
Septi yang masih lemah berusaha bangun dari tidurnya. Pelan-pelan ia berjalan sambil mendorong tiang infus menuju ke sofa yang ditempati Lukman, lelaki yang menjadi pujaan hatinya. Pria baik yang hadir dalam kehidupannya yang penuh drama.
Ia tak rela semua akan berakhir. Ia mau Lukman tetap berada disisinya. Tak menikahinya pun tak apa-apa. Tubuhnya sudah kotor berbalut lumpur tak mengapa jika Lukman meminta dengan senang hati ia akan menyerahkannya. Ia sudah berlumur dosa menambah lagi juga tak masalah. Yang penting Lukman tak meninggalkannya. Ia duduk di sofa single tepat di sebelah kepala Lukman yang menaruh kepalanya di lengan Sofa.
Tangan nya bergerak menyentuh ujung rambut pria yang sejak semalam tak bisa tidur dengan nyenyak. Siang kemarin ia sudah menceritakan kisah hidupnya pada Lukman dan lelaki gagah dengan kulit sawo matang itu mendengarkan ceritanya tanpa menyela. Meskipun ia menangis sesenggukan tapi ia menyentuhnya sama sekali. Menaruh kotak tisu di pangkuannya sambil berkata, Seiring waktu semuanya akan membaik dan berjalan dengan semestinya.
Ada sedikit rasa bersalah pada istrinya Lukman karena telah menahan suami orang agar tak pulang tapi kali ini ia betul-betul butuh sosok yang bisa menopang tubuhnya agar tak jatuh.
Ia sudah berpikir semalaman akan mempertahankan kandungannya untuk menahan Lukman agar tak meninggalkannya. Meskipun dia sama sekali tak mengharapkan anak itu tapi ia yakin kalau pria yang penyayang ini tidak akan meninggalkannya jika ia mempertahankan kandungannya.
Wajahnya manis. Rahangnya tegas dengan jambang tipis. Alis hitam dan bibir tebal. Ditambah perhatian yang dicurahkan padanya sungguh melenakan. Membuatnya merasa menjadi wanita yang istimewa.
Terbawa suasana Septi mendekatkan bibirnya ke kening Lukman.
Allohu akbar
Allohu akbar
__ADS_1
Tetapi suara adzan mengagetkan Lukman dari tidurnya. Matanya mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Septi pun langsung menarik kepalanya dengan detak jantung yang berkejaran di dada.
Lukman menoleh pada Septi kemudian segera duduk sambil menggelengkan kepala yang masih terasa sedikit pusing karena tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya saat berpelukan dengan istri tercinta
"Subuh mas!" Kata Septi mencoba menghilangkan kecanggungan.
"Hem!" Katanya sambil berdiri dan berjalan keluar. Melewati pintu barulah lukman menggeliat. Itu terlihat dari jendela tinggi dari tempat duduk Septi karena tingginya Lukman diatas rata-rata.
Ingin rasanya menjangkau Lukman dan memeluknya tapi entah kenapa sekarang Lukman seperti membentangkan jarak yang tak kasat mata. Membangun tembok tinggi diantara mereka berdua. Padahal sebelum tahu dirinya hamil sikap Lukman sangat manis padanya. Meskipun selalu menjaga jarak agar tidak sampai bersentuhan tapi Lukman lebih cair dan manis dulunya.
Ingin rasanya berada di dekatnya mendapat kasih sayang juga bimbingan agama dari pria yang kini dingin seperti es itu. Sejak kecil ia tak mengenal agama sama sekali. Sekedar mengaji di TPQ saja tidak pernah apalagi belajar tentang yang lainnya. Pendidikan agama yang dasar ia dapatkan dari sekolah tapi hanya sekedar numpang lewat saja. Yang masih berbekas dalam ingatannya adalah saat sujud dia selalu menemukan kedamaian dan terkadang ia ingin mengulanginya lagi tapi selalu merasa dosanya sudah terlalu banyak dan tempat kembalinya hanya di neraka.
Ponsel Lukman berbunyi terus menerus membuyarkan lamunan Septi. Pertama dia hanya melihat saja ada panggilan dari Supri. Panggilan pertama dan kedua sampai selesai hanya dibiarkan begitu saja. Panggilan yang ketiga dengan nama my angel membuatnya ingin mengangkatnya. Ia menggigit bibir bawahnya. Penasaran ingin mendengar suara wanita yang sudah menaklukkan hati pria yang disukainya.
Dengan gemetaran ia menggeser gambar berwarna hijau kemudian mendekatkan ke telinganya.
"Assalamualaikum mas.... "
__ADS_1
Septi diam saja sambil menutup mulutnya mendengar suara Laila yang terdengar merdu di telinganya.
"Assalamualaikum sayangku...
Yah.... ayahnya Latif dan Labib...
Mas.... sudah bangun kan? Sudah subuhan belum?
Mas....!! Halo...! Mas posisinya sekarang ada dimana? Dicariin sama pak Supri sama pak Mukhtar lho
Mas...!" Laila terus saja berbicara sendiri karena tak mendapat jawaban sama sekali.
"Ma-ma-maaf. I-ini saya. Mas Lukman sedang solat"
Beberapa detik keadaan menjadi hening karena Laila kaget mendengar suara perempuan yang menjawab telponnya.
"Ini siapa?" Tanya Laila.
__ADS_1
"Sa-saya..." Septi menghentikan ucapannya sendiri begitu menyadari kalau Lukman sudah di ambang pintu. Buru-buru ia menggeser gambar warna merah dan segera meletakkan ponsel itu di meja.