Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Laila


__ADS_3

Sejak pagi Laila merasa perutnya sedikit nyeri tapi ia tak menghiraukannya. Ia tetap bekerja seperti biasa. Untungnya urusan dapur sudah ditangani ibu mertua sehingga dia hanya membantu sedikit-sedikit saja. Bu Jannah sebetulnya sudah melarang Laila karena tahu kalau si menantu sedang hamil tapi Laila ingin semuanya berjalan normal sehingga tak ada yang curiga kalau dirinya sedang mengandung lagi.


Tapi semakin siang perutnya semakin melilit dan ada bercak darah dalam ce lana da lamnya. Berkali-kali ia mendesis menahan rasa sakit sampai ia tak kuat lagi menahannya.


Ba'da Ashar ia segera meminta pada Bu Jannah untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Ia memilih Citra Medika sebagai tujuan agar keluarganya tak mengetahui jika terjadi apa-apa. Perasaannya tidak enak tapi dia berusaha menenangkan diri sendiri semoga janin di dalam perutnya bisa bertahan tidak sampai keguguran seperti yang sudah-sudah.


Labib dan Labib dititipkan pada ayah mertua untuk sementara karena bang Alif dan kak Mia masih mengajar mengaji di masjid. Laila sudah mengirim pesan untuk menitipkan anak-anaknya pada kak Mia.


Mau mengantar ibu periksa kak


Begitu pesannya.


"Nitih grab mawon nggeh buk!"(Naik grab saja ya bu) Kata Laila pada Bu Jannah.


"Pean gak popo ta nduk?. Koyok pucet ngunu?" (Kamu nggak papa? Wajahmu pucat begitu)


"Mboten nopo-nopo buk.... cumak geger kulo kaku" (Nggak papa bu cuma punggung sayang rasanya kaku)


Begitu mobil pesanan Laila datang ia segera duduk di belakang dengan membawa tas besar yang berisi baju ganti, juga pemba lut sebagai antisipasi.


Bu Jannah memijit punggung Laila yang berkali-kali mendesis menahan nyeri. Si sopir ikut panik karena takut terjadi apa-apa di dalam mobilnya. Ia pun mencoba mengebut agar bisa segera sampai di rumah sakit sebagai titik tujuan Laila.


"Mas mu wis ngerti?"( Mas mu sudah tahu) Tanya bu Jannah lagi.


Laila menggeleng dengan raut muka sedih," dereng bu"


Begitu sampai di rumah sakit Bu Jannah membawa Laila untuk duduk di depan poli kandungan yang tidak terlalu banyak antriannya. Wanita yang sudah berumur itu mengurus semuanya dengan perasaan cemas.

__ADS_1


Laila duduk di pojokan sambil bertumpu pada tas yang di bawa. Menaruh kepala di atasnya. Menahan rasa sakit sambil menyebut Alloh Alloh berulang kali. Air matanya mengalir deras. Ingin rasanya menelpon suaminya tapi enggan itu memenuhi hatinya.


Laila mengusap air mata sambil mengangkat kepalanya berusaha menahan rasa sakit di perut juga di dalam dadanya. Matanya memindai sosok yang saat ini diharapkan ada di sampingnya. Menenangkannya, mengusap punggungnya dan mendampinginya.


Laila melihat Lukman sedang berjalan bersisian dengan seorang wanita yang lebih muda darinya. Wanita yang terlihat sudah menonjol perutnya. Jelas kalau mereka baru saja memeriksakan kandungan dari buku yang dibawa oleh wanita itu dan suaminya membawa obat-obatan di kantong yang berlebel rumah sakit. Mereka berjalan keluar ke arah pintu rumah sakit dan menurut Laila mereka seperti sepasang suami istri. Meski tidak ada interaksi pegangan tangan tapi Laila merasa kecemburuan yang luar biasa.


Laila melihatnya tanpa berkedip, seolah takut kehilangan momen yang membuat seluruh tubuhnya jadi tak bertenaga. Dengan seribu jarum yang menusuk ulu hatinya.


