena rindu dengan ayah mertuanya yang baru datang.


Ia memakai jilbab bergo yang tadi dia lepas sebelum tidur. Memakainya, barangkali ada suami kedua adik iparnya ada di depan. Dengan muka bantalnya ia menuju ke ruang tamu hendak menyapa keluarga yang selalu menyayanginya.


"Kebangun ya kak?" Ani yang menurut perkiraan akan segera melahirkan tak beranjak dari duduknya karena perutnya yang besar pasti mengganjal ruang geraknya.


"Kita bikin kaget ya bude? Salim sama bude nak!" Rina menjabat tangan Laila dan mencium tangan kakak iparnya kemudian diikuti oleh sikembar, putra putrinya. Alya dan Ali. Laila kemudian menjabat tangan Ani juga.


"Lemes banget kak?" tanya Rina penuh perhatian.


"Iya bangun-bangun laper banget yak?"


"Adek udah bangun dari tadi?" Labib menaruh kepalanya di atas pangkuan bundanya. " laper nggak. Mam yuk!" Katanya.


"Makan yuk! Tadi ibu masak gudeg, Enak banget. "


"Telat. Kita udah makan daritadi. Udah kita habisin semuanya."


"Udah lama berarti?" Laila mengernyitkan keningnya.


"Ya cukupan lah. Sudah makan sudah solat disini"


"Ya Alloh kok aku nggak denger apa-apa ya? Ngebo dong aku?"


"Ahahaha...."


"Ngebo itu apa bun?" Tanya Labib.

__ADS_1


"Ngebo itu..... apa ya?. Gimana ya jelasinnya?" Kata Laila sambil memandang Rina dan Ani.


"Ngebo itu istilah buat orang yang tidur saking nyenyaknya sampai nggak bisa dengar apa-apa dek" Ani, adik iparnya yang berprofesi sebagai dokter itu menjelaskan pada putranya.


"Kalian nginep nggak?" Tanya Laila sambil melihat Ani dan Rina.


"Aku nginep. Tuh yang nggak nginep. Suaminya nggak bisa tidur kalau nggak di puk-puk" Kata Rina menunjuk Ani dengan dagunya.


"Pakde Zainal kayak Labib ya ma? Kalau mau tidur harus di puk-puk dulu?" Aliyah yang sedang tiduran tengkurap sambil main hape menoleh ke arah Rina.


Labib menganggukkan kepala membenarkan kata-kata sepupunya.


"Kamu tuh!" Ani menatap Rina dengan kesal.


"Manja!" Sela Ali yang sedang bermain gadet juga.


"Itu bukan manja itu sayang! Its different way!" Latif yang baru muncul dari dalam bersedekap sambil bersandar di pojokan.


"Kasihan eyang uti sendirian di rumah.... Kalau pak de Zainal mah pintar! Nggak suka menangis, baik hati dan tidak sombong!" Ani bingung sendiri dengan apa yang ia ucapkan. Ia hanya ingin para keponakan tak ada yang membicarakan suaminya lagi.


"Ayo siap-siap solat ashar dulu! Siapa yang mau mandi duluan biar bisa bareng ke masjid sama Akung ?" Bu Jannah berdiri di ambang pintu ruang tengah sambil memandangi cucu-cucunya.


"Akung sudah mandi lho...!" Pak Dirman muncul dengan memakai baju koko sarung dan kopyah hitamnya. Tampak rapi dan segar. Sudah siap untuk menjalankan solat ashar.


Ali, Aliyah, dan Labib berebut ingin mandi duluan kecuali Latif.


"Bun aku mandi di kamar mandi bunda boleh nggak?" Latif memandang bundanya dengan sorot penuh permintaan.


"Kamar mandi luar aja bang!. Kamar mandi bunda tadi kotor." Kata Laila kemudian berdehem karena kedua adik iparnya langsung mencibir begitu mendengar penjelasannya.


"Bisa telat jamaahnya bun..." Ujar Latif sedikit emosi.

__ADS_1


"Pake kamar mandu akung aja ya! Biar antrinya nggak lama-lama!" Bu Jannah memegang punggung Latif dan mengajak masuk ke kamarnya.


