Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Salahkah?


__ADS_3

Hari ini Lukman pergi ke swalayan milik adik iparnya Zainal untuk melihat sayur dan buah-buahan yang ada di sana. Ingin melihat bagaimana penataannya juga kualitas yang dikirim para pekerjanya.


Itu juga atas permintaan Zainal yang ingin berdiskusi dengannya karena ada kenalan dari luar kota yang juga ingin bekerja sama dengannya agar bisa mensuply sayuran dan buah-buahan.


Lukman menghela nafas karena di swalayan milik adik iparnya ini banyak sekali kenangan yang terjadi antara dirinya dengan Laila. Lukman juga melihat stand yang pernah disewanya untuk berjualan aksesoris tapi ternyata jodoh pekerjaan bukan sebagai pedagang melainkan sebagai petani.


Ia menatap tangga dan tersenyum karena untuk pertama kalinya Laila cemburu saat dia menolong seorang gadis yang hampir terjatuh. Ia ingat betul saat itu Laila berjalan dengan cepat meninggalkannya. Lukman tersenyum seolah-olah melihat Laila di masa lalunya. Dengan memakai kemeja kerja dan celana bahannya yang tak bisa menyembunyikan keindahan tubuhnya. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda bergerak kekanan dan kekiri seiring langkah kakinya. Dari belakang saja tampak seperti seorang model yang sedang bergerak di atas panggung apalagi dari arah depan.


"Kenapa bang?"


"Eh.... nggak papa. Kok kamu disini?"


"Kok disini? Maksudnya aku nggak boleh disini gitu?"


"Ngapain disini? Mana anak-anak?" Tanya Lukman pada adiknya Karina.


"Main sama papinya di atas"


"Jangan kelayapan terus!"


"Astaghfirullahaladzim.... Aku pergi sama suamiku ya bang. Kenapa jadi kelayapan?" Rina memukul abangnya karena jengkel. Sudah lama tak ketemu yang keluar dari mulutnya malah kayak bon cabe. Pedas dan menjengkelkan.

__ADS_1


"Bang?" Tiba-tiba adiknya yang lain sudah ada di sebelahnya.


"Kamu juga disini?" Lukman menyalami adiknya Ani yang kini berbadan dua.


"Iya. Abang udah ketemu sama mas Zein?" Tanya istri pemilik swalayan.


"Belum. Aku datang lebih cepat. Mau lihat-lihat. Hah.... tempat ini banyak kenangannya ternyata"


"Kak Lala nggak diajak bang?" Tanya Ani.


"Nggak, ngapain? Dia sibuk ngurusin anak-anak sama jahitannya juga"


"Masalah apa sih? Nggak ada apa-apa kita baik-baik saja" Sanggah Lukman kurang nyaman dengan obrolan yang dilontarkan adik-adiknya.


"Sudah lama bang?" Tiba-tiba si pemilik swalayan sudah berada di samping istrinya kemudian menyalami abang iparnya.


"Lumayan..." Jawab Lukman.


"Belum datang orangnya nda?" Tanya Ani pada suaminya dengan tatapan penuh cinta.


"Mau sampai katanya" Zainal membenarkan jilbab sang istri yang kurang rapi. Lukman memperhatikan Zainal yang kini jadi lebih dewasa dari umurnya. Perawakannya tinggi tegap sangat serasi dengan Ani yang juga tinggi. Wajahnya berseri-seri dengan bulu-bulu yang menutupi hampir semua wajahnya. Tampak manly sekali.

__ADS_1


"Aku ke toilet sebentar ya!" Kata Ani sambil memegang pinggangnya sambil berjalan agak cepat.


"Pelan-pelan jalannya din...! Aku anter!" Zainal dengan sigap menggenggam tangan sang istri dan mengantarnya ke toilet. Tipe-tipe suami siaga dan sayang istri.


Lukman rindu seperti itu. Bermesraan dengan sang istrinya seperti dulu lagi. Ia menghela nafasnya dengan berat.


"Kenapa sih bang?" Tanya Rina yang masih ada disitu?


"Gimana kabar si kembar?" Lukman balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan adiknya.


"Mereka baik. Latif sama Labib baik-baik juga kan?"


"Baik. Mereka baik" Jawab Lukman sambil mengedarkan pandangan ke segala arah.


Lukman berada di sana sampai malam dan sehabis isyak barulah dia pulang. Ingatannya bertebaran di kepala ketika melihat jalanan yang pernah mereka lalui bersama.


"Lela.... Aku rindu padamu...." Desahnya dalam keremangan malam.


Dari jarak yang tak jauh dia seperti melihat duplikat Laila berlari di daerah yang tak jauh dari swalayan Zainal. Ia yakin jika gadis itulah yang ia cari-cari selama beberapa hari ini.


'Apa ini pertanda takdir kalau kami berjodoh?' Dia bertanya di dalam hati untuk memantapkan jiwanya jika yang dia lakukan ini tidaklah salah.

__ADS_1


__ADS_2