Lukman tiba-tiba menoleh karena merasa seperti ada yang sedang mengawasi. Mata mereka bertabrakan dan membuat keduanya saling diam. Laila menelan ludah sambil memukul dadanya yang terasa sesak. Ia merasa kepalanya berdenyut nyeri seperti tertimpa batu besar di atasnya menghujam hingga ke jantung sampai pangkal pahanya. Pandangan matanya menjadi gelap dan dia tak ingat apa-apa lagi setelah itu..


.


.


.


"Sayang.... kamu sudah bangun?"


Deg


Suara itu seperti menghempaskan tubuhnya dari ketinggian dan membuatnya jatuh terjungkal ke dalam jurang. Laila merasa ada tangan hangat yang sedang menggenggam tangannya. Tanpa membuka mata ia tahu itu tangan milik suaminya. Tangan besar dan kekar yang dulu hanya untuknya tapi kini dia sudah membaginya dengan perempuan lain.


Dengan sisa tenaga yang ia punya, Laila menarik tangannya tak sudi memegangnya kembali. Tapi tangannya yang lain terasa nyeri karena sudah ada infus yang menancap di tangannya.


"Yank...." Lukman mencoba memegang tangan Laila kembali tapi wanita itu kembali menarik tangannya lagi.


"Jangan sentuh aku!!!" Kata Laila sambil berusaha mengusap mata yang mulai berair.

__ADS_1


"Yank...." Lukman.


"Nduk....." Bu Jannah yang sedari tadi duduk tak jauh dari mereka merasa sudah waktunya ikut campur.


"Bu.......!!!!!!!" Laila langsung membuka matanya dan mencoba memeluk ibu mertuanya yang sudah berada di dekat pembaringannya. Dengan sabar sang ibu memeluk sang menantu dengan menelungkupkan sebagian tubuhnya karena Laila masih berbaring lemah.


"Sabar ya nduk!!" Bu Jannah


" Bu....." Ia menggelengkan kepalanya tak mau hal yang ada dalam pikirannya menjadi nyata.


"Nggak.... jangan katakan apa-apa bu.... Nggak.... anakku baik-baik saja. Dia anak yang pintar, dia tidak pernah menyusahkanku selama ini....." Laila memegang perutnya dengan ketakutan. Kepalanya menggeleng berkali-kali. Air matanya sudah menganak sungai tak bisa terbendung lagi.


Tubuh bagian bawahnya memang seperti mati rasa karena efek tindakan dokter untuk membersihkan rahimnya.


Dia berusaha bangun meski tubuhnya tak punya kekuatan sama sekali. Lukman dengan sigap membantunya tapi Laila semakin histeris menolaknya.


"Jangan sentuh aku!! Kembalikan anakku Kembalikan anakku!!! Hwaaaaa..... Ibu...... Mana anakku mana anakku....!" Laila berteriak sambil mengguncang tubuh bu Jannah.


"Keluar kau bang!!" Rina terlihat masuk ke kamar menggunakan baju warna biru dengan menatap tajam pada abangnya yang tak punya kekuatan untuk membantahnya.


"Rin.... suruh dia pergi! Aku tidak mau melihatnya lagi!" Laila melihat adik iparnya dengan penuh harap.


"Iya.... dia sudah pergi! Kakak tenang ya!" Kini Rina mengambil alih tubuh kakak iparnya. Menenggelamkannya dalam dadanya membiarkan Laila menangis dan membasahi bajunya.


"Jangan ambil anakku..... Kembalikan dia padaku.... Dia anak yang pintar..... dia tidak pernah menyusahkanku...... " Laila mengulangi kata-katanya tadi.


"Aku mau anakku..,... aku mau anakku..... Aku mau ikut dengannya saja... Aku sudah capek hidup di dunia.... Aku ingin bersama dia.... Dia sekarang pasti sendirian Riinnn ... Aku mau menggendongnya.... dia pasti mencariku.... Aku ini bundanya.... Latif dan Labib pasti seneng punya adik lagi.... Bawa aku kesana ya.... ya !!" Ia memandang Rina penuh harap dengan mata sembab nya yang masih mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Rina hanya menganggukkan kepala kemudian memeluknya kembali. Membiarkan wanita yang baru saja kehilangan janinnya itu menangis dan meracau sampai ia letih dan tertidur sendiri dengan posisi duduk dalam pelukan adik iparnya.


__ADS_2