"Aliyah ke rumah pak de Alif aja. Mandi disana nak! Ada Kak Maryam disana!" Kata Rina pada putrinya yang disambut dengan semangat oleh si gadis kecil.


Laila kemudian pergi makan karena perutnya keroncongan sedangkan Ani tiduran di sofa ruang tamu sambil berbincang dengan pak Dirman. Rina mengawasi anak-anak yang sedang mandi agar bisa benar-benar suci badan dan pakaian nya sebelum mereka pergi ke masjid.


Selepas solat Ashar anak-anak tidak langsung pulang. Mereka mengaji pada bang Alif dan kak Mia juga. Laila sudah berpamitan kepada kedua putranya kalau mau keluar dan mungkin pulang agak malam. Dia juga sudah menitipkan anak-anak pada Ani yang rencananya akan pulang malam hari nanti. Ia juga sudah minta tolong pada Bu Jannah, menitipkan mereka dan minta maaf karena selalu merepotkan.


Laila akhirnya pergi ditemani Karina dan tempat pertama yang dituju adalah toko yang sedang direnovasi. Tempatnya sangat strategis berada di pertigaan jalan menuju kota. Hanya saja bangunannya sudah lama tak ditempati sehingga nampak kumuh dan terkesan mistis. Sedikit angker saat dibelinya dulu tapi Bang Alif yang meyakinkannya untuk membeli tempat itu dan akan membersihkannya terlebih dahulu. Tidak tahu bagaimana maksudnya tapi dua percaya saja pada abang iparnya.


"Waow...amazing kak. Belum jadi aja udah oke begini. Gimana nanti. Aku jadi nggak sabar nih pingin tahu hasil akhirnya. Ini arsitek nya kenalan bang Alif?" Tanya Rina saat baru turun dari mobil dan memandang dari arah luar.


"Aku juga baru lihat ini. Aduh, bagus begini pasti budgetnya membengkak ini. Kak Mia sama bang Alif kok nggak bilang-bilang kalau bakalan jadi indah begini"


"Selamat sore bu!" Seorang bapak-bapak yang bertubuh tambun menengadahkan tangan meminta untuk berjabat tangan. Laila hanya menganggukkan kepala dan Rina yang menerima jabatan tangannya.


"Saya Pak Joko bu, mandor di sini"


"Saya Laila. Ini Karina adik ipar saya"


"Iya, tadi pak ustadz sudah memberitahu kami kalau ibu mau berkunjung kesini jadi saya tidak pulang dulu"


Laila melihat jam di hapenya yang ternyata menunjukkan pukul empat lebih lima menit.


"Wah... iya sudah waktunya pulang ya pak. Maaf ya pak tapi kami ingin lihat-lihat kedalam sebentar saja. Nggak papa ya pak?"


"Iya silahkan bu! Anak-anak biar saya pulang dulu"


Akhirnya Karina dan Laila masuk ke dalam rumah yang baru direnovasi dengan penuh decak kagum. Benar-benar selera abangnya yang sudah melanglang buana di dunia perdagangan tak diragukan lagi. Tapi Laila berkali-kali menggigit bibirnya takut kalau seandainya biayanya tiba-tiba membengkak tak terkendali.


Setelah berterimakasih pada pak mandor kemudian tujuan Laila selanjutnya adalah ke rumah sakit Citra Medika. Ia menyempatkan diri untuk membeli buah-buahan selain menyiapkan amplop sekedarnya untuk keluarga bu Mimin yang rutin mengambil jahitan padanya.

__ADS_1


Begitu sampai di lobi, Karina berniat untuk berkeliling di area rumah sakit terlebih dahulu. Maklum sebagai istri pewaris rumah sakit di daerah yang sama ia ingin membandingkan rumah sakit milik keluarga suaminya dengan setiap rumah sakit yang ia kunjungi. Tujuannya tentu untuk berbenah dan memperbaiki kualitas pelayanan kepada pasien maupun keluarga yang sedang menunggui.


Hal ini disambut baik oleh Laila


__ADS_2