
Laila menyisihkan rambut Lukman yang menutupi sebagian keningnya. Ia masih belum dibertahu jika suaminya sudah keluar dari masa kritis dan kemarin sudah siuman.
"Rambut abang sudah panjang.... Jambangnya juga sudah panjang... Pingin deh abang jenggotan kayak Pak Zein. Tambah ganteng nggak ya?" Laila tersenyum sambil mengusap jambang Lukman yang sudah tumbuh tak beraturan.
Lukman yang sudah bangun sejak istrinya masuk ke dalam ruangan merasa cemburu karena Laila menyebut Zainal di depannya.
"Lekas bangun.... nanti aku cukurin.... aku mandiin juga. Badan abang pasti lengket semua kan? kalau cuma di seka aja pasti kan nggak enak?"
Pria yang masih berbaring dan berpura-pura belum bangun itu merasa bahagia karena istrinya ternyata sangat merindukan dirinya.
"Adek tadi ngerengek pingin ikut ke sini bang, dia kangen pingin ketemu ayahnya. Kalau abang Latif memang nggak pernah ngomong kangen tapi dia selalu tanya keadaan abang. Dia pasti kangen juga sama ayahnya cuma nggak mau ngomong aja"
"Sekarang aku nggak pernah ngapa-ngapain di rumah. Karina bawa mbak buat bantu-bantu kerjaan rumah. Katanya aku harus istirahat total biar kondisiku cepat pulih dan rahimku kembali ke tempat semula"
Laila sibuk bercerita sambil memijit lengan juga kakinya Lukman. Ia menoleh keluar karena mendengar suara ribut-ribut. Awalnya dia tak menghiraukan dan tetap melanjutkan memijat sang suami tapi suara gaduh itu kembali muncul. Suara seorang wanita yang terdengar memohon-mohon dan menyayat gendang telinganya membuat kasihan setiap orang yang mendengarnya.
"Bentar ya bang....!" Katanya sambil beranjak berdiri.
__ADS_1
Di luar ruangan ada seorang wanita sedang dipegangi kedua tangannya oleh dua orang pria karena dia terus berusaha untuk memberontak. Sampai Rina datang dengan muka tak bersahabat. Ia melipat kedua tangannya dan menatap wanita hamil yang bernama Septi dengan tatapan sengitnya.
"Mau coba-coba denganku?" Wanita mungil itu mendengus sebal kemudian tersenyum menyeringai.
"Aku bisa menyuruh mereka menemanimu saat malam tiba kalau kau tetap tak mau patuh. Bergiliran kalau perlu!"
Rina menelan ludah sambil beristighfar dalam hatinya.
Nauzubillah min dzalik
Nauzubillah min dzalik
"Aku juga bisa menguliti manusia, memindahkan isi kepala ke kakinya, atau sebaliknya."
Septi langsung menunduk dan menurut ketika tangannya diseret oleh dua orang pria berbadan kekar menjauh dari tempat itu.
"Siapa wanita tadi?" Tanya Laila pada Karina yang melihat sebagian adegan tadi.
__ADS_1
"Orang nggak waras!" Jawab Rina sambil meninggalkan tempat itu dan berjalan masuk ke ruangan Lukman.
"Itu buat abangmu?" Laila melihat Rina menaruh piring berisi bubur diatas meja.
"Nggak.... ini buat kakak. Dia nanti ada dari rumah sakit sendiri. Ngapain repot-repot?"
"Rinnn.... suamiku itu abang kamu loh!"
"Emang gue pikirin... Udah deh ah. Ini orang mau dipindahin ke ruang perawatan kak. Sudah melewati masa kritis tapi juga butuh waktu lama untuk pulih"
"A-abang sudah siuma..n?" Laila tergagap mendengar perkataan Karina.
"Hem..."
"Abang sudah sembuh?" Air matanya sudah menumpuk di sudut mata. Ia tak menyangka akhirnya Lukman sudah siuman. Laila yang sudah merelakan apapun yang akan terjadi kini mulai berharap kembali.
Bergegas ia ke berjalan ke toilet dan berwudlu di sana. Mencari selimut tebal dan menggelarnya di tempat yang kering kemudian segera sujud syukur. Mengucap tasbih, tahmid dan takbir di sela-sela tangisnya dalam waktu yang cukup lama
__ADS_1