Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Tolong


__ADS_3

Dokter di IGD itu melepas stetoskop dari lubang telinganya dan mengalungkannya di leher kemudian duduk di kursinya. Setelah membaca rekam medis yang ada di hadapannya dokter wanita berusia baya itu matanya menatap tajam padanya.


"Dehidrasi, tekanan darah rendah, mal nutrisi" Jelasnya tak melepaskan pandangan matanya dari Lukman.


"Seharusnya sebagai suami anda harus memperhatikan istri. Perhatikan asupan gizinya, istirahat nya. Jangan sampai stres istri anda stres, itu akan mempengaruhi kesehatan ibu dan janin"


Lukman masih diam saja karena bingung dengan perkataan dokter yang menyudutkannya. Apa tadi dia bilang, suami? suami darimane? Ente kadang kadang ente!🤭


Wanita seusianya yang memakai jas berwarna putih itu menampakkan wajah keruh karena Lukman sepertinya belum paham dengan kondisi wanita hamil yang kini berbaring di atas bed di ruang pemeriksaan.


"Usia kehamilan istri anda 8 minggu. Jangan bilang kalau bapak tidak tahu kalau istri bapak sedang hamil"


"Ha?" Lukman menelan ludah sambil menatap dokter dengan tatapan tidak percaya.


Hamil?


Septi hamil?


Dengan siapa?


Aku bahkan tak pernah menyentuhnya


Lalu ini anak siapa?


Lukman berpikir sambil mengerutkan kening mencari jawaban yang tak didapatnya.

__ADS_1


Tok tok tok


Bu dokter mengetukkan bolpen di mejanya karena Lukman tak bereaksi ketika dia mengajaknya berbicara karena pikiran Lukman sedang berlarian kemana-mana.


"Istri anda harus rawat inap karena menderita hiperemesis gravidarum. Mual muntahnya yang berlebihan. Ini yang menyebabkan ibu hamil mengalami pusing, lemas, dan dehidrasi. dan tidak ada asupan makanan yang bisa masuk ke dalam tubuh jadi harus di infus."


Hipremesis gravidarum dalah mual dan muntah saat hamil, yang bisa terjadi hingga lebih dari 3–4 kali sehari. Kondisi ini bisa sampai mengakibatkan hilang nafsu makan dan penurunan berat badan.


Tak ada satupun penjelasan dokter yang masuk ke telinganya karena dia bingung setelah ini bagaimana. Yuli yang daritadi pamit ke kamar mandi sampai saat ini juga belum kembali membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut merasakan nyeri.


Setelah mengurus administrasi dia pun kembali menemani Septi duduk di kursi di dekat ranjang Septi yang berada di ruangan kelas 3. Dia berada dalam ruangan bersama tiga orang lainnya yang sedang hamil dan menunggu persalinan.


Setelah itu barulah Yuli datang dan Lukman segera berdiri kemudian menyuruhnya duduk di tempatnya tadi.


"Merepotkan orang saja" Gerutu Yuli sambil menatap Septi yang sedang memejamkan mata.


"Nggak bisa mas, hari ini aku masuk siang. Biarkan saja dia disini sendirian. Banyak perawat juga yang bisa jagain." Yuli mendengus sebal.


Memangnya dia sakit apa sih mas?"


"Septi hamil" jawab Lukman dengan suara yang dikecilkan.


"Ha-hamil?" Mata Yuli melotot hampir saja keluar.


"Ssshhhtt! Pelankan suaramu!" Lukman menaruh jari telunjuk di bibirnya karena Yuli berkata nyaring sekali. Padahal ada orang lain di sekitar mereka yang pasti bisa mendengarkan obrolan mereka karena hanya dibatasi oleh tirai panjang antar pasien.

__ADS_1


Yuli menutup mulutnya kemudian menepuk-nepuk dadanya. Sambil memicingkan matan seolah sedang menguliti dirinya.


"Kenapa menatapku seperti itu. Bukan aku ayahnya!" Lukman tak kalah sengit menatap mata Yuli dengan suara pelan tapi seperti orang yang sedang mengancam.


"Tetap saja aku tak bisa. Aku harus kuliah. Hari ini aku ada wawancara dengan dosen kilerku." Katanya sambil memalingkan wajahnya.


Lukman mendesah pelan. Kalau harus minta Daniah yang menunggunya lalu siapa yang akan menangani administrasi.


Meminta tolong pada keluarganya jelas bukan solusi karena semua orang di rumah sudah mengetahuinya kalau dia baru saja bermain api. Bisa-bisa mereka mengira kalau dia yang menghamilinya.


Lukman berjalan keluar untuk menghirup udara sekitar. Di usianya yang terbilang matang Lukman masih saja berpikiran kulot dan kuno. Dari cara berpenampilan yang kini sudah berubah karena didandani sang istri sampai masalah di perkebuanan dan pertanian miliknya juga masih menerapkan sistem lama.


Lukman termasuk orang yang sulit mempercayai orang lain hanya saja dia punya rasa kemanusiaan yang tinggi. Sistem penerapan kerja di tempatnya masih amburadul dan belum tertata dengan baik sehingga dia lebih sering memikirkan semuanya sendiri.


Bang Alif sudah sering menyuruhnya untuk berbenah tapi Lukman masih saja berpatokan pada pemikirannya.


Kalau sekarang dia membiarkan Septi sendiri di rumah sakit dia kuatir gadis itu akan kabur karena malu dan mungkin akan berbahaya untuk janinnya.


Lukman mendesah lagi dengan lidah yang terasa asam. Inginnya merokok untuk menghilangkan kepenatan dan membuka otak di kepala yang terjalin seperti benang kusut.


Saat ia kembali Yuli sudah tidak ada di sana dan Septi sudah membuka matanya. Lukman diam beberapa saat untuk mencari kata-kata yang tepat agar Septi bisa membuka diri.


"Mas, tolong aku" Bibirnya terlihat kaku saat mengucapkannya. Belum lagi wajahnya yang masih tampak pucat membuat Lukman iba padanya. Itulah kelemahannya pada kaum yang tak berpunya. Meski wataknya keras tapi ia adalah pria yang tak tegaan.


"Apa?"

__ADS_1


"Jangan kemana-mana. Aku tak punya siapa-siapa. Aku hanya punya kamu mas. Cuma kamu yang masih menganggapku manusia"


"Siapa ayahnya?" Tanya Lukman pelan.


__ADS_2